Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali Ke Lingkaran Kendali

  Apa yang bisa kamu lakukan, itulah yang seharusnya kamu perhatikan. Tak seharusnya kamu menaruh perhatian besar pada apa yang berada di luar kendalimu. Sistem pendidikan adalah salah satu yang berada di luar kendalimu. Maka, tak perlu gusar dan cemas akan sistem pendidikan yang tak sesuai dengan harapanmu. Masih ada banyak hal, yang berada di dalam kendalimu.  Nah, ini saatnya untuk kembali ke lingkaran kendali. Menikmati momen. Hangat matahari. Angin sepoi-sepoi, dan kecantikan istri. Mari nikmati rasa kantuk saat Jumatan; nikmati bias cahaya cemerlang yang terpantul dari dinding-dinding rumah; nikmati kabut yang sayup-sayup terlihat berbaur dengan kerlip lampu malam yang keemasan. Nikmati bebunyian yang mampir ke ruang dengarmu. Nikmati otot-otot pegal yang datang pelan-pelan saat ada yang bersandar padamu.  Kembali ke lingkaran kendali adalah kembali memasuki ketenangan; kembali memancarkan keceriaan; kembali menjadi tumpuan; kembali kepada ketangguhan. Jika hidup me...

Perjalanan

Aku menikmati rasa kagum pada pepohonan. Ini bukan hal yang aneh kukira. Orang punya kekagumannya masing-masing. Pepohonan acap jadi tempat parkir untuk kegelisahan dan keraguan. Mungkin sebab mereka tak menawarkan apa pun. Aku lebih percaya pada pohon-pohon yang akar-akarnya selalu bersetia pada tanah.   Aku membuang semua rahasiaku pada daun dan batang-batang pohon yang lantas menguburnya di dalam tanah. Kata siapa pepohonan berfotosintes dengan menyerap nutrisi dari tanah. Tidak, kawan. Pepohonan menyerap kegelisahanmu dan mengolahnya menjadi kesejukan yang kamu hirup ke dalam dadamu. Mereka menghidupi kita.  Bagaimana aku menjelaskannya padamu itu mungkin tidak penting. Tapi, aku selalu merasa tak menemukan kesalahan pada tanaman-tanaman yang tumbuh di pinggir jalan, di taman-taman, atau di mana pun. Semua tampak pas dan serasi. Bahkan ranting-ranting yang mengering yang disinggahi burung-burung kutilang atau emprit kaji.  Aku rasa, selama ini pepohonan menawarka...

Kupu-Kupu Kertas

Kupu-kupu kertas. Sebuah lagu yang masih kudengarkan hingga sekarang. Itu bukan lagu yang lahir saat aku remaja atau saat masa SMA. Bukan. Bisa dikatakan lagu ini jadul. Aku mulai sering mendengar lagu ini saat kuliah. Aku lupa awalnya kapan. Yang jelas lagu ini sering aku dengar saat kuliah. Selain lagu ini aku juga sering mendengar lagu-lagu lain Ebiet G Ade. Ada semacam kerinduan syahdu yang mengendap di dalam perasaanku yang aku sendiri tak tahu kerinduan macam apa itu. Yang kurasakan adalah sebuah kenikmatan kenangan saat dulu aku sering sendirian. Mungkin karena lagu-lagu ini sering aku dengar saat dulu aku menikmati kesepianku. Aku suka menikmati hal-hal yang sederhana seperti suara rintik hujan atau petikan gitar saat aku sendirian atau dedaunan di rantingranting pohon yang tertiup angin sebab semua itu entah mengapa membuatku tenang. Betapa melankolis. Bagiku, lagu-lagu Ebiet membangkitkan satu kesenduan tapi sekaligus hasrat untuk meromantisasi keadaan. Hasrat meromantisasi k...

