Kupu-kupu kertas. Sebuah lagu yang masih kudengarkan hingga sekarang. Itu bukan lagu yang lahir saat aku remaja atau saat masa SMA. Bukan. Bisa dikatakan lagu ini jadul. Aku mulai sering mendengar lagu ini saat kuliah. Aku lupa awalnya kapan. Yang jelas lagu ini sering aku dengar saat kuliah. Selain lagu ini aku juga sering mendengar lagu-lagu lain Ebiet G Ade. Ada semacam kerinduan syahdu yang mengendap di dalam perasaanku yang aku sendiri tak tahu kerinduan macam apa itu. Yang kurasakan adalah sebuah kenikmatan kenangan saat dulu aku sering sendirian. Mungkin karena lagu-lagu ini sering aku dengar saat dulu aku menikmati kesepianku. Aku suka menikmati hal-hal yang sederhana seperti suara rintik hujan atau petikan gitar saat aku sendirian atau dedaunan di rantingranting pohon yang tertiup angin sebab semua itu entah mengapa membuatku tenang. Betapa melankolis. Bagiku, lagu-lagu Ebiet membangkitkan satu kesenduan tapi sekaligus hasrat untuk meromantisasi keadaan. Hasrat meromantisasi keadaan?! Apa itu? Kalau dengar lagu-lagu Ebiet, entah mengapa rasanya aku ingin menulis puisi. Meskipun pada akhirnya tak satu puisi tercipta setelah mungkin berjam-jam aku bergulat dengan pikiranku sendiri dan mencoba menuangkannya menjadi untaian kata. Pada akhirnya hanya aku sendirian. Tanpa kata-kata.
Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...
Komentar
Posting Komentar