Langsung ke konten utama

Postingan

Mimpi Tersesat yang Sempurna

Aku kerap bermimpi tersesat. Ini adalah mimpi yang paling menguras tenaga. Biasanya setelah bermimpi tersesat aku akan bangun dalam kondisi kelelahan. Aku melangkah ke arah yang kuyakini benar, namun tak kunjung sampai tujuan. Dihadapkan pada jalan yang kurasa pernah kulalui di dunia nyata namun dengan sedikit sentuhan asing yang suram, aku kerap berputar-putar tak tentu arah. Orang-orang yang kutemui tak membantuku.  Aku dengan ragu-ragu mengambil jalan yang menurutku tepat. Saat kurasa aku akan sampai di tujuanku, ternyata aku sampai di tempat asing yang mengerikan, berkabut, dan bercabang-cabang. Kadang aku tersesat ke tengah hutan tanpa bisa menemukan jalan keluarnya. Kadang aku tersesat di tengah perkampungan dengan para penghuni yang berpenampilan aneh tak seperti manusia. Kadang aku tersesat di jalan-jalan setapak, di pinggir danau, atau perkebunan. Saat aku mengingat mimpi-mimpi penuh ketersesatan ini bulu kudukku merinding tiba-tiba. Malam tadi, tepatnya Kamis malam, 27 Ma...

Pesta Siaga dan Keresahan yang Kurasakan

Aku tahu bahwa maksud pelaksanaan pesta siaga bertujuan baik, yaitu sebagai sarana pembentuk karakter siswa. Namun, praktik yang kutemukan justru membuatku muak. Hal-hal yang membuat aku muak antara lain:  Pertama, di sekolah tempatku bekerja tak ada ekstrakurikuler Pramuka. Anak-anak hanya dilatih saat akan ada acara pesta siaga saja. Selain itu tak ada latihan apapun atau kegiatan apapun yang berkaitan dengan Pramuka. Serba instan. Inilah yang aku tak suka.  Kedua, fokus sekolah adalah meraih prestasi untuk mengharumkan nama sekolah. Itulah mengapa yang dipilih adalah anak-anak terbaik. Jika memang tujuan awal adalah pembentukan karakter harusnya siapapun yang ingin mengikutinya boleh-boleh saja diikutsertakan. Jika peserta yang boleh ikut dibatasi, paling tidak sekolah memfasilitasi anak-anak lain yang tak kebagian jatah dengan kegiatan lain yang juga fokus dalam pembentukan karakter.  Ketiga, latihan dilakukan saat jam pelajaran. Ini sangat mengganggu kegiatan pembela...

Berpikir Sendiri, Apa Maksudmu?

Aku ingin berpikir sendiri. Apa maksudmu berpikir sendiri? Mungkin maksudmu adalah kamu tak ingin bergantung dengan pemikiran orang lain. Tapi, bagaimana caranya? Apakah aku punya masalah untuk aku pecahkan? Katamu, level orang itu ditentukan dengan masalahnya, semakin kamu mengubresi urusan yang sepele, semakin itu menunjukkan bahwa kamu itu juga sebenarnya sepele. Tapi, buat apa jadi orang yang levelnya tinggi, toh hidup juga akan berakhir. Tapi, bukankah itu alasannya mengapa kita musti menikmati hidup? Sebab kita tak hidup selamanya maka hidup kita jadi berharga.

Tambal Ban dan Momen Jumatan yang Tertunda

Sudah pukul 11.38 dan aku belum sampai rumah. Panas matahari terasa membakar punggung tangan dan lenganku sebab aku tak pakai jaket. Ban motorku bocor dan terpaksa aku mencari tukang tambal ban. Untungnya, di pertigaan dekat grapari telkomsel masih ada tukang tambal ban. Istriku menunggu di dekat taman kota. Dia sedang hamil. Kasian sekali dia harus menunggu di sana sambil panas-panasan. Anak sekolah berjalan pulang bergerombol. Pedagang sayur masih santai di tepi jalan. Dia mengobrol dengan tukang tambal ban dengan santai. Gaya bicara si tukang sayur seperti bukan orang Banjar. Di sebelah kiriku ada tukang becak yang juga terlihat sangat santai di dalam becaknya. Sepertinya mereka tidak berniat melaksanakan salat Jumat. Tapi, itu sama sekali bukan urusanku. Aku sudah belajar untuk tidak mengomentari kehidupan orang lain. Sebab, perhatian kita sesungguhnya terbatas. Kalau segalanya kita perhatikan, jangan-jangan apa yang seharusnya kita perhatikan malah luput dari perhatian kita. Istri...