Rumah

Rumah itu apa? Pertanyaan yang sepele tapi bisa menyeret siapa saja ke ranah filosofis. Untuk semua orang. Jawabannya bisa rumit, bisa juga sangat sederhana. Rumah bagimu adalah tempat untuk kembali setelah kamu berjibaku dengan berbagai hal, yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Rumah idealnya adalah tempat ternyaman di mana kamu bisa benar-benar menjadi dirimu sendiri. Memikirkan rumah membawamu pada konsep tempat atau ruang. Ini karena secara konvensional rumah memang bisa diartikan tempat tinggal. Namun, apakah kamu tidak mau memperluasnya dengan hal lain selain yang berkaitan dengan konsep ruang? Misalnya apa? Kamu tanya misalnya? Waktu, mungkin. Nah, mari diskusikan ini. Rumah dalam pengertian waktu mungkin bisa dimaknai sebagai suatu waktu saat kamu bisa menikmati momen yang terjadi saat itu. Impresi. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana kamu mempersiapkan rumah untuk anakmu.

Kecemasan

Anakmu belum juga lahir sampai hari ini. Hari ini adalah HPL terakhir yang disampaikan dokter. Tapi, anakmu belum juga lahir. Pertanyaan yang sebenarnya adalah, apakah kamu sudah benar-benar siap menjadi seorang ayah? Apa yang sudah kamu persiapkan? Sesungguhnya seseorang tak mungkin benar-benar siap menjadi seorang ayah sebanyak apapun yang telah dia persiapkan. Menjadi seorang ayah kukira adalah sebuah proses panjang yang tak bisa disiapkan seperti kita menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng. Anakmu akan punya pemikirannya sendiri dan dia juga akan berproses menjadi dirinya sendiri. Dalam proses itulah kamu berperan mendampinginya. Kamu berperan membimbingnya menemukan rumahnya sendiri. Rumah adalah tempat dan waktu yang bersekutu membuatmu mampu menjadi diri sendiri, merasa nyaman dengan apa adanya dirimu. Bagaimana kamu menyediakan rumah yang seperti itu untuk anakmu? Istrimu saat ini tentu saja sangat khawatir. Sampai saat ini bayi dalam kandungannya belum juga keluar. D...

Di Halaman Rumah

Bendera yang berkibar. Matahari sore dan kemilau daun-daun yang terkena cahaya kuning. Cicit anak ayam. Tekukur di kejauhan. Hari kemarin sudah hilang. Hari ini pun akan sama juga. Sebuah anime tentang ingatan. Mungkin, kalau kau sudah tua nanti, hanya ingatan yang kau punya. Itu pun jika kau punya. Kenapa tak membuatnya saja, kenangan itu? Sapu lidi. Ingatan akan sebuah cahaya keemasan di langit sore, langit sebelum malam di salah satu sekolah di Dawuhan. Ingatan tentang kesyahduan gambaran hujan dekat lampu jalan, yang sebagian daerah pandanganmu sudah gelap. Garis-garis hujan yang seperti ribuan jarum tertata lurus itu. Sekarang. Lagu yang dinyanyikan televisi, yang tentu kalah dengan lagu yang dinyanyikan langsung oleh seseorang. Kemampuan menikmati momen yang hilang pada dirimu. Apakah kamu masih belajar? Apakah saat ini kamu masih belajar? Handuk yang tergeletak di kasur. Sarung yang tak dipakai dengan semestinya dan sajadah yang sudah tergelar namun hanya kau duduki saja. Ada ju...

Dunia Orang Lain

Kamu tak pernah tahu dunia seperti apa yang ada dalam pikiran orang lain sebelum kamu menyelaminya. Dunia dalam pikiranmu saja kadang buram dan tak mampu sepenuhnya kamu pahami. Buat apa menghakimi orang lain dengan kata-kata, “Kasihan, ya dia!” atau “Enak banget hidupnya.” Orang yang kamu pandang perlu dikasihani bisa saja memandangmu seperti kamu memandangnya, bahwa di matanya kamulah yang perlu dikasihani. Seorang yang tak punya rumah berjalan di depan toko sambil membawa kayu panjang, ember, dan kain. Mbah berkata orang itu berjalan dari satu daerah ke daerah lain dan tidur entah di mana. Dia bukan orang gila. Dia hanya tak punya rumah. Itu membuatmu merenungkan apa sebenarnya yang ada di kepalanya. Sedang memikirkan apakah orang itu? Apakah dia bahagia? Apakah dia punya tujuan? Dunia seperti apa yang ada dalam kepalanya? Apakah kamu bisa mengintip dunia di dalam kepala orang lain? Mungkin saja bisa. Meski hanya sedikit yang bisa kamu lihat, tapi itu cukup menarik. Minggu, 21 Agust...

