Langsung ke konten utama

Postingan

Kenangan Boleh Hilang

Aku menulis apa yang kualami di media blog. Beberapa tulisan kusimpan di laptop pribadiku. Tujuanku menulis semua itu adalah untuk diriku kelak di masa depan. Aku ingin mengenang momen-momen tertentu yang saat kutulis kuanggap penting. Namun, ada satu kekhawatiran yang mengganjal pikiranku. Aku khawatir suatu saat di masa depan, blog tak lagi digunakan lalu aku kehilangan akses ke catatan-catatan itu. Aku yang awalnya ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan di masa laluku menjadi tak punya apa-apa untuk diingat. Apa yang akan kulakukan jika hal itu terjadi? Tapi, aku mau mundur ke alasan mengapa aku menginginkan hal itu. Mengapa aku ingin bernostalgia? Ini mungkin karena aku takut kelak tak punya aktivitas apapun yang bisa mengisi hari-hariku. Aku takut hanya bisa bengong saat menghabiskan masa tuaku. Aku takut kelak tak punya apa-apa. Atau mungkin juga ini karena alasan yang lebih mendalam, yaitu perasaan takut dilupakan. Dengan kata lain, aku takut tak meninggalkan jejak apapun d...
Postingan terbaru

Semua yang Kukenal, yang Terdekat Sampai yang Terjauh Bahkan Asing

Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Namun, tak semua orang harus kita kenal, kan? Kalau bisa mengenal semua orang dengan mendalam, itu akan sangat bagus. Sayangnya itu sangat tidak mungkin. Jadi, ini hanya sebuah pengingat: cara yang kupakai untuk lebih mengingat seseorang. Atau malah bahkan untuk melupakan seseorang. Membebaskan diriku sendiri dari keharusan mengingat seseorang. Tapi, bukankah kita memang tak harus mengingat seseorang? Baiklah. Kita mulai saja. Aku akan mengelompokkan orang-orang yang kukenal kedalam beberapa lingkaran. Lingkaran pertama adalah lingkaran pengaruh. Ini adalah orang-orang yang bisa kupengaruhi secara aktif. Meliputi orang-orang paling dekat denganku. Lingkaran kedua adalah lingkaran kenal saja dan masih sering berinteraksi. Lingkaran ketiga adalah lingkaran terluar yang berisi orang-orang yang mungkin hanya akan bertemu denganku beberapa kali dalam seumur hidupku.  Lingkaran Pertama Lingkaran pertama tentu keluargaku. Aku akan memulainya dengan i...

Manusia Hanya Alat

Kamis, 4 Juni 2026 Tadi malam saya nonton anime Classroom of The Elite. Satu hal yang menarik perhatianku adalah bagaimana Ayanokoji memandang orang-orang di sekitarnya sebagai alat. Di akhir adegan geludnya dengan Nanase, dia memanfaatkan Nanase yang ingin balas dendam ke ayahnya untuk memintanya membantunya bertahan di sekolah. Nanase yang awalnya ingin mengeluarkan Ayanokoji dari sekolah justru berbalik membantunya. Yang menarik adalah ucapan Ayanokoji bahwa dia sama dengan pria itu (maksudnya ayahnya) bedanya hanya bahwa Ayanokoji mau memanfaatkan apa saja sebagai alat bahkan yang paling lemah sekalipun. Meski pada akhirnya akan dibuang juga, semuanya bergantung seberapa baik kita mampu memanfaatkan sebuah alat.  Aku memikirkan sudut pandang Ayanokoji yang menarik ini di dalam kelas saat mengawasi anak-anak kelas 7 dan 8 ujian kenaikan kelas. Pertanyaan besarku adalah apa jadinya kalau sudut pandang Ayanokoji ini kuambil sebagai sudut pandang seorang guru terhadap muridnya. Apa...