Bisakah Kita Membalas Kebaikan Orang Tua?

Hari ini, bersama istri, aku ke sekolah bertemu para guru untuk menyalurkan honor mereka yang telah tiga bulan tak tersalurkan. Dalam perjalanan kami mampir ke alfamart untuk membeli jajan kalengan untuk kami berikan ke nenek kami di Gemuruh.  Setelah urusan di kantor selesai, kami berangkat ke rumah nenek kami lewat jalan baru Banjarmangu. Perjalanan cukup jauh dengan cuaca panas dan udara berdebu. Aku menutup helmku agar debu di udara tak menerpa wajahku. Jalan cukup lengang sehingga aku bisa memacu motorku cukup kencang. Sampai di rumah nenekku, kami memarkirkan motor di depan musala karena di halaman rumah nenek kami sedang digunakan untuk menjemur padi.  Kami kesulitan masuk rumah karena semua jalan terhalang hamparan padi yang sedang dijemur. Dalam hati aku berucap, alhamdulillah nenek tidak kekurangan beras berarti. Aku masuk ke rumah nenek dan memberikan jajan kalengan yang aku beli di alfamart. Saat lebaran biasanya cucu-cucu nenek datang ke rumah nenek dan berkumpul ...

Lebaran di Kampung Halaman

Lebaran tahun ini, tepatnya 1447 H aku akan lebaran di kampung halamanku. Ya, begitulah rencananya. Sudah empat tahun aku tak lebaran di kampung halamanku. Rasanya biasa-biasa saja. Mungkin karena aku masih sering mengunjungi kampung halamanku. Bukan sering, malah hampir setiap hari. Tapi, aku tahu suasana lebaran tentu saja akan berbeda dari lebaran di kampung istri, meskipun hanya besa desa saja.  Entah mengapa puasa hari ini rasanya lapar sekali dan aku sangat bosan berada di rumah. Mau keluar rumah juga tak tahu harus ke mana dan mau ngapain. Benar-benar sangat bosan. Menganggur memang lebih menyebalkan dari pada melaksanakan tugas meskipun berat.  Ya, setidaknya melaksanakan tugas meski berat ada sesuatu yang kita lakukan dan kita harapkan. Saat melakukan sesuatu tentu kita berharap dapat menyelesaikannya dengan baik. Ya, mungkin itu. Mungkin harapan itulah yang membuat kita tidak bosan. Ya, begitulah. 

Pelajaran Melatih Kesabaran dan Percaya Pada Rencana Allah SWT

Nabi Musa a.s. pernah diminta oleh Allah SWT untuk belajar ilmu baru yang tak ada di dalam kitab. Ilmu baru ini harus beliau dapatkan dengan pengalaman langsung. Nabi Musa harus berguru kepada seseorang yang oleh Allah disebut sebagai hamba-Nya. Menurut berbagai pendapat, orang tersebut adalah Nabi Khidir. Namun, kita tak perlu memperdebatkan hal ini. Siapapun itu, yang jelas Nabi Musa harus belajar kepada orang itu. Nabi Musa menempuh perjalanan jauh untuk menemui orang itu agar ia bisa menjadi muridnya dan mendapatkan ilmu darinya.  Saat akhirnya Nabi Musa bertemu dengan calon gurunya itu, ia dianggap tak akan mampu bersabar menerima ilmu dari sang guru.  "Kamu tak akan punya kesabaran untuk menanggungnya," ucap sang guru.  Nabi Musa yang sehari-hari berhadapan dengan Firaun dan kaumnya dibilang tak akan sabar. Kurang sabar apa Nabi Musa yang dakwahnya menghadapi Firaun dan para pengikutnya.  Nabi Musa bilang bahwa dia akan bersabar apapun yang terjadi.  Nabi ...