Selalu Ingin Sempurna

Tak apa bila hidupmu tak sempurna. Tapi, kamu selalu ingin sempurna. Hidup tidak menyediakannya untukmu. Meskipun kamu mencarinya, kesempurnaan menurut versimu tidak akan pernah kamu temukan. Dunia sudah sempurna sebagaimana adanya. Perspektifmulah yang tidak sempurna yang membuat kamu menderita. Dunia akan tetap jalan dengan atau tanpa penilaianmu. Kendali diri, kendali terhadap respons yang bisa kamu berikan untuk lingkunganmu. Satu kenikmatan kecil yang masih terus bisa kamu nikmati, melihat struktur pohon yang tumbuh di atas tanah. Yang menjulang tinggi atau yang tumbuh rendah. Yang menempel di bebatuan atau yang merambat di ranting kering. Mungkin kamu seharusnya jadi ahli botani. Kamu yang selalu mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan cepat dan mudah. Menggunakan sesedikit mungkin upaya untuk meraih hasil yang sebesar mungkin. Tapi, akhir-akhir ini kamu sering mengkhayal. Mengkhayalkan hal-hal yang jelas-jelas tak mungkin terjadi. Rasanya, itu menyenangkan. Tapi sesungguhnya...

Permasalahan di Madrasah

Ada beberapa masalah yang saat ini menerpa madrasah tempatmu bekerja. Masalah itu antara lain ada guru yang mengundurkan diri, sedikitnya siswa baru yang mendaftar, dipotongnya anggaran pendapatan pada dana BOS, kebersihan madrasah yang sulit dijaga, gosip yang membuatmu tidak nyaman, kurangnya kedisiplinan dan integritas, komunikasi yang kurang sehat dan cenderung tertutup, distribusi tugas yang tidak merata, dan krisis kepemimpinan. Bagaimana mengatasi masalah-masalah ini? Tentu bukan tugasmu memikirkannya. Tapi, tidak ada salahnya mencoba berpikir secara rasional untuk mencari solusi atas masalah-masalah itu. Sepertinya cukup asyik. Baiklah, mari kita mencoba mencari solusi untuk masalah yang pertama, yaitu adanya satu guru yang mengundurkan diri. Pengunduran ini membawa satu masalah yaitu kurangnya guru kelas di madrasah tempatmu bekerja. Saat ini, jumlah guru yang aktif di madrasahmu sebanyak 9 guru termasuk kamad. Dengan mundurnya salah satu guru, maka jumlah guru di madrasah tem...

Pernikahan

Saya menikah pada 31 Juli 2021. Sampai hari ini, kurang lebih sudah sembilan bulan saya berumah tangga. Saya ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan pernikahan saya dan menjawabnya secara jujur. Apa yang kamu rasakan terhadap pernikahanmu? Apa yang kamu pikirkan ketika melihat istrimu? Apa yang kamu takutkan dalam rumah tanggamu? Apa yang kamu harapkan dalam keluargamu? Bagaimana keadaan ekonomimu saat ini? Bagaimana penyaluran hobimu saat ini? Apa yang sudah kamu lakukan untuk pernikahanmu? Apakah kamu bahagia? Apa yang kamu inginkan? Apakah kamu memahami istrimu? Mengapa kamu mempertahankan pernikahanmu? Apa rencanamu untuk lima tahun ke depan?

Menikmati Momen Apapun Itu

Aku ingin menikmati momen saat ini: menikmati angin yang berembus menerpaku saat sedang naik motor, menikmati lanskap pepohonan dan rumah-rumah di kejauhan, menikmati biru langit dan awan putih keabuabuan yang berarak di atasku. Banyak hal bisa kunikmati tanpa banyak usaha kukeluarkan. Citraan penglihatan terbentang luas di hadapanku. Begitu juga dengan pendengaran. Ada begitu banyak suara-suara di sekitarku: kicau burung, obrolan manusia, desau angin, deru kendaraan, bakhan detak jantung. Itu baru hal-hal yang bisa kudengar dan kulihat, padahal masih ada yang bisa kurasakan, kusentuh, bahkan kubaui. Tekstur makanan yang aku kunyah dalam mulutku adalah salah satu contohnya. Biasanya, aku mengunyah dengan cepat dan langsung menelan makananku. Aku tak merasakan teksturnya. Rasa asli dari makanan yang aku kunyah juga sebuah kenikmatan. Suhu udara yang berubah-ubah yang membuat tubuhku merasakannya serta segala jenis aroma yang mampir ke hidungku adalah kenikmatan yang hanya bisa kunikmati...

