Langsung ke konten utama

Postingan

Pusat Pikiran

Saya baru saja membaca satu tulisan pendek tentang pusat pikiran. Pusat pikiran memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu dan pada akhirnya memengaruhi cara seseorang bersikap dan bertindak. Ini sebenarnya mirip dengan apa yang pernah saya baca perihal nilai-nilai hidup. Seseorang sebenarnya entah sadar atau tidak selalu punya nilai-nilai yang mereka hidupi. Nilai yang mendasari hampir semua perbutan mereka. Kembali ke soal pusat pikiran. Di tulisan itu, si penulis mencontohkan salah satu pusat pikiran seorang manusia: sex. Orang yang pusat pikirannya adalah sex maka pandangannya tentang dunia di sekelilingnya juga akan berpusat pada sex. Misalnya, ia melarang istrinya keluar rumah karena takut lelaki lain akan menjadikan istrinya sebagai objek sex. Itu sebenarnya adalah cerminan pikirannya sendiri. Tulisan itu membuat saya memikirkan apa sebenarnya pusat pikiran atau nilai yang selama ini saya hidupi. Apa yang mendasari semua hal yang selama ini saya lakukan. Apakah saya hanya hidu...

Rinai Hujan di Depan Rumah

Bunyi tak-tak air yang menghantam cor-coran jalan. Hawa dingin yang menjalar. Langit putih. Istri masak pisang goreng. Kurang apa lagi? Suara motor menderu membelah hujan. Aroma kopi yang mengepul. Rasanya, tak perlu tambahan apa-apa lagi untuk bahagia. Tapi, memang begitu. Bukankah memang kita bisa bahagia tanpa perlu apa-apa selain diri kita sendiri? Ada buku-buku yang belum selesai dibaca. Tapi, bukankah ada banyak hal yang juga perlu dibaca? Agar-agar hijau yang belum selesai dimakan. Pisang belitung yang menggantung di dinding. Kipas angin yang diam. Dingin masih terus meruyak udara. Aku duduk dan mendengar televisi ngoceh soal gizi. Istri datang dengan pipnya yang hangat. Apa lagi yang kurang? Sore yang sempurna. Namun, aku tiba-tiba teringat mamak. Aku teringat orang-orang di desaku. Sedang apa mereka, ya? Apakah di sana juga hujan?

Medan Juang

Tepat Waktu Jadi orang yang tepat waktu sangat menyebalkan di negeri ini. Sudah berkalikali kamu datang ke sebuah acara secara tepat waktu dan yang terjadi justru kamu harus menunggu lama. Acara yang dijadwalkan jam 8 tapi baru dimulai jam 9. Sudah begitu, masih harus mendengarkan sambutan-sambutan yang membosankan. Kalau isi sambutan itu penting, masih mending. Sudah membosankan, tak penting pula. Para penyambut itu juga bicara omong kosong soal integritas. Apanya yang integritas kalau terhadap waktu saja tidak bisa menghargai. Gak heran, untuk urusan teknikal meeting saja bisa sampai seharian. Coba kalau tepat waktu dan pembicara tidak ngomong ngalor ngidul gak jelas, mungkin Cuma butuh waktu satu atau dua jam saja cukup. Ya, tapi begitulah. Banyak orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan cita-cita organisasinya. Medan Juang Sampai saat ini, saya masih belum juga tahu medan juang seperti apa yang sebaiknya saya geluti. Rasanya tidak ada sesuatu yang sedang saya kejar. Hidup lempe...

Hubungan dengan Pasangan

Sekarang kamu sudah punya seorang istri. Kamu bukan lagi bujangan yang memutuskan segala hal dengan pertimbangan egomu saja. Ada ego istrimu yang harus kamu pertimbangkan. Istrimu punya pemikiran. Dia punya idealnya sendiri. Saat ini, kalian hanya menjalani pernikahan kalian apa adanya. Kamu sesekali memikirkan istrimu. Mungkin dia juga sesekali memikirkanmu. Kalian menjalani rutinitas biasa setiap hari: bangun pagi lalu mandi dan mencuci baju; sarapan pagi berdua; berangkat ke kantor lewat jalur yang sama; mengajar di kelas masing-masing; pulang ke rumah, sesekali beli jajan di jalan; tidur siang yang melelahkan; menonton TV menjelang maghrib; makan malam, kadang berdua, kadang bareng-bareng; main HP sampai malam, kadang mengerjakan tugas kantor; dan yang terakhir tidur bareng. Rutinitas ini berulang. Mungkin akan berulang bulan ke bulan, tahun ke tahun. Begitu terus. Apakah dalam rutinitas itu ada pertumbuhan? Apakah rutinitas itu membuat hubungan kalian semakin erat? Apakah kalian j...