Memaknai Gelar Sarjana Pendidikan

Pengembangan diri sebenarnya tidak terbatas. Apalagi di era sekarang. Kita bisa mempelajari apa saja yang kita mau. Namun, kita sendirilah yang kerap membatasi kemungkinan-kemungkinan untuk terus berkembang. Memaknai Gelar Sarjana Pendidikan Aku mendapat gelar sarjana pendidikan tahun 2020. Perjuanganku mendapat gelar ini tentu tak seberat PLP para pahlawan mengusir penjajah. a mendapat gelar sarjana pendidikan sebenarnya hanyalah perjuangan melawan diri sendiri. Aku menaklukkan kantukku sendiri untuk bangun pagi-pagi mengetik skripsi. Aku menaklukkan rasa sungkanku agar bisa berwawancara dengan sumber-sumber dataku. Aku menaklukkan rasa lelahku untuk bisa pulang pergi Banjarnegara-Semarang. Aku menaklukkan rasa malasku yang suka menunda-nunda. Setiap orang sebenarnya sama saja dalam hal menaklukkan dirinya sendiri. Dan, aku berbangga dengan perjuanganku ini. Sudah empat tahun sejak aku dinyatakan menjadi sarjana pendidikan. Sekarang aku mempertanyakan lagi bagaimana caraku memaknai ge...

Ganti Kurikulum Artinya Bisnis Buku Lagi

Pagi pukul 06.45 aku sampai di madrasah. Kulihat beberapa siswa kelas 2 sedang mengeluarkan buku-buku paket dari kelas mereka. Mereka ditemani Bu Japar, seorang petugas kebersihan madrasah. Aku lihat buku-buku itu tidak basah sehingga membuatku bertanya-tanya mengapa buku-buku itu dikeluarkan dari rak kelas mereka. Biasanya, buku-buku itu dikeluarkan dari kelas dan dijemur jika kena air hujan. Maklum, beberapa ruang kelas sering bocor jika hujan terlalu deras. Tapi, tadi malam tidak hujan. Lantas mengapa buku-buku itu dikeluarkan?  Dari dekat tercium bau semut yang terasa pedas di hidung. Rupanya, buku-buku paket milik kelas 2 telah menjadi sarang semut. Telur mereka sangat banyak dan berwarna putih. Mengapa sampai menjadi sarang semut? Karena madrasah kami dekat dengan kebun salak dan di kebun itu juga ada pohon kelapa yang biasanya menjadi sarang semut. Pelepah salak maupun pelepah kelapa sering menjulur hingga menyentuh tembok kelas sehingga semut-semut kerap marambat masuk kela...

Menetapkan Prioritas

T idurku larut sekali. Aku bangun agak kesiangan, sekitar pukul 05.30. Pagi yang lumayan dingin. Telah tersaji secangkir besar kopi hitam yang agak manis. Aku membaca satu judul artikel dalam buku Bukan 350 Tahun Dijajah karya GJ. Resink. Membaca pagi tanpa gangguan amat sulit bagiku. Hampir mustahil. Dan, hasilnya selalu nihil. Mungkin selalu. Jika bukan pagi-pagi buta, hal yang sangat sulit kulakukan. Kulanjutkan dengan makan tape goreng yang dibalut tepung. Manis bercampur kecut di lidah. Mengantar ibu ke pasar sering kulakukan setiap Minggu. Seperti Minggu ini. Parkir ramai sekali. Berderet-deret sepeda motor dari timur hingga barat pasar. Dalam satu lokasi bisa kuperkirakan ada hampir seratus motor. Jika tarif parkir Rp.2.000 maka satu lokasi mencapai Rp.200.000 ini baru hitungan jika satu titik sekali saja ditempati. Namun, nyatanya satu titik bisa ditempati berkali-kali. Wanita bercadar. Kakek tua berkaca mata dengan baju kusut dan peci klimis. Apakah aku akan setua itu. Tanpa g...

