Selasa, 13 Januari 2026 Aku ikut takziah ke Gribig. Orang tua siswa kelas 9C ada yang meninggal dunia. Anak-anak naik angkot hijau. Dua angkot siap berangkat. Kami berangkat santai. Sepanjang perjalanan pepohonan durian berdiri tegak di pinggir jalan di kejauhan. Sebagian berbuah dan sebagian lainnya tidak. Rumah yang kukunjungi berada di tempat yang sangat sederhana tapi membuatku bernostalgia pada masa-masa kecilku. Kesederhanaan dan ketenangan. Udara yang dingin dan suasana tenang khas pedesaan sangat terasa di sekitar rumah itu. Pohon durian yang tumbuh berdesakan dengan pohon-pohin lain. Buahnya menggelantung sebesar bola sepak. Tembok yang retak. Jalan setapak depan rumah adalah batu-batu yang ditata rapi tanpa tertutup semen atau aspal. Tanah yang becek. Jalanan yang menanjak dan licin ditumbuhi lumut. Rumah-rumah berdiri tanpa pagar tanpa sekat antar tetangga. Di sana kesederhanaan mencuatkan perasaan syahdu yang entah mengapa sedikit mendamaikan pikiran namun juga menimbulkan ...