Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pendidikan

Menjaga Anak Perempuan

Hari ini, aku mengunjungi rumah siswa putri yang sudah lebih dari satu minggu tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Rumahnya di Desa Pekauman RT 02 RW 01 Kec. Madukara, Kab. Banjarnegara.  Aku berangkat setelah jam istirahat berakhir. Ditemani Alta, guru BK di sekolahku, aku berkendara pelan dari MTs N 2 Banjarnegara ke arah timur. Cuaca panas dan jalanan berdebu serta rusak di sana-sini.  Kami tiba di rumah siswaku sekitar pukul 10.30. Rumahnya cukup besar. Halamannya luas. Sekilas aku bisa menilai kalau orang tuanya cukup mampu. Maksudku tak kekurangan materi.  Kami disambut oleh neneknya yang ternyata seorang pensiunan guru. Neneknya minta maaf karena cucunya membuat kami repot sehingga perlu bersusah-susah datang ke sana. Tantenya membuatkan kami teh hangat dan menyuguhkan makanan ringan.  Saat kami akan menyampaikan maksud kami kepada neneknya, dia tidak mau. Dia bilang lebih baik bicara langsung saja kepada ibunya. Kami terpaksa menunggu ibunya yang ternyata se...

Catatan Pengamatan Terhadap Para Peserta Ujian

Hari ini hari terakhir saya menjadi pengawas ujian di salah satu sekolah di Banjarnegara. Ini adalah catatan saya tentang para pesertanya, yang tak lain adalah para siswa di sana. Saya mencoba mengamati mereka dan menyimpulkan karakter siswa-siswa itu. Saya tidak mengamati semuanya. Hanya beberapa anak yang menurut saya menarik perhatian.  Pertama, Ibrahim, siswa laki-laki yang terlihat seperti pengidap autis meskipun tak terlalu kentara. Saya menduga dia mengerjakan soal ujian sambil sesekali main game di ponsel pintarnya. Saya memang tak memiliki bukti sebab tak mampu memantaunya secara terus menerus. Saya bisa saja berdiri di belakangnya sampai ujian selesai. Tapi jika demikian, tentu saja dia tidak akan main game . Saya menyimpulkan demikian karena dia sering sekali memiringkan ponsel pintarnya seperti posisi saat digunakan untuk bermain game . Teman di sebelahnya, Ibnu, sering mengingatkannya untuk mengerjakan soal. Dia tentu tahu jika Ibrahim sedang main game . Ibrahim tipe ...

Pesta Siaga; Sebuah Renungan

Pesta Siaga kembali digelar di Lapangan Kenteng. Udara hangat. Awan menggerombol di sekitar matahari. Teduh namun sedikit silau. Anak-anak cadangan duduk di depan gedung panitia. Para peserta dari sekolah kami berlatih entah di mana bersama Kepala Madrasah. Persiapan upacara pembukaan. Gladi bersih sedang dilakukan. Para peserta dari sekolah lain sedang mendaftar. Punggung tangan dicap dengan stempel ungu. Ibu guru bergosip tentang lemahnya koordinasi. Matahari mulai muncul menghangatkan kami. Rumput hijau yang terinjak-injak. Para pedagang berpayung warna-warni. Balon udara warna-warni terbang ke angkasa. Lingkaran manusia peserta pesta siaga. Matahari sudah muncul. Sesekali tertutup awan. Lapangan hijau.  Doa dipanjatkan. Insiden uang kurang 100.000 apakah pihak bank kurang dalam memberikan uang atau memang sudah diambil dari gepokan satu jutaan? Masih mengantri cukup panjang untuk putra dalam taman kebudayaan. Masih enam antrian. Capung-capung terbang rendah di atas kepala para ...