Pusat Pikiran

Saya baru saja membaca satu tulisan pendek tentang pusat pikiran. Pusat pikiran memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu dan pada akhirnya memengaruhi cara seseorang bersikap dan bertindak. Ini sebenarnya mirip dengan apa yang pernah saya baca perihal nilai-nilai hidup. Seseorang sebenarnya entah sadar atau tidak selalu punya nilai-nilai yang mereka hidupi. Nilai yang mendasari hampir semua perbutan mereka. Kembali ke soal pusat pikiran. Di tulisan itu, si penulis mencontohkan salah satu pusat pikiran seorang manusia: sex. Orang yang pusat pikirannya adalah sex maka pandangannya tentang dunia di sekelilingnya juga akan berpusat pada sex. Misalnya, ia melarang istrinya keluar rumah karena takut lelaki lain akan menjadikan istrinya sebagai objek sex. Itu sebenarnya adalah cerminan pikirannya sendiri. Tulisan itu membuat saya memikirkan apa sebenarnya pusat pikiran atau nilai yang selama ini saya hidupi. Apa yang mendasari semua hal yang selama ini saya lakukan. Apakah saya hanya hidu...

Rinai Hujan di Depan Rumah

Bunyi tak-tak air yang menghantam cor-coran jalan. Hawa dingin yang menjalar. Langit putih. Istri masak pisang goreng. Kurang apa lagi? Suara motor menderu membelah hujan. Aroma kopi yang mengepul. Rasanya, tak perlu tambahan apa-apa lagi untuk bahagia. Tapi, memang begitu. Bukankah memang kita bisa bahagia tanpa perlu apa-apa selain diri kita sendiri? Ada buku-buku yang belum selesai dibaca. Tapi, bukankah ada banyak hal yang juga perlu dibaca? Agar-agar hijau yang belum selesai dimakan. Pisang belitung yang menggantung di dinding. Kipas angin yang diam. Dingin masih terus meruyak udara. Aku duduk dan mendengar televisi ngoceh soal gizi. Istri datang dengan pipnya yang hangat. Apa lagi yang kurang? Sore yang sempurna. Namun, aku tiba-tiba teringat mamak. Aku teringat orang-orang di desaku. Sedang apa mereka, ya? Apakah di sana juga hujan?

Medan Juang

Tepat Waktu Jadi orang yang tepat waktu sangat menyebalkan di negeri ini. Sudah berkalikali kamu datang ke sebuah acara secara tepat waktu dan yang terjadi justru kamu harus menunggu lama. Acara yang dijadwalkan jam 8 tapi baru dimulai jam 9. Sudah begitu, masih harus mendengarkan sambutan-sambutan yang membosankan. Kalau isi sambutan itu penting, masih mending. Sudah membosankan, tak penting pula. Para penyambut itu juga bicara omong kosong soal integritas. Apanya yang integritas kalau terhadap waktu saja tidak bisa menghargai. Gak heran, untuk urusan teknikal meeting saja bisa sampai seharian. Coba kalau tepat waktu dan pembicara tidak ngomong ngalor ngidul gak jelas, mungkin Cuma butuh waktu satu atau dua jam saja cukup. Ya, tapi begitulah. Banyak orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan cita-cita organisasinya. Medan Juang Sampai saat ini, saya masih belum juga tahu medan juang seperti apa yang sebaiknya saya geluti. Rasanya tidak ada sesuatu yang sedang saya kejar. Hidup lempe...