Sabtu, 22 Februari 2025

Aku banyak menghabiskan waktuku di depan layar dengan berselancar di Facebook dan Youtube. Masih sama seperti kemarin, informasi yang kudapatkan masih seputar "Indonesia gelap" atau "kabur aja dulu" yang memang sedang santer di media sosial. Sesekali, aku terjebak video-video singkat yang sangat menarik perhatian tapi hanya berlalu begitu saja. Ini seperti bayangan-bayangan pohon di kaca jendela kereta api yang melaju cepat. Tak membekas. Tak berefek positif pada hidupmu. Tapi, mereka ada. Pukul 00.40 selesai menonton anime. Masih saja tak bisa lepas dari media sosial. Entahlah apakah ini memang benar-benar tak bisa lepas, atau hanya kurangnya kemampuan saja.  Lagi-lagi entahlah. Aku benar-benar tak mengerti. Bukankah kita akan mati? Lalu, bukankah pada akhirnya semua ini akan benar-benar tak penting? Suara gemuruh di langit malam menggetarkan kaca jendela. Kesunyian dan bunyi serangga. Tubuh yang berkeringat. Udara hangat seperti pertanda akan segera turun hujan.  ...

Indonesia EMAS atau CEMAS?

Jumat, 21 Februari 2025; 23.56 | Sikasur Setiap kali aku membuka media sosial, entah mengapa ada secuil kepercayaanku yang hilang terhadap Indonesia. Mungkin bukan hanya aku, kalian juga merasakannya. Bagaimana tidak, setiap kali membuka medsos, yang pertama terpampang adalah berita mengenai para pemimpin negeri yang membuat kebijakan sesuka hati tanpa memikirkan rakyatnya. Tagar Indonesia gelap mulai merebak di mana-mana. Mahasiswa turun ke jalan. Media sosial menjadi ajang perang antara buzzer dan pembela rakyat. Tagar kabur aja dulu juga ramai di kalangan para pemuda.  Menurut mereka, hidup di negeri asing lebih menjanjikan dari pada di Indonesia sehingga lebih baik pergi merantau mencari penghasilan di negeri asing. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tapi, bukankah dari dulu memang seperti ini? Bukankah para pemimpin kita memang dari dulu adalah orang-orang yang tamak dan haus kekuasaan, harta, dan jabatan? Apakah aku harus memperhatikan hal ini? Terkadang aku bertanya-tany...

Takziah

Jumat, 14 Februari 2025 Hari ini kamu takziah di Dawuhan. Ibu dari guru bernama Eka, yang sekaligus operator RA, meninggal dunia. Ternyata suami Bu Eka adalah murid Pak Ifin dulu kala. Di depan rumah ada pohon durian yang berbuah cukup lebat. Aku heran, mengapa orang-orang seperti terkoneksi satu dengan yang lainnya. Saat orang menyebutkan satu nama, maka akan merembet ke nama-nama lain yang sama-sama dikenal. Sungguh terlalu. Setelah takziah, kamu mampir ke rumah ibumu di Pucungsari. Nanti setelah salat Jumat, kamu akan muyen ke Sikasur.  Tadi di sekolah rasanya puas saat melaksanakan pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Materi Haji dikemas dengan sedikit permainan kelompok menjadi sedikit lebih seru dan menarik perhatian siswa. Yang biasanya ngobrol dan tak mendengarkanmu tadi lumayan mendengarkanmu. Ya, lumayan. 