Berpindah: Bersih, Rapi, dan Indah

Manajemen Dalam KBBI V kata ini artinya penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasran; dan pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan atau organisasi. Untuk tahu beres atau tidaknya sebuah manajemen dalam organisasi sebenarnya tak perlu muluk-muluk mempelajari ilmu manajemen. Kita bisa lihat dengan akal sehat saja. Kalau dari rumusan KBBI sudah jelas bahwa jika di tempat bekerja ada yang tidak beres dengan kedisiplinan para anggotanya, maka kemungkinan besar manajemennya bermasalah. Ada sumber daya manusia yang secara kuantitas sebenarnya mencukupi untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sekelas sekolah dasar. Bagaimana tidak, kami punya 9 orang yang bekerja di sekolah kami untuk mengampu 7 rombel. Jumlah ini tentunya cukup. Namun, sayangnya sumber daya manusia yang secara kuantitas cukup ini tak bisa dimaksimalkan perannya oleh pihak manajemen atau pimpinan. Ada beberapa orang yang sering sekali tak melaksanakan perannya dalam manajemen sehingga jalan...

Pesta Siaga dan Keresahan yang Kurasakan

Aku tahu bahwa maksud pelaksanaan pesta siaga bertujuan baik, yaitu sebagai sarana pembentuk karakter siswa. Namun, praktik yang kutemukan justru membuatku muak. Hal-hal yang membuat aku muak antara lain:  Pertama, di sekolah tempatku bekerja tak ada ekstrakurikuler Pramuka. Anak-anak hanya dilatih saat akan ada acara pesta siaga saja. Selain itu tak ada latihan apapun atau kegiatan apapun yang berkaitan dengan Pramuka. Serba instan. Inilah yang aku tak suka.  Kedua, fokus sekolah adalah meraih prestasi untuk mengharumkan nama sekolah. Itulah mengapa yang dipilih adalah anak-anak terbaik. Jika memang tujuan awal adalah pembentukan karakter harusnya siapapun yang ingin mengikutinya boleh-boleh saja diikutsertakan. Jika peserta yang boleh ikut dibatasi, paling tidak sekolah memfasilitasi anak-anak lain yang tak kebagian jatah dengan kegiatan lain yang juga fokus dalam pembentukan karakter.  Ketiga, latihan dilakukan saat jam pelajaran. Ini sangat mengganggu kegiatan pembela...

Memaknai Gelar Sarjana Pendidikan

Pengembangan diri sebenarnya tidak terbatas. Apalagi di era sekarang. Kita bisa mempelajari apa saja yang kita mau. Namun, kita sendirilah yang kerap membatasi kemungkinan-kemungkinan untuk terus berkembang. Memaknai Gelar Sarjana Pendidikan Aku mendapat gelar sarjana pendidikan tahun 2020. Perjuanganku mendapat gelar ini tentu tak seberat PLP para pahlawan mengusir penjajah. a mendapat gelar sarjana pendidikan sebenarnya hanyalah perjuangan melawan diri sendiri. Aku menaklukkan kantukku sendiri untuk bangun pagi-pagi mengetik skripsi. Aku menaklukkan rasa sungkanku agar bisa berwawancara dengan sumber-sumber dataku. Aku menaklukkan rasa lelahku untuk bisa pulang pergi Banjarnegara-Semarang. Aku menaklukkan rasa malasku yang suka menunda-nunda. Setiap orang sebenarnya sama saja dalam hal menaklukkan dirinya sendiri. Dan, aku berbangga dengan perjuanganku ini. Sudah empat tahun sejak aku dinyatakan menjadi sarjana pendidikan. Sekarang aku mempertanyakan lagi bagaimana caraku memaknai ge...

