Langsung ke konten utama

Tambal Ban dan Momen Jumatan yang Tertunda

Sudah pukul 11.38 dan aku belum sampai rumah. Panas matahari terasa membakar punggung tangan dan lenganku sebab aku tak pakai jaket. Ban motorku bocor dan terpaksa aku mencari tukang tambal ban. Untungnya, di pertigaan dekat grapari telkomsel masih ada tukang tambal ban. Istriku menunggu di dekat taman kota. Dia sedang hamil. Kasian sekali dia harus menunggu di sana sambil panas-panasan. Anak sekolah berjalan pulang bergerombol. Pedagang sayur masih santai di tepi jalan. Dia mengobrol dengan tukang tambal ban dengan santai. Gaya bicara si tukang sayur seperti bukan orang Banjar. Di sebelah kiriku ada tukang becak yang juga terlihat sangat santai di dalam becaknya.

Sepertinya mereka tidak berniat melaksanakan salat Jumat. Tapi, itu sama sekali bukan urusanku. Aku sudah belajar untuk tidak mengomentari kehidupan orang lain. Sebab, perhatian kita sesungguhnya terbatas. Kalau segalanya kita perhatikan, jangan-jangan apa yang seharusnya kita perhatikan malah luput dari perhatian kita. Istriku masih di sana mungkin. Mungkin, dia akan menunggu sambil menggerutu. Kemungkinan dia akan menyalahkanku sangat besar. Tadi saja sudah seperti itu. Paling-paling dia akan marah-marah.

Sampai 11.51 belum ada tanda-tanda akan selesai. Sepertinya kali ini terancam tidak ikut salat Jumat. Yah, mau bagaimana lagi.

Jum’at, 28 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...