Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Daily

Waktu yang Terasa Melambat

Hari ini, Selasa, 30 Desember 2025, kamu berkunjung ke rumah ibumu. Sebenarnya, ini tidak murni kunjungan. Kamu mengantarkan istrimu yang piket MBG. Sementara menunggu istrimu piket MBG, kamu mengunjungi rumah ibumu.  Di sana, waktu terasa melambat. Kamu tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi, kamu dapat merasakan perbedaannya. Ada rasa damai yang membuat segalanya menjadi lebih pelan. Apalagi saat kamu pergi ke kebun ayahmu. Bagaimana menjelaskan hal ini? Waktu yang merentang ke masa lalu tapi bukan dalam bentuk penyesalan, melainkan kesyukuran bahwa kamu pernah melaluinya dengan bahagia. Juga waktu yang merentang ke masa depan bukan dengan kecemasan, tapi pengharapan. Mungkin itu yang membuat waktu terasa melambat.  Kamu mencium aroma tanah yang lembab dan basah, aroma lapuk pangkal pohon yang telah ditebang, dan bahkan aroma dedaunan. Ini membuat perasaan damai menyeruak dalam hatimu dan membuat waktu seperti melambat. Di kebun ini, dulu ayahmu pernah mengajarimu bagaimana...

Renungan Akhir Tahun

Hari ini, Selasa, 23 Desember 2025, saya berangkat ke madrasah. Saat guru lain libur, kami CPNS dan PPPK yang belum satu tahun tetap diwajibkan berangkat. Saya duduk di samping tangga. Kucing dengan mata buta sebelah dan perut yang sedang bunting mengeong dekat sepeda motor. Suara anak-anak yang akan berangkat ke Kampung Gagot terdengar riuh. Saya tak tahu apalagi yang harus saya lakukan. Kemarin, saya berangkat, presensi pusaka, kemudian pulang. Tapi, setelah pulang, ternyata saya harus kembali ke madrasah lantaran mengurus aktivasi akun coretax. Mulanya saya pergi ke KPP dekat terminal Banjarnegara. Di sana saya mendapat antrian yang sangat lama. Hari itu, saya juga harus mengisi survey tentang perkembangan CPNS di lingkungan Kementerian Agama. Niat hati, saya ingin mengisinya di rumah. Namun, ternyata gagal. Saya terpaksa mendatangi kantor KP2KP dan mendapati nomor antrian yang begitu panjang. Nomor antrian yang saya peroleh 118 sedangkan nomor antrian berjalan baru sampai nomor 22....

Tambal Ban dan Momen Jumatan yang Tertunda

Sudah pukul 11.38 dan aku belum sampai rumah. Panas matahari terasa membakar punggung tangan dan lenganku sebab aku tak pakai jaket. Ban motorku bocor dan terpaksa aku mencari tukang tambal ban. Untungnya, di pertigaan dekat grapari telkomsel masih ada tukang tambal ban. Istriku menunggu di dekat taman kota. Dia sedang hamil. Kasian sekali dia harus menunggu di sana sambil panas-panasan. Anak sekolah berjalan pulang bergerombol. Pedagang sayur masih santai di tepi jalan. Dia mengobrol dengan tukang tambal ban dengan santai. Gaya bicara si tukang sayur seperti bukan orang Banjar. Di sebelah kiriku ada tukang becak yang juga terlihat sangat santai di dalam becaknya. Sepertinya mereka tidak berniat melaksanakan salat Jumat. Tapi, itu sama sekali bukan urusanku. Aku sudah belajar untuk tidak mengomentari kehidupan orang lain. Sebab, perhatian kita sesungguhnya terbatas. Kalau segalanya kita perhatikan, jangan-jangan apa yang seharusnya kita perhatikan malah luput dari perhatian kita. Istri...