Ganti Kurikulum Artinya Bisnis Buku Lagi

Pagi pukul 06.45 aku sampai di madrasah. Kulihat beberapa siswa kelas 2 sedang mengeluarkan buku-buku paket dari kelas mereka. Mereka ditemani Bu Japar, seorang petugas kebersihan madrasah. Aku lihat buku-buku itu tidak basah sehingga membuatku bertanya-tanya mengapa buku-buku itu dikeluarkan dari rak kelas mereka. Biasanya, buku-buku itu dikeluarkan dari kelas dan dijemur jika kena air hujan. Maklum, beberapa ruang kelas sering bocor jika hujan terlalu deras. Tapi, tadi malam tidak hujan. Lantas mengapa buku-buku itu dikeluarkan?  Dari dekat tercium bau semut yang terasa pedas di hidung. Rupanya, buku-buku paket milik kelas 2 telah menjadi sarang semut. Telur mereka sangat banyak dan berwarna putih. Mengapa sampai menjadi sarang semut? Karena madrasah kami dekat dengan kebun salak dan di kebun itu juga ada pohon kelapa yang biasanya menjadi sarang semut. Pelepah salak maupun pelepah kelapa sering menjulur hingga menyentuh tembok kelas sehingga semut-semut kerap marambat masuk kela...

Sabtu, 22 Februari 2025

Aku banyak menghabiskan waktuku di depan layar dengan berselancar di Facebook dan Youtube. Masih sama seperti kemarin, informasi yang kudapatkan masih seputar "Indonesia gelap" atau "kabur aja dulu" yang memang sedang santer di media sosial. Sesekali, aku terjebak video-video singkat yang sangat menarik perhatian tapi hanya berlalu begitu saja. Ini seperti bayangan-bayangan pohon di kaca jendela kereta api yang melaju cepat. Tak membekas. Tak berefek positif pada hidupmu. Tapi, mereka ada. Pukul 00.40 selesai menonton anime. Masih saja tak bisa lepas dari media sosial. Entahlah apakah ini memang benar-benar tak bisa lepas, atau hanya kurangnya kemampuan saja.  Lagi-lagi entahlah. Aku benar-benar tak mengerti. Bukankah kita akan mati? Lalu, bukankah pada akhirnya semua ini akan benar-benar tak penting? Suara gemuruh di langit malam menggetarkan kaca jendela. Kesunyian dan bunyi serangga. Tubuh yang berkeringat. Udara hangat seperti pertanda akan segera turun hujan.  ...

Catatan Kilasan Pemikiran

Inferiority yang Kita Miliki Ternyata, menurut Ki Hajar Dewantara bangsa kita punya rasa rendah diri. Aku baca di buku yang memuat pemikiran-pemikiran Ki Hajar. Di sana tertulis pendapat Ki Hajar bahwa kala itu ia dan para pendiri Taman Siswa menggagas sebuah pendidikan yang berakar dari kebudayaan bangsa Indonesia dan harus berani meninggalkan cara-cara barat dalam menyelenggarakan pendidikan. Gagasan tersebut ternyata mendapat banyak penolakan dari bangsanya sendiri. Bahkan, gagasannya tersebut dianggap sebuah kemunduran sepuluh tahun dari jamannya. Bangsa kita tidak percaya dengan apa yang mereka miliki sehingga masih terlalu terpaku dengan cara-cara dari bangsa barat. Kalau kita tinjau dunia pendidikan kita hari ini, apakah menurutmu kita masih saja bermental inferior? Ya, jawabku. Kita terlalu silau dengan metode-metode pendidikan dari negara barat, sebut saja Finlandia. Kita atau barangkali lebih tepatnya pemerintah berusaha mati-matian mengadopsi gaya pendidikan Finlandia. Meski...

Selalu Ada Celah Untuk Korupsi

Meski hanya guru honorer, aku tahu jam kerja ASN. Pukul 07.00 seharusnya sudah berada di kantor dan baru pulang pukul 14.30. Namun, nyatanya ada saja ASN yang seenaknya sendiri. Dia sampai di sekolah sering kali lebih dari pukul 07.30, bahkan tak jarang dia sampai di sekolah pukul 08.00. Kadang ada saja alasannya, mulai dari beli lakban dulu, beli kertas, sampai macet segala, yang jelas sekali hanya alasan yang dibuat-buat. Yang membuat aku risih adalah dia sering terlambat tidak memandang situasi dan kondisi. Misalnya, di sekolah akan diadakan rapat dengan wali murid, eh, malah datang terlambat. Pernah sekolah kedatangan asesor serta pengawas, eh, dia datang terlambat. Padahal kedatangan mereka sudah dikabarkan lebih dulu. Lebih parahnya lagi, saat asesor bertanya perihal jumlah guru dan siswa di sekolahnya, dia gelagapan tak mampu menjawab. Sekolah kami yang awalnya terakreditasi A turun menjadi B. Ini membuat aku kehilangan rasa hormatku kepadanya sebagai kepala sekolah. Rasa hormat...

