Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...

Januari yang Panjang

Kamis, 29 Januari 2026 Januari ini terasa panjang. Mungkin, karena uang tukin sudah dibayarkan pada Desember lalu. Bisa pula karena Januari memang panjang. Libur di dalamnya sedikit. Jumlah harinya sampai 31. Ya, Januari seperti Senin. Panjang dan melelahkan.  Kamis ini, aku mengawali hari dengan bangun pagi dan mandi cepat. Aku solat subuh berjamaah dengan badan segar meski pikiranku penuh dengan angan-angan. Aku mengangankan pekerjaan yang nyaman meski aku tahu semua pekerjaan mungkin akan membuatmu tidak nyaman. Pekerjaan apa, sih, yang nyaman itu? Udara pagi terasa dingin di kulit. Masih ada bintang di langit pagi ini. Aku dengan pikiranku yang beraneka ragam menghabiskan pagi yang sejuk. Aku berhenti dekat gang masuk rumahku setelah solat subuh. Udara pagi menyambutku. Segar rasanya. Aku kemudian berjalan pulang dan berhenti di depan rumah. Aku berdiri di jalan kecil depan rumah. Tanaman anggur sudah semakin panjang sulurnya. Pikiranku masih terus sumpek dengan pekerjaanku. Ap...

Tentang Mencoba

Sabtu, 24 Januari 2025 Aku sedang berada di rumah ibuku di Pucungsari. Angin sangat kencang bertiup merontokkan daun-daun. Kami di sini menyebut musim angin seperti ini dengan nama grobogan. Saat musim seperti ini, dahulu kala, ketika masih kecil, aku sering pergi ke kebun mencari buah-buahan yang jatuh atau ranting kering untuk kayu bakar. Aku mencoba membantu orang tuaku dengan mengumpulkan kayu bakar dari kebun-kebun warga. Di sini, kebun warga yang kumaksud masih seperti hutan. Ada banyak jenis pohon yang ditanam warga. Kebun mereka tidak monokultur seperti kebun-kebun modern. Ketika musim angin seperti ini, biasanya banyak pohon-pohon yang tumbang atau ranting-ranting kering yang berjatuhan. Aku dan teman-teman mengumpukannya untuk dijadikan kayu bakar. Kami menjelajah kebun-kebun warga, mencoba mencari apa saja yang bisa kami kumpulkan, dari jamur, kelapa kering, durian, melinjo, kopi, kayu dan apa saja yang menurut aturan tak tertulis boleh diambil. Kami anak-anak. Kami mencoba ...

Berkesadaran Bukan Reaktif

  Kamis, 22 Januari 2026 Apa yang kumaksud dengan berkesadaran dan bukan reaktif adalah bahwa apa yang kamu lakukan harus kamu pikirkan lebih dulu. Seperti hari ini, saat kamu memutuskan untuk ngegas di kelas 9E. Kadang ngegas seperti itu diperlukan jika dengan kelembutan tidak bisa mengondusifkan kelas. Kamu sudah memikirkannya dan artinya kamu tidak reaktif. Kamu memang perlu punya kemampuan seperti itu. Bukan untuk gaya-gayaan atau hal lainnya. Tapi untuk memastikan tidak ada hak yang dilanggar dalam kelas. Hak untuk belajar dengan tenang. Tapi, kontradiktif juga. Tapi, ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi. Saat ini, kamu belum nemu cara yang tepat. Kamu harus terus mencari cara yang tepat untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang baik. Dan, begitulah seharusnya seorang guru. Belajar adalah tugas pasti seorang guru. Mencoba mencari cara terbaik untuk mendidik anak adalah tugas seorang guru. 

Prediksi Nabil Benar

Senin, 19 Januari 2026 Setiap  kali Nabil ditanya apakah dedek bayi di perut ibunya cowok atau cewek, dia selalu menjawab cewek. Ternyata dia benar. Senin ini kami memeriksakan kandungan di Klinik Haryata dan hasil USG menyatakan bahwa janin dalam kandungan istriku berjenis kelamin perempuan. Sesuai dengan prediksi Nabil.  Kami mengantri cukup lama. Kami dapat antrian nomor 5. Aku merasa sangat lelah saat menunggu antrian ini dan mata rasanya ingin terpejam saja. Di luar hujan deras menambah rasa ingin tidur dan melepas lelah. Aku tahu ini sudah resiko menjadi seorang pegawai. Meski lelah, aku lega bisa mengetahui bahwa janin dalam kandungan istriku tumbuh dengan baik. Detak jantung, berat badan, dan kelengkapan anggota tubuhnya baik, kata dokter yang memeriksa kandungan istriku. Ini membuatku merasa tenang dan senang tentu saja. Apalagi, kali ini janin itu perempuan dan terasa lengkap rumah tanggaku. Terima kasih, Tuhan.  Bobot janin di kandungan istriku sekitar 2,2 kg. ...