Sebuah Renungan Kecil

Sabtu, 30 Mei 2026 Nabil menyalakan televisi di rumah kami. Aku tahu, kalau dia tidak bosan tak mungkin dia menyalakan televisi itu. Dia menyalakannya karena dia bosan. Dia bosan kemungkinan besar karena tak ada orang yang serius mengajaknya bermain. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Termasuk aku. Bahkan mungkin akulah orang yang paling sibuk dengan diriku sendiri. Nabil hanya anak kecil yang ingin bermain dan bersenang-senang. Namun, terkadang orang-orang di sekitarnya tak mengerti. Mungkin akulah yang paling tak mengerti. Dan, ketika Nabil tak menemukan hal yang menyenangkan dari orang lain dan telah merasa bosan dengan mainannya, dia mencari hal baru: menonton televisi. Sayangnya, televisi di rumah kami sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya sejak kurang lebih satu bulan lalu. Ini membuatku merenung cukup lama. Kasihan sekali Nabil. Dia tak bisa lagi menonton televisi. Aku mungkin salah karena menonaktifkan aksesnya menonton televisi. Memang tumbuh sebuah rasa bersalah dal...

Mengarsip Masa Lalu

  Ada satu tempat yang terekam jelas dalam ingatanku meskipun sudah bertahun-tahun aku tak mengunjungi tempat itu. Aku bahkan tidak tahu apakah tempatnya masih sama seperti dulu atau tidak. Tempat itu adalah kebun nenek di Pucungsari. Ada sebuah gubuk kecil di sana tempat nenek biasa beristirahat. Bapak sering mengajakku ke sana. Biasanya, bapak akan memetik kelapa muda dan meminum airnya bersamaku. Banyak pohon mahoni berukuran besar di sana sehingga permukaan tanah lebih sering tertutup daun-daun kering dari pohon mahoni itu. Namun, area di sekitar gubuk nenek selalu bersih dari daun-daun kering. Nenek sangat rajin membersihkannya. Sebenarnya, di kebun itu ada banyak sekali jenis pohon yang tumbuh. Ada pohon kelapa, mahoni, albasia, jengkol, pule, melinjo, sengon, kopi, pete, jambu, bambu, dan masih banyak yang tak kuingat namanya. Ada juga tanaman salak lokal dan salak pondoh, lengkuas, singkong, pisang, cabai, hingga merica. Kebun nenek ini serasa hutan bagiku. Jangan bay...

Menikmati Waktu Bersama Anak-Anak

Minggu, 17 Mei 2026 Aku mengawali hari ini dengan menulis ulasan buku 1984 karya George Orwell. Buku ini berhasil kuselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu. Aku bangun pukul 04.00 lalu menulis ulasan buku ini. Aku berencana menyelesaikan semua daftar tugas dalam HP-ku. Namun, ternyata itu tak mudah. Meski begitu, aku tak menyesal.  Aku melewati minggu pagiku dengan bermain bersama Nabil dan tentu saja Nabila. Aku mengajak Nabil membaca buku pagi hari. Kami berhasil menyelesaikan sekitar empat buku kecil. Aku juga mengajaknya main ular tangga.  Zayra juga kuajak bermain. Dia suka sekali melihat baju merahnya kugantung di pintu lemari dan kukibar-kibarkan. Aku menggendongnya cukup lama dan kali ini dia betah di gendonganku. Aku tidak pergi ke mana-mana sampai sore hari. Aku hanya di rumah bermain bersama Nabil dan Nabila. Ya, seharusnya memang begitu kalau aku menginginkan perkembangan terbaik buat mereka, aku harus sering-sering main dengan mereka berdua. Setelah solat dzuhu...