Hubungan dengan Pasangan

Sekarang kamu sudah punya seorang istri. Kamu bukan lagi bujangan yang memutuskan segala hal dengan pertimbangan egomu saja. Ada ego istrimu yang harus kamu pertimbangkan. Istrimu punya pemikiran. Dia punya idealnya sendiri. Saat ini, kalian hanya menjalani pernikahan kalian apa adanya. Kamu sesekali memikirkan istrimu. Mungkin dia juga sesekali memikirkanmu. Kalian menjalani rutinitas biasa setiap hari: bangun pagi lalu mandi dan mencuci baju; sarapan pagi berdua; berangkat ke kantor lewat jalur yang sama; mengajar di kelas masing-masing; pulang ke rumah, sesekali beli jajan di jalan; tidur siang yang melelahkan; menonton TV menjelang maghrib; makan malam, kadang berdua, kadang bareng-bareng; main HP sampai malam, kadang mengerjakan tugas kantor; dan yang terakhir tidur bareng. Rutinitas ini berulang. Mungkin akan berulang bulan ke bulan, tahun ke tahun. Begitu terus. Apakah dalam rutinitas itu ada pertumbuhan? Apakah rutinitas itu membuat hubungan kalian semakin erat? Apakah kalian j...

Perjalanan

Apakah hidup seperti perjalanan? Perjalanan seperti apa? Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka apa yang paling penting dalam sebuah perjalanan? Memikirkan orang lain? Apakah penting? Memikirkan apa yang sudah kamu lakukan? Memikirkan medan juang yang sedang kamu hadapi? Memikirkan tentang Tuhan? Apa yang sebaiknya kita pikirkan? Pikirkan? Rumuskan? Uji coba! Pikirkan ulang? Rumuskan ulang. Begitu terus sampai ketemu titik. Sampai kamu tahu bahwa kamu sudah berkembang. Pikirkan tentang pemikiranmu juga.

Menulis Yang Baik-Baik Saja

Panas di punggung dan rasa pegal di kaki. Mengantri. Sepatu yang kusam tak pernah disemir. Keinginan menjelajah lewat buku-buku bagus. Masa-masa itu sudah usai. Mungkin. Tapi, sesekali aku masih bisa mengunjunginya. Tanpa totalitas yang membuatku tenggelam, rasanya sungguh sangat berbeda saat aku tenggelam dalam lembar demi lembar cerita petualangan. Aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan muskil tentang banyak hal. Rasanya seperti ceracau yang membuatmu gila. Tapi begitulah hidupku sekarang. Mungkin memang hidupku sejatinya bukanlah untuk aku sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitarku. Tanggung jawab yang kian besar. Pertanyaan apakah aku bisa mencintai mereka dengan sepenuh perasaan dan pikiranku kadang menggangguku. Aku ingin mengenyahkan pertanyaan itu dan menjalani saja hidupku tanpa rasa takut atau penyesalan. Begitulah terus. Rencana-rencana tak kunjung kesampaian. Biar begitu, manusia terus-terusan membuat rencana. Dan aku pun demikian. Manusia memenuhi dunia ini dengan ren...

Malam Ini Ingin Menulis Puisi Lagi

Malam ini. Aku ingin menulis puisi. Tapi tak bisa. Aku ingin menulis tapi tak bisa menulis padahal aku sedang menulis. Mengapa seperti ini? Ada banyak hal yang aku perhatikan. Tidak! Bukan kuperhatikan, melainkan melintas sejenak di hidupku. Hingga malam yang sunyi tiada apa pun kecuali bunyi dengung nyamuk. Aku ingin sendirian. Tapi aku takut kesepian. Ikatan yang kita bangun ini? Apakah ini sepadan. Apakah setiap sesuatu harus ada ukurannya. Rugikah? Untungkah?

Membaca

Kamu menjadi pengawas PAS hari ini. Udara pengap sebab masker yang kamu pakai menutupi sirkulasi pernafasanmu. Kamu membaca Perempuan di Titik Nol. Kamu sudah lama sekali tak membaca karya sastra. Hari-hari rasanya berat sekali. Padahal, kamu tahu bahwa apa yang kamu lalui ini tak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan yang diciptakan dunia ini. Panas matahari dan aliran pikiran yang tak sehat. Kamu menyadari semuanya. Yang sebenarnya lelah adalah pikiranmu, bukan fisikmu. Membaca Perempuan di Titik Nol seperti sebuah peristirahatan mental yang menyenangkan. Punggungmu kaku karena terlalu banyak duduk. Kakimu pegal. Kepala yang terasa berdenyutdenyut. Suara Azan berkumandang. Rasa lapar menyerang meski hanya samar-samar. Sepertinya anak-anak juga merasakan hal yang sama. Kantuk yang tak tertahankan. Soal-soal ujian yang tak relevan lagi. Kamu akan mati sebab belum ada obat untuk kematian. Atau, mungkin tidak akan pernah ada. Mata yang memandang lelah. Badan yang tergeletak di meja...

