Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kedamaian

Tukang Ngarit yang Sederhana dan Melankolisnya Kamu Saat Ini

Seorang tani berhenti di tikungan, tepatnya di depan toko kelontong Mustamil. Di bagian belakang sepeda motornya terdapat setumpuk rumput segar hasil ngarit. Dua botol plastik wadah air telah kosong tergantung di cantelan stangnya. Dia memakai topi kelabu. Kemeja lusuhnya basah oleh keringatnya. Dia parkirkan motornya hati-hati agar beban rumput tidak membuat motornya roboh.  Dia masuk toko kelontong namun seperti ragu-ragu. Mungkin karena takut mengotori lantai toko itu sebab dia tidak pakai alas kaki. Tak lama kemudian dia keluar sambil membawa dua bantal beras yang kemudian dia letakkan di bagian depan motornya dekat botol plastik wadah air yang telah kosong.  Saat melihat orang tani itu, kamu berpikir tentang kesederhanaan. Apakah dia memikirkan banyak hal sebagaimana kamu? Apakah dia memedulikan banyak hal sebagaimana kamu?  Dahulu kamu pernah menjadi tukang ngarit . Tak banyak hal kamu pikirkan seperti sekarang ini. Hidupmu hanya mengalir seperti air di sungai. Tak ...

Istirahat dari Hal-Hal yang Tidak Kamu Sukai

Apa yang Paling Kamu Idamkan? Aku memulai hari ini seperti biasa, tidak ada yang istimewa, rutin: mandi pagi, membantu istri mengemas jajan, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat,  aku menuntaskan unggah video di kanal Youtube MI GUPPI Rakitan yang ke-400; sebuah catatan yang bagiku membanggakan. Yang agak berbeda hari ini adalah, aku tidak memulai hari dengan membaca buku. Sayang sekali.  Aku kendarai sepeda motorku dengan kecepatan sedang, mencoba sedikit menikmati apa yang disajikan perjalanan: kesibukan, kehangatan, kebisingan, dan pepohonan. Orang-orang mulai keluar rumah menuju aktivitasnya masing-masing. Matahari menghangatkan hati kami di tengah deru kendaraan dan peluit tukang parkir di pinggir jalan. Pepohonan selalu menawarkan keteraturan yang puitis kepada mataku dan mataku selalu sulit menolaknya.  Apa yang engkau idamkan biasanya sekaligus membawa masalah buatmu. Rumah yang engkau idamkan akan menjadi rumah yang nantinya kau akan berurusan den...

Hidup Untuk Kedamaian

5 Januari 2025 1. Kurangi Menonton atau Membaca Berita Minggu ini kamu banyak membaca berita-berita di media sosial. Ada berita korupsi triliunan rupiah namun pelakunya hanya dapat hukuman 6,5 tahun penjara. Ada berita pembunuhan mahasiswa yang tak kunjung menemukan titik terang meski sudah bertahun-tahun. Seorang yang laporannya ke polisi tak digubris dan baru digubris setelah ada korban lainnya. Kenaikan pajak 12% yang bikin orang-orang panas. Berita Jokowi yang dicap sebagai presiden paling korup. Ada banyak berita lain yang mampir ke berandamu.  Peristiwa-peristiwa yang diberitakan itu sebenarnya tak secara langsung mempengaruhi kualitas kehidupanmu. Memang berpengaruh tapi tak secara langsung. Kamu bahkan tak punya kendali apa-apa atas peristiwa-peristiwa itu. Yang kamu sadari justru rusaknya mood dan kedamaian pikiranmu. Sehari-hari rasanya jengkel dan ingin mengutuk orang-orang biadab di luar sana. Terlalu banyak membaca berita justru tak baik buatmu. Mulai sekarang kurangi ...

Obsesi Pada Tumbuhan

Cuaca cerah. Langit biru dan sedikit awan menghiasinya. Kamu duduk di serambi masjid. Sepanjang perjalanan tadi kamu melihat-lihat berbagai tanaman mulai dari pohon durian, pohon pisang, kersen, jambu, hingga tanaman padi di sawah. Ada satu keinginan kuat dalam dirimu bahwa kamu ingin memiliki kebun yang cukup luas untuk kamu tanami pepohonan. Kamu ingin melakukan berbagai macam percobaan di kebunmu. Menonton saluran-saluran pertanian di YouTube. Entah mengapa kamu suka sekali dengan pepohonan. Aku mengira hal itu terjadi karena masa kecilmu sangat dekat dengan alam. Tempat bermainmu adalah kebun dan hutan juga sawah atau ladang. Di belakang rumahmu ada hutan kecil dengan berbagai pepohonan: duku, rambutan, kelapa, mahoni, albasia, melinjo, bambu, kopi, dll. Pohon-pohon kopi di belakang rumahmu berbatang besar karena sudah puluhan tahun tumbuh di sana. Apalagi pohon-pohon yang lain. Kamu sering memanjat mereka. Saking rapatnya mereka, kamu bahkan bisa berpindah dari satu pohon ke pohon...