Minggu yang Santai

Minggu adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Aku menghabiskan enam hari kerja yang melelahkan sehingga Minggu seperti jeda yang sedikit menyembuhkanku dari luka mental akibat beban kerja. Menunggunya terasa sangat lama, tapi menghabiskannya terasa begitu cepat. Saat hari-hari lain kuakhiri dengan desahan lega, "Akhirnya selesai juga." Minggu kuakhiri dengan, "Besok sudah Senin lagi." Ya, begitulah.  Minggu ini tak banyak yang kulakukan di rumah. Aku bangun pagi seperti biasa, merapikan kamar, menyapu lantai, lalu duduk-duduk bersantai sambil menonton video-video di Youtube. Aku tidak mau Minggu ini kulewati begitu saja tanpa ada sesuatu yang bermakna. Jadi, kuputuskan untuk melakukan sedikit kesenangan.  Pertama, aku ajak Nabil jalan-jalan pagi. Rutenya adalah ke arah timur menuju jalan setapak depan Rumah Pak Warno, turun ke jalan setapak di sepanjang pinggiran kolam ikan, lalu naik tembus ke jalan depan rumah Dito. Dari sana, aku dan Nabil terus ke timur meli...

Mengarsip Kenangan

Sabtu, 17 Januari 2026 Sabtu ini, yang kulakukan di sekolah adalah membuat laporan SKP yang akan kuunggah di web absensi.kemenag.go.id. Di madrasah, kami mengadakan lomba solat duha berjamaah dengan peserta adalah setiap siswa di semua kelas. Kelasku maju urutan ke-4. Setelah itu, waktuku kosong cukup lama. Hari ini adalah hari yang santai. Aku mengunggah catatan-catatan harianku ke website. Suatu saat nanti, aku ingin membacanya kembali saat mungkin aku sudah tua. Ya, begitulah. 

Hari yang Sibuk

Jumat, 09 Januari 2026 Jumat, meskipun hari yang sibuk, aku cukup menyukainya. Aku memulai hari dengan mengajar di kelas 7H, berdiskusi dengan chatGPT tentang ide kokurikuler, piket MBG, dan mengajar di kelas 7G. Setelah itu, aku pulang, solat Jumat, lantas rebahan dan sesekali bermain dengan Nabil. Bu Lilli datang untuk mengambil minyak goreng pesanannya.  Saat sore, aku menyempatkan diri membuat jemuran dengan memanfaatkan bekas jemuran yang dulu pernah rusak. Aku mengaitkan tali ke ujung besi sehingga jemuran yang dulu rusak sekarang bisa dipakai kembali. Aku mandi dan menjalani sore seperti biasa hingga azan maghrib berkumandang. Aku menunaikan solat maghrib. Setelah itu, aku pergi ke Pucungsari untuk mengambil masakan uceng buatan ibuku. Tapi sayang, saat aku sampai di sana sudah habis karena sudah diberikan ke tetangga. Ibuku mengira aku tidak datang mengambilnya makanya dia berikan ke tetangga. Aku pulang membawa daun so dan sayur pare yang belum dimasak hasil kebun kecil di...

Pola yang Terulang

Kamis, 08 Januari 2026 Nabil makan kebab Berangkat bareng istri Hari ini aku mengajar di kelas 7I mengajar dengan puas memberi hadiah kepada siswa berdonasi makan MBG ikut rapat kokurikuler dapat tugas baru rasa bingung mau ngapain membuka laptop dan mematikannya lagi sebelum sempat menggunakan Tak jadi mengerjakan LKH dan LKB menunggu jam TKA perut yang sedikit lapar gelas yang kosong Perasaan yang membaik mau makan tapi tanggung lapar itu berbahaya SKP yang belum jelas juntrungannya Teringat yasinan Yasinan di rumah Bapak Had Ada anak seumuran Nabil Membahas Khataman tahlilan  Menonton YouTube sampai malam Sebuah pola yang terulang lagi Penyesalan Kita semua hidup dalam penyesalan, kan?  Apakah tidak ada yang sepenuhnya hidup tanpa penyesalan? 