Sebuah Riwayat dan Catatan-Catatan Kecil yang Mengiringinya

Anjas Saraswati. Aku mengenalnya sejak aku bekerja di MI GUPPI Rakitan. Lama setelahnya, aku menikahi dia. Dia pernah bilang, pertama kali melihatku dia anggap aku ini sales. Dulu aku mendaftar di Madrasah memakai kemeja LingArt warna biru. Kalau kupikir-pikir memang aku seperti sales. Waktu itu, aku memang belum mengenalnya sama sekali. Aku tak tahu namanya dan tak tahu dia mengajar kelas berapa. Aku dikenalkan secara sekilas pada guru-guru lain di sana. Termasuk kepada Anjas Saraswati ini. Awal aku bekerja di sana, tentu saja masih malu-malu dan tak banyak berinteraksi dengan rekan kerja. Dia juga seperti itu. Maksudku, dia tidak berusaha untuk menyapaku atau mengajakku mengobrol. Untuk sementara aku mengajar olah raga dan matematika kelas enam. Selesai mengajar aku hanya duduk di mejaku. Mejaku ada di barisan paling depan. Mejanya, di baris kedua dari belakang. Posisi dudukku membuatku sulit menghafalkan satu persatu nama-nama guru di sana. Tapi, toh lama-lama akan kenal juga. Aku m...

ANBK di MTs Muhammadiyah Petambakan

Assessment Nasional Berbasis Komputer (ANBK) MI GUPPI Rakitan dilaksanakan di MTs Muhiba Petambakan. Peserta ANBK adalah siswa kelas 5 yang berjumlah 20 siswa. ANBK dilaksanakan selama dua hari dengan pembagian dua sesi setiap harinya. Satu sesi diikuti oleh 10 siswa. Peserta sesi pertama diantar langsung oleh orang tuanya ke MTs sedangkan peserta sesi kedua dijemput dengan mobil antar-jemput milik MTs. MI GUPPI Rakitan sebenarnya sudah pernah mencoba melaksanakan ANBK secara mandiri di madrasah. Namun, karena fasilitas yang belum memadai, terpaksa kami menumpang di MTs Muhiba Tambakan. Kami beruntung masih diberi kesempatan untuk menumpang di MTs, pasalnya tak hanya MI GUPPI Rakitan saja yang menumpang di MTs. Ada juga MI lain seperti MI Muhammadiyah Tambakan dan MI Rejasa. Kami berharap pelaksanaan tahun depan harus sudah di MI GUPPI Rakitan. Anak-anak akan lebih mudah berlatih ANBK jika diadakan di madrasah sendiri. Wali murid juga tidak terlalu kerepotan saat menjemput anak-anaknya...

Syukur

Hari ini, kamu masih bisa merasakan dinginnya pagi, artinya kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kamu masih bisa menulis. Kamu masih bisa membangunkan istrimu. Menikmati segelas air putih yang sejuk dan segar di pagi hari juga masih bisa kamu lakukan. Kamu masih bisa menjalankan ibadah solat subuh. Kamu masih diberi mimpi dalam tidurmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk berpikir, yang menandakan eksistensimu. Kamu masih bisa mendengar kicauan burung meski itu burung dalam sangkar. Kamu masih mendengar deru kercak air di kolam ikan depan rumahmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk melihat lagi dunia ini. Ini semua adalah salah satu kemampuan menikmati momen yang sangat penting untuk kamu syukuri. Kamu juga harus ingat bahwa untuk bersyukur kamu tak perlu mengaitkannya dengan orang lain. Kamu hanya diminta mensyukuri apa yang kamu punya dan apa yang kamu rasakan. Jika ada orang lain di luar sana yang kondisi duniawinya lebih buruk darimu, itu bukan alasan untuk kamu be...