Menjadi Masa Bodoh dan Tetap Bahagia

  Aku duduk di emperan toko swalayan sambil mengetik di smartphone-ku. Sesekali aku memandang ke arah perempatan jalan tempat hilir mudik kendaraan yang sedang menembus hujan. Anak-anak SMA memakai seragam pramuka berteduh di sini, menunggu jemputan. Sesekali mereka tertawa-tawa. Aku memandang hujan yang menetes deras di permukaan aspal, sebagian membentuk genangan air di sana-sini, sebagian memercik ke wajahku. Di genangan itu, melintas bayangan orang-orang yang hendak pulang atau menuju ke suatu tempat entah di mana. Tiang listrik, pohon kersen, dan lampu lalu lintas diam seperti membeku. Hampir jam empat sore. Aku masih ingin menulis apa yang kupikirkan, tapi sepertinya aku harus pulang dulu.  Apa yang kupikirkan kala itu adalah hasil dari perjalananku menempuh pendidikan hingga lulus perguruan tinggi. Ada satu bentuk kesyukuran yang kerap merambat ke pikiran dan hatiku, yaitu rasa sukur bahwa aku mampu menikmati hal-hal kecil yang mungkin tak bisa dinikmati oleh orang lain...

Menikmati Momen Apapun Itu

Aku ingin menikmati momen saat ini: menikmati angin yang berembus menerpaku saat sedang naik motor, menikmati lanskap pepohonan dan rumah-rumah di kejauhan, menikmati biru langit dan awan putih keabuabuan yang berarak di atasku. Banyak hal bisa kunikmati tanpa banyak usaha kukeluarkan. Citraan penglihatan terbentang luas di hadapanku. Begitu juga dengan pendengaran. Ada begitu banyak suara-suara di sekitarku: kicau burung, obrolan manusia, desau angin, deru kendaraan, bakhan detak jantung. Itu baru hal-hal yang bisa kudengar dan kulihat, padahal masih ada yang bisa kurasakan, kusentuh, bahkan kubaui. Tekstur makanan yang aku kunyah dalam mulutku adalah salah satu contohnya. Biasanya, aku mengunyah dengan cepat dan langsung menelan makananku. Aku tak merasakan teksturnya. Rasa asli dari makanan yang aku kunyah juga sebuah kenikmatan. Suhu udara yang berubah-ubah yang membuat tubuhku merasakannya serta segala jenis aroma yang mampir ke hidungku adalah kenikmatan yang hanya bisa kunikmati...

Rinai Hujan di Depan Rumah

Bunyi tak-tak air yang menghantam cor-coran jalan. Hawa dingin yang menjalar. Langit putih. Istri masak pisang goreng. Kurang apa lagi? Suara motor menderu membelah hujan. Aroma kopi yang mengepul. Rasanya, tak perlu tambahan apa-apa lagi untuk bahagia. Tapi, memang begitu. Bukankah memang kita bisa bahagia tanpa perlu apa-apa selain diri kita sendiri? Ada buku-buku yang belum selesai dibaca. Tapi, bukankah ada banyak hal yang juga perlu dibaca? Agar-agar hijau yang belum selesai dimakan. Pisang belitung yang menggantung di dinding. Kipas angin yang diam. Dingin masih terus meruyak udara. Aku duduk dan mendengar televisi ngoceh soal gizi. Istri datang dengan pipnya yang hangat. Apa lagi yang kurang? Sore yang sempurna. Namun, aku tiba-tiba teringat mamak. Aku teringat orang-orang di desaku. Sedang apa mereka, ya? Apakah di sana juga hujan?

Syukur

Hari ini, kamu masih bisa merasakan dinginnya pagi, artinya kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kamu masih bisa menulis. Kamu masih bisa membangunkan istrimu. Menikmati segelas air putih yang sejuk dan segar di pagi hari juga masih bisa kamu lakukan. Kamu masih bisa menjalankan ibadah solat subuh. Kamu masih diberi mimpi dalam tidurmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk berpikir, yang menandakan eksistensimu. Kamu masih bisa mendengar kicauan burung meski itu burung dalam sangkar. Kamu masih mendengar deru kercak air di kolam ikan depan rumahmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk melihat lagi dunia ini. Ini semua adalah salah satu kemampuan menikmati momen yang sangat penting untuk kamu syukuri. Kamu juga harus ingat bahwa untuk bersyukur kamu tak perlu mengaitkannya dengan orang lain. Kamu hanya diminta mensyukuri apa yang kamu punya dan apa yang kamu rasakan. Jika ada orang lain di luar sana yang kondisi duniawinya lebih buruk darimu, itu bukan alasan untuk kamu be...

Menikmati Subuh

Menikmati Subuh                Pagi ini dingin. Setelah solat subuh aku naik ke atas rumah untuk menikmati subuh. Sayup-sayup kudengar pengajian dari masjid di dusun lain. Ada pula suara-suara serangga pagi yang beraneka ragam.                Langit mendung. Semalam hujan rintik tak hentihentinya mengguyur bumi ini. Aku bersyukur atas apa yang masih kumiliki hari ini. Aku masih bisa mencium wangi masakan yang menguap menembus atap-atap rumah warga. Kulitku masih merasakan dingin dan sejuk. Telingaku masih jernih mendengar suara-suara alam. Mataku masih bisa melihat langit. Pikiranku masih dapat kugunakan. Aku masih punya kesempatan menulis. Apalagi yang kurang?                Terkadang, manusia sibuk mengejar apa yang tak ada di genggamannya dan melupakan apa yang sudah ia punya. Seorang pasangan berselingkuh sebab melihat ada yang lebih cantik, lebih ga...