Tujuan Utama Pendidikan

  Puncak pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan. Anak-anak belajar sistem pernapasan supaya mereka mau menjaga kesehatan sistem pernapasan mereka sendiri. Mereka belajar matematika bukan untuk menghafal rumus-rumus melainkan agar menggunakannya dalam kehidupan dan terbiasa berpikir logis sistematis. Pengetahuan hanyalah dasar dari tindakan-tindakan kita.  Tindakan yang diulang-ulang terakumulasi menjadi kebiasaan, dan kebiasaan adalah elemen penting pembentuk seseorang. Kalau kebiasaannya baik, dia akan jadi orang yang baik.  Jika tujuan pendidikan adalah membentuk generasi muda menjadi generasi yang baik, tangguh, dan berguna, maka pendidikan sejatinya adalah tentang mendorong mereka memiliki kebiasaan ke arah itu.  Setidaknya, ada tiga unsur pembentuk kebiasaan yang saya ketahui: kemauan, pengetahuan, dan kemampuan. Kemauan adalah tentang motivasi, keinginan untuk melakukan sesuatu. Pengetahuan adalah paradigma teoretis, meliputi apa yang harus dilakuk...

Menjadi Guru MI GUPPI Rakitan

S udah Bagus Ngajar di SMP, Malah Pilih Ngajar di MI yang Honornya Pas-Pasan Tak lama setelah lulus kuliah, aku mendapatkan pekerjaan sebagai guru di madrasah ibtidaiyah. Aku mengajar matematika di kelas 6 dan sesekali mengajar olah raga kalau guru olah raga yang asli tidak berangkat.  Aku lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar matematika dan olah raga tentu tak sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Untungnya, dulu aku suka pelajaran matematika sehingga aku tak segan memelajarinya lagi agar bisa mengajarkannya kepada siswa-siswaku. Sedangkan untuk pelajaran olah raga, aku bisa belajar di YouTube sebelum mengajar siswa-siswaku.  Aku akan memilih pelajaran paling gampang menurutku, misalnya servis. Tak jarang, aku hanya mengajak mereka jalan-jalan mengitari beberapa dusun terdekat. Aku teringat dulu guru olah ragaku sering melakukannya juga dan seingatku itu sangat menyenangkan.  Mengajarkan mapel yang tak sesuai dengan latar belakangku tentu membuatk...

Melakukan Hal yang Memang Harus Kulakukan

Rasanya lega bisa melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Saat kau sudah berkomitmen pada satu hal dan mampu menjaga komitmenmu itu, rasanya sungguh melegakan. Meskipun aku tahu ini baru sebagian kecil saja. Hanya awal. Tapi, bukankah awal dari suatu hal bisa menentukan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Biasanya aku akan bertahan beberapa hari dengan semangat seperti ini. Tapi biarlah, tak mengapa jika aku kembali seperti dulu lagi. Asalkan aku tak berhenti mencoba. Bukankah begitu seharusnya? Sudah pukul 00.46 dan aku belum juga bisa terlelap.  Pikiranku mengembara ke mana-mana. Hari esok siapa yang tahu. Dan meskipun aku tahu benar hal itu, tetap saja aku memikirkannya. Bukan takut. Aku mungkin hanya bersemangat. Jika dipikir-pikir, di malam hari seperti inilah aku bisa berpikir. Memikirkan apa saja yang terlintas begitu saja di benakku. Tak ada distraksi. Hanya ada aku dan pikiranku saja. Mungkin aku perlu berlatih fokus memikirkan satu hal supaya suasana malam seperti i...