Bocil EPEP dan Keresahan Seorang Guru

Bocil lagi main game. Sabtu, 09 Mei 2026 Aku menjemput Zayra di rumah Lik Siroh di Sirau. Hari ini Zayra dititipkan di sana karena Mbah Murti pergi ke Wonosobo sedangkan istriku bekerja. Setelah pulang kerja, kami menjemput Zayra di sana.  Di sana, ada dua orang bocil sedang asyik main game. Mereka sangat fokus pada layar HP. Aku jadi merenung. Apakah ini baik? Entahlah. Yang jelas, dari dua bocil ini, aku merasa kalau menjadi guru di zaman sekarang akan sangat sulit. Aku tak menyalahkan dua bocil ini. Aku saja seorang yang sudah dewasa amat sulit lepas dari HP. Apalagi mereka. Aku teringat pikiranku saat pulang sekolah. Saat itu, aku justru berpikir sebaliknya. Ini adalah saat yang paling enak bagi seorang guru. Betapa tidak, orang-orang sebenarnya tak pernah benar-benar menginginkan anak mereka tumbuh menjadi manusia baik, manusia yang berakhlak, manusia yang cerdas. Mereka tak pernah benar-benar menginginkannya. Seseorang menerobos lampu merah dengan mudahnya sementara di belak...

Mbah Johari dan Peran-Peran Manusia

Berteduh di emperan apotik di depan SMA N 1 Banjarnegara. Selasa, 05 Mei 2026.  Langit sudah sangat mendung di sana-sini. Aku masih di madrasah. Mau pulang, tapi tanggung sebentar lagi jam absen pulang. Mau tetap di madrasah, tapi malas menunggu. Beberapa guru masih di madrasah, sementara yang lainnya langsung pulang setelah acara di rumah Mbah Johari selesai. Perutku sudah kenyang. Aku makan di rumah Mbah Johari dalam acara tasyakuran pemberangkatan Mbah Johari menunaikan ibadah haji.  Mbah Johari adalah sosok yang berdedikasi. Beliau telah melaksanakan tugasnya selama puluhan tahun. Kalau bicara masalah peran, aku bisa belajar dari beliau. Peran beliau itu amat sangat penting. Salah satu yang kutahu adalah membersihkan ruang guru dan menyediakan minum untuk para guru. Kalau beliau tak menjalankan tugasnya dengan baik, aku yakin akan banyak guru yang merasa tak nyaman berada di kantor. Mbah Johari atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Jo, selalu menjalankan perannya dengan ama...

Evaluasi Diri Sebagai Wali Kelas

Rabu, 22 April 2026 Pagi ini langit mendung. Aku kendarai motorku pelan sambil memikirkan banyak hal. Beginilah keseharianku di pagi hari. Kalau tak ada yang aku pikirkan sama sekali semuanya akan sangat monoton.  Terkadang, sambil berkendara aku memikirkan hal-hal yang bisa kusyukuri. Ini membuatku tenang. Kadang, aku memikirkan hal-hal yang kulihat di jalan seperti pepohonan atau bangunan tertentu. Pohon-pohon apa yang paling sering muncul dan bagaimana pohon-pohon itu memancarkan suatu keteduhan yang melankolis. Kadang, aku memikirkan orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Semua orang punya pertarungannya masing-masing. Everyone is fighting. Semua orang punya pertarungannya masing-masing. Semua orang punya apa yang mereka perjuangkan. Seorang ayah yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Seorang pedagang yang menjajakan dagangannya. Petugas kebersihan yang berjibaku dengan sapunya. Dan, banyak lagi.  Aku jadi bersyukur menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa dan aku sama...

Berkunjung ke Perpustakaan

Selasa, 21 April 2026 Pustakawan sedang menjelaskan tata tertib di Perpusda. Hari ini adalah hari Kartini. Sekolahku tidak mewajibkan siswa putrinya memakai kebaya. Beberapa guru menyayangkan keputusan itu. Pak Wahyu berkomentar, "Tidak ada inisiatif sama sekali." Aku piket penyambutan siswa seperti biasa. Siswa putra kusalami. Siswa putri tidak. Aku menyalami mereka sambil menghafal nama beberapa anak didikku. Setelah piket penyambutan selesai, aku menilai tugas menulis surat pribadi kelas 7I. Dari tugas-tugas itu, aku melihat sedikit kehidupan siswa-siswaku yang sangat beragam. Mereka bukan hanya nama-nama di buku absen. Mereka tidak datang ke sekolah dengan kekosongan. Mereka hidup dan punya kehidupan masing-masing. Ada yang terinspirasi dari grup kesenian di Magelang, ada yang sangat menggemari artis Korea, ada yang sangat merindukan teman SD-nya yang kini berbeda sekolah, ada yang sangat merindukan keluarganya, bahkan ada yang ingin cepat-cepat mati. Tanpa sadar, aku tid...