Perjalanan

Apakah hidup seperti perjalanan? Perjalanan seperti apa? Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka apa yang paling penting dalam sebuah perjalanan? Memikirkan orang lain? Apakah penting? Memikirkan apa yang sudah kamu lakukan? Memikirkan medan juang yang sedang kamu hadapi? Memikirkan tentang Tuhan? Apa yang sebaiknya kita pikirkan? Pikirkan? Rumuskan? Uji coba! Pikirkan ulang? Rumuskan ulang. Begitu terus sampai ketemu titik. Sampai kamu tahu bahwa kamu sudah berkembang. Pikirkan tentang pemikiranmu juga.

Menulis Yang Baik-Baik Saja

Panas di punggung dan rasa pegal di kaki. Mengantri. Sepatu yang kusam tak pernah disemir. Keinginan menjelajah lewat buku-buku bagus. Masa-masa itu sudah usai. Mungkin. Tapi, sesekali aku masih bisa mengunjunginya. Tanpa totalitas yang membuatku tenggelam, rasanya sungguh sangat berbeda saat aku tenggelam dalam lembar demi lembar cerita petualangan. Aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan muskil tentang banyak hal. Rasanya seperti ceracau yang membuatmu gila. Tapi begitulah hidupku sekarang. Mungkin memang hidupku sejatinya bukanlah untuk aku sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitarku. Tanggung jawab yang kian besar. Pertanyaan apakah aku bisa mencintai mereka dengan sepenuh perasaan dan pikiranku kadang menggangguku. Aku ingin mengenyahkan pertanyaan itu dan menjalani saja hidupku tanpa rasa takut atau penyesalan. Begitulah terus. Rencana-rencana tak kunjung kesampaian. Biar begitu, manusia terus-terusan membuat rencana. Dan aku pun demikian. Manusia memenuhi dunia ini dengan ren...

Malam Ini Ingin Menulis Puisi Lagi

Malam ini. Aku ingin menulis puisi. Tapi tak bisa. Aku ingin menulis tapi tak bisa menulis padahal aku sedang menulis. Mengapa seperti ini? Ada banyak hal yang aku perhatikan. Tidak! Bukan kuperhatikan, melainkan melintas sejenak di hidupku. Hingga malam yang sunyi tiada apa pun kecuali bunyi dengung nyamuk. Aku ingin sendirian. Tapi aku takut kesepian. Ikatan yang kita bangun ini? Apakah ini sepadan. Apakah setiap sesuatu harus ada ukurannya. Rugikah? Untungkah?

Membaca

Kamu menjadi pengawas PAS hari ini. Udara pengap sebab masker yang kamu pakai menutupi sirkulasi pernafasanmu. Kamu membaca Perempuan di Titik Nol. Kamu sudah lama sekali tak membaca karya sastra. Hari-hari rasanya berat sekali. Padahal, kamu tahu bahwa apa yang kamu lalui ini tak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan yang diciptakan dunia ini. Panas matahari dan aliran pikiran yang tak sehat. Kamu menyadari semuanya. Yang sebenarnya lelah adalah pikiranmu, bukan fisikmu. Membaca Perempuan di Titik Nol seperti sebuah peristirahatan mental yang menyenangkan. Punggungmu kaku karena terlalu banyak duduk. Kakimu pegal. Kepala yang terasa berdenyutdenyut. Suara Azan berkumandang. Rasa lapar menyerang meski hanya samar-samar. Sepertinya anak-anak juga merasakan hal yang sama. Kantuk yang tak tertahankan. Soal-soal ujian yang tak relevan lagi. Kamu akan mati sebab belum ada obat untuk kematian. Atau, mungkin tidak akan pernah ada. Mata yang memandang lelah. Badan yang tergeletak di meja...