Lingkaran Setan Obsesi Pola

6 Januari 2025 Pola Tidur Cepat dan Bangun Pagi Hari ini kamu mencoba untuk tidur cepat dan bangun pagi untuk mengerjakan tugas-tugasmu. Kamu berhasil tidur sekitar jam 10 mendekatinjam 11, ini bisa dikatakan tidur cepat sebab biasanya kamu tidur mulai jam 12 malam paling cepat. Rencananya kamu akan bangun jam 3 pagi kemudian mengerjakan tugas-tugasmu. Tapi ketika alarm berbunyi jam 03.00 kamu bangun sebentar lantas mematikannya lagi. Begitupun ketika pada 03.30 alarm kembali berbunyi kamu hanya mematikannya saja lantas kembali tertidur. Meskipun begitu, kamu berhasil bangun jam 04.00 lantas sedikit belajar untuk persiapan mengajar di kelasmu.  Jujur saja, kamu masih terjebak dengan obsesi untuk menemukan pola yang tepat dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugasmu. Maksudku, sudah sejak mahasiswa kamu berputar-putar dengan ambisi menemukan pola terbaik supaya menjadi orang yang terstruktur dan nyatanya selalu gagal. Kamu berencana mengerjakan tugas A jam sekian, tugas B jam s...

Hidup Untuk Kedamaian

5 Januari 2025 1. Kurangi Menonton atau Membaca Berita Minggu ini kamu banyak membaca berita-berita di media sosial. Ada berita korupsi triliunan rupiah namun pelakunya hanya dapat hukuman 6,5 tahun penjara. Ada berita pembunuhan mahasiswa yang tak kunjung menemukan titik terang meski sudah bertahun-tahun. Seorang yang laporannya ke polisi tak digubris dan baru digubris setelah ada korban lainnya. Kenaikan pajak 12% yang bikin orang-orang panas. Berita Jokowi yang dicap sebagai presiden paling korup. Ada banyak berita lain yang mampir ke berandamu.  Peristiwa-peristiwa yang diberitakan itu sebenarnya tak secara langsung mempengaruhi kualitas kehidupanmu. Memang berpengaruh tapi tak secara langsung. Kamu bahkan tak punya kendali apa-apa atas peristiwa-peristiwa itu. Yang kamu sadari justru rusaknya mood dan kedamaian pikiranmu. Sehari-hari rasanya jengkel dan ingin mengutuk orang-orang biadab di luar sana. Terlalu banyak membaca berita justru tak baik buatmu. Mulai sekarang kurangi ...

Memutus Lingkaran Setan

3 Januari 2025 Lingkaran setan adalah siklus negatif yang terus berulang. Siklus ini dapat berupa hutang, kebiasaan buruk, perasaan negatif, atau pertemanan yang alih-alih membawa manfaat malah membuatmu semakin terpuruk. Kamu menulis ini karena tak mau masuk ke dalam lingkaran setan, entah apapun itu bentuknya.  Rabu, 3 Januari 2025, kamu dan istrimu pergi ke bank untuk pelunasan hutang. Kamu bertekad untuk tidak lagi meminjam uang di bank. Mengapa kamu sampai sedemikian takutnya untuk berhutang di bank? Tak lain dan tak bukan sebab hutang bisa menjadi salah satu lingkaran setan yang sangat sulit untuk diputus. Kamu sudah melihat banyak sekali kasus seperti ini dialami oleh orang-orang terdekatmu. Kamu melihat mereka pontang-panting mencari uang untuk membayar cicilan.  Gaya Hidup Gaya hidup. Itulah salah satu akar masalahnya. Ya, gaya hidup. Orang berhutang untuk menunjang gaya hidupnya. Tak mampu beli motor secara cash, akhirnya berhutang. Tak mampu beli rumah, akhirnya ber...

Rutin Menjurnal dan Membuku

1 Januari 2025 Mulai 1 Januari 2025, kamu mau berusaha untuk rutin menjurnal dan membuku. Apa sih, maksudnya menjurnal dan membuku? Menjurnal artinya merefleksikan pengalamanmu di hari ini dan menuliskan hasil refleksimu ke dalam bentuk catatan harian. Sementara itu membuku artinya membaca sebuah buku dan berusaha memahaminya, merefleksikannya dengan kehidupanmu, atau sekadar untuk menambah pengetahuanmu. Level 1 dari menjurnal adalah hanya sekadar menuliskan apa yang kamu lakukan di hari ini. Tak ada interpretasi, tak ada refleksi, tak ada evaluasi. Level ini mari kita sebut saja Level Mengisi. Level 2 dari menjurnal adalah menuliskan interpretasi, refleksi, dan evaluadi dari apa yang kamu lakukan di hari ini. Level ini mari kita sebut saja Level Merefleksi. Level 3 dari menjurnal adalah mengkombinasikan level 1 dan level 2 untuk kemudian mengolahnya sehingga menjadi sebuah karya tulis yang bisa bermanfaat untuk dirimu atau bahkan mungkin untuk orang lain. Level ini, mari kita sebut s...