Menetapkan Prioritas

T idurku larut sekali. Aku bangun agak kesiangan, sekitar pukul 05.30. Pagi yang lumayan dingin. Telah tersaji secangkir besar kopi hitam yang agak manis. Aku membaca satu judul artikel dalam buku Bukan 350 Tahun Dijajah karya GJ. Resink. Membaca pagi tanpa gangguan amat sulit bagiku. Hampir mustahil. Dan, hasilnya selalu nihil. Mungkin selalu. Jika bukan pagi-pagi buta, hal yang sangat sulit kulakukan. Kulanjutkan dengan makan tape goreng yang dibalut tepung. Manis bercampur kecut di lidah. Mengantar ibu ke pasar sering kulakukan setiap Minggu. Seperti Minggu ini. Parkir ramai sekali. Berderet-deret sepeda motor dari timur hingga barat pasar. Dalam satu lokasi bisa kuperkirakan ada hampir seratus motor. Jika tarif parkir Rp.2.000 maka satu lokasi mencapai Rp.200.000 ini baru hitungan jika satu titik sekali saja ditempati. Namun, nyatanya satu titik bisa ditempati berkali-kali. Wanita bercadar. Kakek tua berkaca mata dengan baju kusut dan peci klimis. Apakah aku akan setua itu. Tanpa g...

Takziah

Jumat, 14 Februari 2025 Hari ini kamu takziah di Dawuhan. Ibu dari guru bernama Eka, yang sekaligus operator RA, meninggal dunia. Ternyata suami Bu Eka adalah murid Pak Ifin dulu kala. Di depan rumah ada pohon durian yang berbuah cukup lebat. Aku heran, mengapa orang-orang seperti terkoneksi satu dengan yang lainnya. Saat orang menyebutkan satu nama, maka akan merembet ke nama-nama lain yang sama-sama dikenal. Sungguh terlalu. Setelah takziah, kamu mampir ke rumah ibumu di Pucungsari. Nanti setelah salat Jumat, kamu akan muyen ke Sikasur.  Tadi di sekolah rasanya puas saat melaksanakan pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Materi Haji dikemas dengan sedikit permainan kelompok menjadi sedikit lebih seru dan menarik perhatian siswa. Yang biasanya ngobrol dan tak mendengarkanmu tadi lumayan mendengarkanmu. Ya, lumayan. 

Cuaca Panas dan Jalan-Jalan di Banjarnegara

  Rabu, 27 Desember 2023, 13.59  Sandal yang dibeli istriku dua hari yang lalu terlalu kecil untuk Nabil. Kami menukarnya di toko perlengkapan bayi dan anak-anak. Jaraknya sekitar 200 meter dari pasar kota. Biasanya, kalau aku mengantar istriku belanja di sini, aku menunggu di luar toko, duduk di serambi toko sambil main HP. Tapi kali ini cuaca panas sekali. Belum sampai satu menit keringatku mulai bercucuran. Dari pada menunggu di luar dengan cuaca sepanas ini, aku memutuskan untuk masuk toko dan menunggu di dalamnya. Aku duduk di lantai di bawah kipas angin yang sejuk. Istriku memilih baju tapi tak membelinya. Begitulah biasanya perempuan. Tujuan kami memang bukan untuk membeli baju melainkan hanya menukarkan sandal yang kekecilan saja.  Setelah dari toko perlengkapan bayi dan anak-anak, kami pergi ke timur pasar kota untuk membeli lemak sapi. Kami orang-orang Banjarnegara menyebutnya gajih. Bapak mertuaku berjualan siomay dari tepung kanji yang di dalamnya diberi lemak...

Becer

Membeli persediaan barang-barang, baik untuk konsumsi keluarga atau untuk dagangan dalam bahasa Jawa di sini disebut becer. Aku sering disuruh becer sama mertuaku. Biasanya, setelah aku pulang kerja, dia kirim pesan menyuruhku mengambilnya. Biasanya, yang dibelinya adalah barang-barang untuk persediaan warung, misalnya rokok, jajanan, sampo, beras, sabun, dan sebagainya.  Kali ini aku bawa beras dan macam-macam jajanan yang dibungkus dalam satu kardus. Di sini langit tidak terlalu mendung sehingga aku tidak meminta pelayan toko membungkus sekarung berasku dengan plastik. Tapi, saat aku keluar dari toko dan mampir beli juz alpukat, gerimis turun.  Aku segera bergegas pulang sebelum gerimis menderas menjadi hujan. Sampai di Silembied, hujan mulai deras. Aku masih berani menerjang. Namun, lewat Silembied, tepatnya di tikungan dekat toko Mustamil, aku tak berani lagi menerobos hujan. Pasalnya, selain membawa beras, aku juga membawa laptop dalam tasku. Dari pada laptopku kenapa-ken...