Mengalir Seperti Air

Istrimu ingin sekali punya anak. Kamu juga. Tapi, hal-hal seperti itu tak selalu ada dalam kendali kita. Bisa saja kamu sudah berusaha, tapi masih saja belum dikaruniai anak. Punya anak bukan seratus persen ada dalam kendali kita. Tapi bukan pula berarti tak ada yang bisa kita lakukan. Kita bisa fokus pada hal-hal yang masih bisa kita lakukan, misalnya bersanggama secara teratur. Istrimu rajin menonton video-video terkait dengan bagaimana caranya cepat hamil. Dia melakukan saran-saran yang ada di sana. Dia melarangku minum kopi. Dia minum susu prenagen. Dan banyak lagi. Semuanya hanya demi satu tujuan, punya anak. Kamu sebenarnya tidak terlalu khawatir tentang anak. Orang-orang bilang anak itu sebenarnya hanya titipan. Kalau tidak dititipi atrinya tidak akan direpoti soal anak. Sangat sederhana. Kamu bahkan tidak tahu apakah hidup ini sebenarnya bermakna atau tidak. Mungkin bagimu tidak masalah. Tapi, kamu tidak hidup sendirian di bumi ini. Kamu hidup dengan istrimu. Maka, sudah menjad...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Menafsirkan Diamnya Istri

Sejak bangun tidur hingga menjelang zuhur istriku hanya memproduksi beberapa kata saja. Tentu ini aneh karena biasanya dalam sehari entah berapa ribu kata atau bahkan mungkin berjuta-juta kata akan ia produksi. Aku tak mendapat respos apapun saat mencoba menyapanya. Saat aku keluar kamar untuk cuci muka, kulihat dia sedang membuat kopi untukku. Ditaruhnya kopi itu di meja makan tanpa bilang apaapa. Karena tak bilang apa-apa aku jadi ragu apakah kopi itu memang benar-benar untukku, sebab aku tinggal bersama mertua yang juga suka minum kopi. Alhasil, kubiarkan saja kopi buatan istriku dingin di atas meja. Aku beraktivitas seperti biasa. Ini hari Minggu. Aku merapikan kamar: melipat selimut, menata bantal dan guling, merapikan seprei, dan menata boneka-boneka istriku. Aku juga menata buku-buku serta kertas-kertas yang berserakan, menata meja rias istriku, dan menata pakaian di lemari baju. Setelah semuanya beres, aku menyapu lantai kamar hingga kolong ranjang. Istriku hari ini punya banya...

Komunikasi Langsung

               Berbicara langsung dengan orang lain bagi banyak orang adalah hal yang sangat biasa. Saking biasanya, orang-orang tak merasa perlu untuk latihan. Namun, bagi orang introver, komunikasi langsung seperti itu bisa jadi sangat sulit, terutama ketika apa yang akan disampaikan adalah hal yang penting; yang tadinya bisa langsung mengungkapkan tanpa persiapan, kini perlu persiapan, ada yang tiba-tiba jadi grogi, dan kadang ada perasaan sungkan yang mengganjal. Komunikasi langsung yang mengharuskan dua orang bertatap muka dan mengungkapkan pikirannya kerap kali bukan pilihan orang-orang introver. Meskipun begitu bukan berarti mereka tak menginginkannya sama sekali. Mereka kadang kagum dengan orang-orang yang dengan mudah dapat berterus terang mengungkapkan pikirannya dan mereka diam-diam juga ingin bisa seperti itu.                Aku juga ingin seperti itu: mampu berkomunikasi dengan baik da...

Menikmati Subuh

Menikmati Subuh                Pagi ini dingin. Setelah solat subuh aku naik ke atas rumah untuk menikmati subuh. Sayup-sayup kudengar pengajian dari masjid di dusun lain. Ada pula suara-suara serangga pagi yang beraneka ragam.                Langit mendung. Semalam hujan rintik tak hentihentinya mengguyur bumi ini. Aku bersyukur atas apa yang masih kumiliki hari ini. Aku masih bisa mencium wangi masakan yang menguap menembus atap-atap rumah warga. Kulitku masih merasakan dingin dan sejuk. Telingaku masih jernih mendengar suara-suara alam. Mataku masih bisa melihat langit. Pikiranku masih dapat kugunakan. Aku masih punya kesempatan menulis. Apalagi yang kurang?                Terkadang, manusia sibuk mengejar apa yang tak ada di genggamannya dan melupakan apa yang sudah ia punya. Seorang pasangan berselingkuh sebab melihat ada yang lebih cantik, lebih ga...