Sebuah Riwayat dan Catatan-Catatan Kecil yang Mengiringinya

Anjas Saraswati. Aku mengenalnya sejak aku bekerja di MI GUPPI Rakitan. Lama setelahnya, aku menikahi dia. Dia pernah bilang, pertama kali melihatku dia anggap aku ini sales. Dulu aku mendaftar di Madrasah memakai kemeja LingArt warna biru. Kalau kupikir-pikir memang aku seperti sales. Waktu itu, aku memang belum mengenalnya sama sekali. Aku tak tahu namanya dan tak tahu dia mengajar kelas berapa. Aku dikenalkan secara sekilas pada guru-guru lain di sana. Termasuk kepada Anjas Saraswati ini. Awal aku bekerja di sana, tentu saja masih malu-malu dan tak banyak berinteraksi dengan rekan kerja. Dia juga seperti itu. Maksudku, dia tidak berusaha untuk menyapaku atau mengajakku mengobrol. Untuk sementara aku mengajar olah raga dan matematika kelas enam. Selesai mengajar aku hanya duduk di mejaku. Mejaku ada di barisan paling depan. Mejanya, di baris kedua dari belakang. Posisi dudukku membuatku sulit menghafalkan satu persatu nama-nama guru di sana. Tapi, toh lama-lama akan kenal juga. Aku m...

ANBK di MTs Muhammadiyah Petambakan

Assessment Nasional Berbasis Komputer (ANBK) MI GUPPI Rakitan dilaksanakan di MTs Muhiba Petambakan. Peserta ANBK adalah siswa kelas 5 yang berjumlah 20 siswa. ANBK dilaksanakan selama dua hari dengan pembagian dua sesi setiap harinya. Satu sesi diikuti oleh 10 siswa. Peserta sesi pertama diantar langsung oleh orang tuanya ke MTs sedangkan peserta sesi kedua dijemput dengan mobil antar-jemput milik MTs. MI GUPPI Rakitan sebenarnya sudah pernah mencoba melaksanakan ANBK secara mandiri di madrasah. Namun, karena fasilitas yang belum memadai, terpaksa kami menumpang di MTs Muhiba Tambakan. Kami beruntung masih diberi kesempatan untuk menumpang di MTs, pasalnya tak hanya MI GUPPI Rakitan saja yang menumpang di MTs. Ada juga MI lain seperti MI Muhammadiyah Tambakan dan MI Rejasa. Kami berharap pelaksanaan tahun depan harus sudah di MI GUPPI Rakitan. Anak-anak akan lebih mudah berlatih ANBK jika diadakan di madrasah sendiri. Wali murid juga tidak terlalu kerepotan saat menjemput anak-anaknya...

Syukur

Hari ini, kamu masih bisa merasakan dinginnya pagi, artinya kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Kamu masih bisa menulis. Kamu masih bisa membangunkan istrimu. Menikmati segelas air putih yang sejuk dan segar di pagi hari juga masih bisa kamu lakukan. Kamu masih bisa menjalankan ibadah solat subuh. Kamu masih diberi mimpi dalam tidurmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk berpikir, yang menandakan eksistensimu. Kamu masih bisa mendengar kicauan burung meski itu burung dalam sangkar. Kamu masih mendengar deru kercak air di kolam ikan depan rumahmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk melihat lagi dunia ini. Ini semua adalah salah satu kemampuan menikmati momen yang sangat penting untuk kamu syukuri. Kamu juga harus ingat bahwa untuk bersyukur kamu tak perlu mengaitkannya dengan orang lain. Kamu hanya diminta mensyukuri apa yang kamu punya dan apa yang kamu rasakan. Jika ada orang lain di luar sana yang kondisi duniawinya lebih buruk darimu, itu bukan alasan untuk kamu be...