Bertahan

Rabu, 07 Januari 2026 Ini adalah tumbuhan pepaya yang tumbuh di celah antara tembok pembatas sekolah dan gedung tinggi di sampingnya. Pada siang menjelang sore ini, aku masuk kelas 7J, melaksanakan jam tambahan TKA. Entah mengapa, aku suka melihat tumbuhan pepaya ini. Mungkin, ini karena kekuatan dari tumbuhan pepaya ini. Ia tumbuh di tempat yang sebenarnya sangat tidak ideal untuk tumbub. Diapit dua tembok, tentu ia kekurangan cahaya matahari. Namun, ia bisa tumbuh sampai setinggi itu. Daya hidupnya sangat tinggi. Entah mengapa aku merasa perlu belajar dari pohon ini. Ia tetap tumbuh berusahan mencapai tempat yang tinggi sambil menancapkan akrnya dengan kuat di celah-celah pondasi. Ya, bukankah seharusnya aku juga demikian? Aku harus menjadi orang yang kuat, punya daya juang, agar aku bisa tetap bertahan bahkan tumbuh dalam tempat maupun kondisi yang tidak ideal. Aku harus belajar bagaimana menerima keadaan yang tidak menyenangkan. Menumbuhkan ketahanan. Menyehatkan mental. Aku merasa...

Hari yang Berat

Selasa, 06 Januari 2025 Aku bangun pagi hari ini. Selasa adalah hari paling berat dalam Minggu kerjaku. Tapi, hari ini aku merasa cukup puas dengan pekerjaanku. Aku menyiapkan apa yang akan kuajarkan lebih dulu. Meskipun belum sempurna, aku menghadapinya. Setiap Selasa jadwalku penuh. Sebelum bel pelajaran pertama aku sudah harus mulai bertugas piket penyambutan siswa. Aku berdiri hampir setengah jam menyalami siswa yang berjalan dari gerbang sekolah. Kaki dan tangan sering kali sampai pegal. Belum masuk kelas saja, tangan sudah pegal. Setelah piket penyambutan siswa, aku mengajar di kelas 9J. Kelas ini cukup berat. Sebagian besar siswa tak mendengarkan penjelasanku. Aku belajar untuk memaafkan. Tak terlalu memikirkan mereka membuat energiku cukup tersimpan. Kelas 9I juga berat. Bahkan, meskipun aku belum pernah berteriak di kelas ini, kurasa dari enam kelas yang aku ampu, inilah kelas paling berat. Kelas paling enak adalah kelas 7H, mereka cenderung lebih bersahabat denganku meskipun ...

Ingat Semua yang Pernah Kamu Perjuangkan

Minggu, 04 Januari 2025 Aku mengawali hari ini dengan solat subuh berjamaah. Awal yang bagus. Aku mengingat saat-saat dulu berjuang kuliah. Udara dingin pagi hari terasa menenangkan hati. Surat Al-Insyiroh seolah menamparku bahwa saat ini adalah saat-saat aku harusnya berjuang. Lalu, mungkin ini sebuah petunjuk saat aku membuka status WA seorang rekan kerja, potongan ceramah tentang overthinking menyambarku. Petuahnya, "Besi rusak karena karatnya sendiri. Manusia rusak karena pikirannya sendiri." Maka, jangan terlalu banyak berburuk sangka. Jangan terlalu banyak berpikir negatif. Jika menemui masalah, hadapi masalahnya. Itu saja. Sambil terus mensyukuri apa yang sudah kamu miliki. Ya, harusnya memang begitu.  Aku lanjutkan hari dengan cek data tinggi dan berat badan anakku sebelum akhirnya dia bangun dan mengajakku ke sunmor nanti.  Hari ini aku pergi ke sunmor bersama istri dan anakku. Kami beli jajan. Nabil bukan tipe anak yang akan merengek minta dibelikan sesuatu. Tapi, ...

Upacara HAB Kemenag

Sabtu, 03 Januari 2026 Hari ini, aku memulai hari dengan bangun pagi lalu menulis jurnal. Aku menulisnya di laptop. Dua hari telah berlalu di tahun 2026 dan aku menulisnya baru hari ini.  Aku membuka jendela dan udara dingin masuk. Azan subuh berkumandang. Aku ingin ikut solat berjamaah. Tapi kakeknya Nabil lama sekali di WC, jadi terpaksa aku solat di rumah.  Hari ini aku mengikuti upacara HAB Kemenag bersama istriku. Kami berangkat ke madrasah dulu baru kemudian menuju lapangan Pekauman depan MIN 3 Banjarnegara. Langit mendung berawan tebal sehingga tidak terlalu panas. Ada banyak orang yang sulit diatur dan tidak tertib, sehingga membuat upacara tak segera dimulai. Banyak yang masih duduk santai dekat pohon beringin sampai ditetiaki oleh barisan yang sudah tertata rapi di lapangan. Upacara baru dimulai pukul 08.00. Itu pun masih ada yang terlambat.  Kakiku pegal. Keringat mengucur di punggung. Dron melintas di atas kepala, berdengung lembut. Bendera dikibarkan. Rasa ha...