Mie Ceker Rebus

Malam ini istri masak indomie rebus. Ada ceker di kulkas. Sekalian aja dicampurin. Dia potong-potong ceker itu kecil-kecil. Tambah daun bawang dan cabai rawit. Dia senang makan pedas. Tapi, perutnya kalah kuat denganku. Buatku, dia masak indomie aceh. Gak pakai ceker, si. Susah kalau Indomie goreng pakai ceker. Kalau kuah, cekernya bisa ikut direbus sekalian. Tapi, karena ini goreng, jadi susah. Akhirnya kami sepakat untuk berbagi ceker. Maksudnya, aku icip-icip ceker di indomienya. Hehe. Malam-malam hujan rintik. Dingin dan sayup-sayup terdengar solawatan di kejauhan. Seseorang melintas depan warung saat aku mengambil buah naga. Buah yang tak diaukainya. Dia pernah icip buah naga seujung sendok dan langsung muntah-muntah. Seperti biasa aku selalu banyak pikiran. Entah hujan entah tidak, tetap saja aku banyak pikiran. Dari pada banyak pikiran gak jelas, lebih baik makan indomie anget-anget buatan istri. Sambil menunggu istri selesai masak indomie, aku corat-coret saja di sini. Kalau di...

Kado Pernikahan dari Teman Lama

Sabtu, 30 Oktober 2021  Kang Hasan WA minta alamat rumah. Katanya, mau kirim paket. Belum sempat kubalas WA itu, Kang Hasan sudah kirim gambar paket yang siap dikirim. Di sana terpampang alamat rumah saya. Sehari kemudian paket itu sampai di rumah. Isinya kaligrafi atau apalah namanya itu, bertuliskan nama saya dan istri. Bentuknya bagus banget. Langsung saya pasang di dinding. Matur suwun, Kang Hasan, atas kado yang sangat indah ini. Sukses selalu buat Kang Hasan dengan karya-karya yang luar biasa.

Membuat Sebuah Keputusan

Oktober tahun lalu, kamu diterima bekerja di SMP N 3 Banjarnegara. Ada perasaan senang sekaligus takut tak bisa menjalankan tugas dengan baik. Hari ini sudah satu tahun lebih kamu mengajar di sana. Banyak pengalaman sudah kamu dapatkan. Kesalahan-kesalahan pasti telah kamu lakukan, baik kepada siswa maupun kepada guru lain, baik disengaja maupun tak disengaja. Kamu pernah mengajar kelas 8, menjadi wali kelas, mengikuti lomba, membimbing siswa lomba, menjadi anggota pembina UKS, menjadi anggota SKL, membantu pelaksanaan PPDB, dan banyak pengalaman lainnya. Pengalaman-pengalaman ini harus menjadi satu pengalaman yang menimbulkan perubahan pada dirimu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Hari ini, kamu membuat keputusan untuk meninggalkan pekerjaanmu sebagai guru di SMP N 3 Banjarnegara. Apa yang membuat kamu mengambil keputusan ini? Mari kita lihat apa saja yang membuatmu mengambil keputusan ini. Ada banyak alasan. Alasan idealis, misalnya: kamu merasa tak bisa jadi guru yang baik. Meng...

Memperbarui Diri

Gerak laju waktu tak bisa dihentikan. Hanya di film-film fiksi hal itu bisa terjadi. Waktu membawa serta perubahan. Dan perubahan menggilas hampir semua hal yang tak mau berkembang. Tak ada ampun. Pun demikian dengan profesi guru. Hari ini guru bukan lagi sumber utama pengetahuan. Setiap orang kini bisa mengakses sendiri ilmu pengetahuan dan mempelajarinya. Manusia telah menciptakan alat-alat canggih yang berguna untuk membantunya mempelajari hampir apa pun yang dia mau. Sudah sejak lama di dengung-dengungkan bahwa menyuruh anak-anak untuk menghafalkan materi pelajaran, atau sekadar mendengar guru berceramah tentang materi pelajaran adalah cara kuno dan ketinggalan zaman. Hari ini paradigma pendidikan sudah berubah. Dahulu tugas guru adalah mengajar. Ini berarti bahwa siswa bertindak pasif dan hanya sebagai objek. Hari ini, tugas guru adalah melaksanakan pembelajaran. Kedengarannya hampir sama. Tapi, pembelajaran punya arti yang lebih baik. Pembelajaran artinya adalah proses belajar ak...