Langsung ke konten utama

Mie Ceker Rebus


Malam ini istri masak indomie rebus. Ada ceker di kulkas. Sekalian aja dicampurin. Dia potong-potong ceker itu kecil-kecil. Tambah daun bawang dan cabai rawit. Dia senang makan pedas. Tapi, perutnya kalah kuat denganku.

Buatku, dia masak indomie aceh. Gak pakai ceker, si. Susah kalau Indomie goreng pakai ceker. Kalau kuah, cekernya bisa ikut direbus sekalian. Tapi, karena ini goreng, jadi susah. Akhirnya kami sepakat untuk berbagi ceker. Maksudnya, aku icip-icip ceker di indomienya. Hehe.

Malam-malam hujan rintik. Dingin dan sayup-sayup terdengar solawatan di kejauhan. Seseorang melintas depan warung saat aku mengambil buah naga. Buah yang tak diaukainya. Dia pernah icip buah naga seujung sendok dan langsung muntah-muntah.

Seperti biasa aku selalu banyak pikiran. Entah hujan entah tidak, tetap saja aku banyak pikiran. Dari pada banyak pikiran gak jelas, lebih baik makan indomie anget-anget buatan istri. Sambil menunggu istri selesai masak indomie, aku corat-coret saja di sini.

Kalau dipikir-pikir, aku ini kurang aktif berbicara. Banyak diam tapi banyak yang dipikirkan. Mungkin sesekali aku harus menyempatkan bicara. Bicara dengan orang lain, dengan istri, dengan teman, bahkan dengan diri sendiri. Mungkin malam ini. Bicara panjang lebar dengan istri sampai tertidur kayaknya enak. Seperti mie ceker rebus ini. Setelah aku cek lagi, ternyata bukan indomie melainkan sarimi dan mie sedap.

Selasa, 9 November 2021, 21.14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...