Mengalir Seperti Air

Istrimu ingin sekali punya anak. Kamu juga. Tapi, hal-hal seperti itu tak selalu ada dalam kendali kita. Bisa saja kamu sudah berusaha, tapi masih saja belum dikaruniai anak. Punya anak bukan seratus persen ada dalam kendali kita. Tapi bukan pula berarti tak ada yang bisa kita lakukan. Kita bisa fokus pada hal-hal yang masih bisa kita lakukan, misalnya bersanggama secara teratur. Istrimu rajin menonton video-video terkait dengan bagaimana caranya cepat hamil. Dia melakukan saran-saran yang ada di sana. Dia melarangku minum kopi. Dia minum susu prenagen. Dan banyak lagi. Semuanya hanya demi satu tujuan, punya anak. Kamu sebenarnya tidak terlalu khawatir tentang anak. Orang-orang bilang anak itu sebenarnya hanya titipan. Kalau tidak dititipi atrinya tidak akan direpoti soal anak. Sangat sederhana. Kamu bahkan tidak tahu apakah hidup ini sebenarnya bermakna atau tidak. Mungkin bagimu tidak masalah. Tapi, kamu tidak hidup sendirian di bumi ini. Kamu hidup dengan istrimu. Maka, sudah menjad...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Menafsirkan Diamnya Istri

Sejak bangun tidur hingga menjelang zuhur istriku hanya memproduksi beberapa kata saja. Tentu ini aneh karena biasanya dalam sehari entah berapa ribu kata atau bahkan mungkin berjuta-juta kata akan ia produksi. Aku tak mendapat respos apapun saat mencoba menyapanya. Saat aku keluar kamar untuk cuci muka, kulihat dia sedang membuat kopi untukku. Ditaruhnya kopi itu di meja makan tanpa bilang apaapa. Karena tak bilang apa-apa aku jadi ragu apakah kopi itu memang benar-benar untukku, sebab aku tinggal bersama mertua yang juga suka minum kopi. Alhasil, kubiarkan saja kopi buatan istriku dingin di atas meja. Aku beraktivitas seperti biasa. Ini hari Minggu. Aku merapikan kamar: melipat selimut, menata bantal dan guling, merapikan seprei, dan menata boneka-boneka istriku. Aku juga menata buku-buku serta kertas-kertas yang berserakan, menata meja rias istriku, dan menata pakaian di lemari baju. Setelah semuanya beres, aku menyapu lantai kamar hingga kolong ranjang. Istriku hari ini punya banya...

Komunikasi Langsung

               Berbicara langsung dengan orang lain bagi banyak orang adalah hal yang sangat biasa. Saking biasanya, orang-orang tak merasa perlu untuk latihan. Namun, bagi orang introver, komunikasi langsung seperti itu bisa jadi sangat sulit, terutama ketika apa yang akan disampaikan adalah hal yang penting; yang tadinya bisa langsung mengungkapkan tanpa persiapan, kini perlu persiapan, ada yang tiba-tiba jadi grogi, dan kadang ada perasaan sungkan yang mengganjal. Komunikasi langsung yang mengharuskan dua orang bertatap muka dan mengungkapkan pikirannya kerap kali bukan pilihan orang-orang introver. Meskipun begitu bukan berarti mereka tak menginginkannya sama sekali. Mereka kadang kagum dengan orang-orang yang dengan mudah dapat berterus terang mengungkapkan pikirannya dan mereka diam-diam juga ingin bisa seperti itu.                Aku juga ingin seperti itu: mampu berkomunikasi dengan baik da...

Menikmati Subuh

Menikmati Subuh                Pagi ini dingin. Setelah solat subuh aku naik ke atas rumah untuk menikmati subuh. Sayup-sayup kudengar pengajian dari masjid di dusun lain. Ada pula suara-suara serangga pagi yang beraneka ragam.                Langit mendung. Semalam hujan rintik tak hentihentinya mengguyur bumi ini. Aku bersyukur atas apa yang masih kumiliki hari ini. Aku masih bisa mencium wangi masakan yang menguap menembus atap-atap rumah warga. Kulitku masih merasakan dingin dan sejuk. Telingaku masih jernih mendengar suara-suara alam. Mataku masih bisa melihat langit. Pikiranku masih dapat kugunakan. Aku masih punya kesempatan menulis. Apalagi yang kurang?                Terkadang, manusia sibuk mengejar apa yang tak ada di genggamannya dan melupakan apa yang sudah ia punya. Seorang pasangan berselingkuh sebab melihat ada yang lebih cantik, lebih ga...