Catatan Kilasan Pemikiran

Inferiority yang Kita Miliki Ternyata, menurut Ki Hajar Dewantara bangsa kita punya rasa rendah diri. Aku baca di buku yang memuat pemikiran-pemikiran Ki Hajar. Di sana tertulis pendapat Ki Hajar bahwa kala itu ia dan para pendiri Taman Siswa menggagas sebuah pendidikan yang berakar dari kebudayaan bangsa Indonesia dan harus berani meninggalkan cara-cara barat dalam menyelenggarakan pendidikan. Gagasan tersebut ternyata mendapat banyak penolakan dari bangsanya sendiri. Bahkan, gagasannya tersebut dianggap sebuah kemunduran sepuluh tahun dari jamannya. Bangsa kita tidak percaya dengan apa yang mereka miliki sehingga masih terlalu terpaku dengan cara-cara dari bangsa barat. Kalau kita tinjau dunia pendidikan kita hari ini, apakah menurutmu kita masih saja bermental inferior? Ya, jawabku. Kita terlalu silau dengan metode-metode pendidikan dari negara barat, sebut saja Finlandia. Kita atau barangkali lebih tepatnya pemerintah berusaha mati-matian mengadopsi gaya pendidikan Finlandia. Meski...

Obsesi Pada Tumbuhan

Cuaca cerah. Langit biru dan sedikit awan menghiasinya. Kamu duduk di serambi masjid. Sepanjang perjalanan tadi kamu melihat-lihat berbagai tanaman mulai dari pohon durian, pohon pisang, kersen, jambu, hingga tanaman padi di sawah. Ada satu keinginan kuat dalam dirimu bahwa kamu ingin memiliki kebun yang cukup luas untuk kamu tanami pepohonan. Kamu ingin melakukan berbagai macam percobaan di kebunmu. Menonton saluran-saluran pertanian di YouTube. Entah mengapa kamu suka sekali dengan pepohonan. Aku mengira hal itu terjadi karena masa kecilmu sangat dekat dengan alam. Tempat bermainmu adalah kebun dan hutan juga sawah atau ladang. Di belakang rumahmu ada hutan kecil dengan berbagai pepohonan: duku, rambutan, kelapa, mahoni, albasia, melinjo, bambu, kopi, dll. Pohon-pohon kopi di belakang rumahmu berbatang besar karena sudah puluhan tahun tumbuh di sana. Apalagi pohon-pohon yang lain. Kamu sering memanjat mereka. Saking rapatnya mereka, kamu bahkan bisa berpindah dari satu pohon ke pohon...

Menentukan Prioritas

Senin, 27 Mei 2024   Menentukan prioritas barangkali adalah bagian terpentingdalam hidup.  Ya, menentukan apa yang paling penting adalah yang paling penting dalam hidup. Kalau kamu bisa menemukannya, akan lebih mudah buatmu mengatasi berbagai masalah. Ocehan orang lain misalnya, akan dengan mudah kamu tepis karena memang bukan itu yang terpenting dalam hidupmu. Kesulitan-kesulitan akan dengan senang hati kamu hadapi. Tidak memudahkan memang, tapi paling tidak kamu tidak akan merasa terbebani dengan kesulitan itu. Apa ungkapan paling sederhana untuk prioritas. Ada orang yang bilang tujuan. Ya, memang hidup perlu diisi dengan tujuan-tujuan. Bahkan untuk orang yang bilang kalau hidupnya mengalir seperti air. Asal jalan saja. Bukankah air juga bertujuan, bermuara, mengalir tidak asal mengalir. Ada lintasan-lintasan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Menguap dari tempat yang rendah (laut, danau, sungai) ke tempat yang lebih tinggi (langit) dalam bentuk awan....