Menjaga Anak Perempuan

Hari ini, aku mengunjungi rumah siswa putri yang sudah lebih dari satu minggu tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Rumahnya di Desa Pekauman RT 02 RW 01 Kec. Madukara, Kab. Banjarnegara.  Aku berangkat setelah jam istirahat berakhir. Ditemani Alta, guru BK di sekolahku, aku berkendara pelan dari MTs N 2 Banjarnegara ke arah timur. Cuaca panas dan jalanan berdebu serta rusak di sana-sini.  Kami tiba di rumah siswaku sekitar pukul 10.30. Rumahnya cukup besar. Halamannya luas. Sekilas aku bisa menilai kalau orang tuanya cukup mampu. Maksudku tak kekurangan materi.  Kami disambut oleh neneknya yang ternyata seorang pensiunan guru. Neneknya minta maaf karena cucunya membuat kami repot sehingga perlu bersusah-susah datang ke sana. Tantenya membuatkan kami teh hangat dan menyuguhkan makanan ringan.  Saat kami akan menyampaikan maksud kami kepada neneknya, dia tidak mau. Dia bilang lebih baik bicara langsung saja kepada ibunya. Kami terpaksa menunggu ibunya yang ternyata se...

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Apakah Ini Senin yang Berat?

Senin, 09 Februari 2026 Pagi mendung. Aku berangkat kerja dalam perasaan berat. Berat meninggalkan istri dan anak. Ah, entahlah. Rasanya ada sebentuk perasaan yang mengganjal sampai membuat aku tidak semangat. Tapi, lantas aku mengingat istriku dan anakku. Rasanya, ada perasaan tidak lega yang terus-terusan mengganjal dalam hatiku. Kadang, aku merasa sangat lemah karena tak mampu membuat diriku sendiri merasa senang. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri karena tak memberikan perhatianku kepada istri dan anakku. Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Apakah ini? Apakah perasaan ini? Ada rasa hampa yang membuatku merasa apa yang kulakukan tidak menghasilkan apapun. Apakah ini tanda bahwa sebenarnya aku membutuhkan validasi dari orang lain? Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya untuk membuatku merasa lega .  Hari ini aku ikut upacara. Saat mengheningkan cipta, tiba-tiba keseimbanganku sedikit hilang. Ini sering terjadi saat aku berdiri dengan fokus yang cukup tinggi. Aku telah l...

Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan

"Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?" Mungkin pertanyaan itu sangat layak kamu ajukan ke dirimu sendiri. Di tengah banyaknya orang-orang di negerimu yang masih menganggur, kamu dapat pekerjaan yang sungguh diinginkan banyak orang. Kamu lolos sebagai CPNS dan sedang menunggu menjadi PNS. Lihatlah Joni, adik iparmu, yang sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan tetap. Dia sudah punya satu anak dan sebentar lagi masuk usia sekolah. Tapi, dia masih menganggur. Kamu menemukan pembanding yang sangat dekat dan masih saja mengeluhkan pekerjaanmu saat ini. Bahkan, kamu berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang menurutmu sangat kamu idam-idamkan, yaitu menjadi petani. Apakah kamu gila?  Maka, satu pertanyaan sekali lagi perlu dilemparkan kepadamu, "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?"  Kamu terus-menerus digerogoti pikiran-pikiran buruk tentang pekerjaanmu. Kamu tahu pikiranmu berbahaya. Tapi kamu membiarkannya tumbuh liar dan semakin liar. Agaknya, kamu per...