Waktu yang Terasa Melambat

Hari ini, Selasa, 30 Desember 2025, kamu berkunjung ke rumah ibumu. Sebenarnya, ini tidak murni kunjungan. Kamu mengantarkan istrimu yang piket MBG. Sementara menunggu istrimu piket MBG, kamu mengunjungi rumah ibumu.  Di sana, waktu terasa melambat. Kamu tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi, kamu dapat merasakan perbedaannya. Ada rasa damai yang membuat segalanya menjadi lebih pelan. Apalagi saat kamu pergi ke kebun ayahmu. Bagaimana menjelaskan hal ini? Waktu yang merentang ke masa lalu tapi bukan dalam bentuk penyesalan, melainkan kesyukuran bahwa kamu pernah melaluinya dengan bahagia. Juga waktu yang merentang ke masa depan bukan dengan kecemasan, tapi pengharapan. Mungkin itu yang membuat waktu terasa melambat.  Kamu mencium aroma tanah yang lembab dan basah, aroma lapuk pangkal pohon yang telah ditebang, dan bahkan aroma dedaunan. Ini membuat perasaan damai menyeruak dalam hatimu dan membuat waktu seperti melambat. Di kebun ini, dulu ayahmu pernah mengajarimu bagaimana...

Kembali ke Dunia Kerja

Jumat, 02 Januari 2026 Kembali ke dunia kerja. Hari ini aku kembali ke dunia kerja. Aku mandi pagi seperti biasa dan berangkat ke sekolah sebelum pukul 07.00. Aku menyiapkan banyak barang di tasku supaya nanti di kantor dapat melakukan banyak pekerjaan. Apa yang berhasil kuselesaikan hari ini adalah, (1) membuat format baru LKH dan LKB menggunakan Ms Word agar tulisannya agak besar dan enak dibaca, (2) melayani wali siswa yang ingin berkonsultasi denganku tentang anaknya yang tidak betah di madrasah karena merasa tidak punya teman, dan (3) berkoordinasi tentang login aplikasi masook yang gagal. Aku berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Selain itu, aku juga berhasil berinteraksi dengan rekan-rekan di kantorku. Ternyata menyelesaikan pekerjaan di kantor itu cukup sulit. Suasana kantor yang tak selalu tenang dan lebih sering berisik membuatku sulit berkonsentrasi sehingga, meski aku berusaha menyelesaikan banyak hal di kantor, kerjaku lambat. Pekerjaan yang selesai tak seberapa. ...

Hari yang Tenang

Kamis, 01 Januari 2026 Aku mau menulis aktivitasku selama tahun 2026. Aku tak ingin kehilangan momen sekecil apapun. Aku ingin mengingat semuanya. Tahun ini kuawali dengan “Hari yang Tenang”. Hari yang tenang adalah saat aku tidak terlalu memikirkan apapun dan fokus mengerjakan hal yang memang perlu dikerjakan. Aku bangun agak siang, tak seperti biasanya sebab, tadi malam kami sekeluarga mengadakan perayaan malam tahun baru kecil-kecilan dengan membakar daging kambing dan jagung. Nabil senang sekali diajak nyate di atas rumah. Dia ternyata suka daging kambing. Kami nyate dengan alat dan bahan sangat seadanya. Panggangan yang kugunakan bahkan terbakar. Alat itu memang kuciptakan untuk sekali pakai saja. Nabil ikut sampai selesai. Pagi hari kuawali dengan mencoba mengunggah ijazah dan sertifikat pendidikku ke akun emisgtk. Namun, sayangnya tak berhasil. Aku mencoba berkali-kali dan tetap saja tidak berhasil. Ternyata sedang ada pengalihat semester di aplikasi ini sehingga layanan u...

Membuat Rencana Keuangan

Rabu, 14 Januari 2026 Hari ini, aku ingin fokus membuat rencana keuangan jangka panjang, menengah, dan jangka pendek. Aku akan berdiskusi dengan ChatGPT untuk menentukan rencana terbaik. Gagal merencanakan finansial berarti siap-siap miskin. Tapi, perlu aku tegaskan di sini bahwa rencana bukanlah bentuk kesombongan. Justru, dengan rencana itu adalah tanda bahwa kita mengakui kelemahan kita. Kita bisa berencana, tapi Tuhanlah yang pada akhirnya menentukan segalanya. Meski demikian kita tetap harus berencana.   Aku mulai dengan analisis pendapatan keluargaku lebih dulu. Begini analisisnya.  Gaji pokok 2.600.000  Uang makan 800.000 Tukin 1.300.000 Total : 4.700.000 Ditambah penghasilan istri 800.000 Sehingga total: 5.500.000 Aku akan mulai dengan menjelaskan kondisiku pada ChatGPT.  Hallo, ChatGPT. Aku mau minta tolong padamu untuk membantuku merencanakan keuangan keluargaku. Aku akan menjelaskan dulu kondisi keuangan keluargaku. Saat ini, aku tidak punya kekayaan ...