Mie Ceker Rebus

Malam ini istri masak indomie rebus. Ada ceker di kulkas. Sekalian aja dicampurin. Dia potong-potong ceker itu kecil-kecil. Tambah daun bawang dan cabai rawit. Dia senang makan pedas. Tapi, perutnya kalah kuat denganku. Buatku, dia masak indomie aceh. Gak pakai ceker, si. Susah kalau Indomie goreng pakai ceker. Kalau kuah, cekernya bisa ikut direbus sekalian. Tapi, karena ini goreng, jadi susah. Akhirnya kami sepakat untuk berbagi ceker. Maksudnya, aku icip-icip ceker di indomienya. Hehe. Malam-malam hujan rintik. Dingin dan sayup-sayup terdengar solawatan di kejauhan. Seseorang melintas depan warung saat aku mengambil buah naga. Buah yang tak diaukainya. Dia pernah icip buah naga seujung sendok dan langsung muntah-muntah. Seperti biasa aku selalu banyak pikiran. Entah hujan entah tidak, tetap saja aku banyak pikiran. Dari pada banyak pikiran gak jelas, lebih baik makan indomie anget-anget buatan istri. Sambil menunggu istri selesai masak indomie, aku corat-coret saja di sini. Kalau di...

Kado Pernikahan dari Teman Lama

Sabtu, 30 Oktober 2021  Kang Hasan WA minta alamat rumah. Katanya, mau kirim paket. Belum sempat kubalas WA itu, Kang Hasan sudah kirim gambar paket yang siap dikirim. Di sana terpampang alamat rumah saya. Sehari kemudian paket itu sampai di rumah. Isinya kaligrafi atau apalah namanya itu, bertuliskan nama saya dan istri. Bentuknya bagus banget. Langsung saya pasang di dinding. Matur suwun, Kang Hasan, atas kado yang sangat indah ini. Sukses selalu buat Kang Hasan dengan karya-karya yang luar biasa.

Membuat Sebuah Keputusan

Oktober tahun lalu, kamu diterima bekerja di SMP N 3 Banjarnegara. Ada perasaan senang sekaligus takut tak bisa menjalankan tugas dengan baik. Hari ini sudah satu tahun lebih kamu mengajar di sana. Banyak pengalaman sudah kamu dapatkan. Kesalahan-kesalahan pasti telah kamu lakukan, baik kepada siswa maupun kepada guru lain, baik disengaja maupun tak disengaja. Kamu pernah mengajar kelas 8, menjadi wali kelas, mengikuti lomba, membimbing siswa lomba, menjadi anggota pembina UKS, menjadi anggota SKL, membantu pelaksanaan PPDB, dan banyak pengalaman lainnya. Pengalaman-pengalaman ini harus menjadi satu pengalaman yang menimbulkan perubahan pada dirimu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Hari ini, kamu membuat keputusan untuk meninggalkan pekerjaanmu sebagai guru di SMP N 3 Banjarnegara. Apa yang membuat kamu mengambil keputusan ini? Mari kita lihat apa saja yang membuatmu mengambil keputusan ini. Ada banyak alasan. Alasan idealis, misalnya: kamu merasa tak bisa jadi guru yang baik. Meng...

Memperbarui Diri

Gerak laju waktu tak bisa dihentikan. Hanya di film-film fiksi hal itu bisa terjadi. Waktu membawa serta perubahan. Dan perubahan menggilas hampir semua hal yang tak mau berkembang. Tak ada ampun. Pun demikian dengan profesi guru. Hari ini guru bukan lagi sumber utama pengetahuan. Setiap orang kini bisa mengakses sendiri ilmu pengetahuan dan mempelajarinya. Manusia telah menciptakan alat-alat canggih yang berguna untuk membantunya mempelajari hampir apa pun yang dia mau. Sudah sejak lama di dengung-dengungkan bahwa menyuruh anak-anak untuk menghafalkan materi pelajaran, atau sekadar mendengar guru berceramah tentang materi pelajaran adalah cara kuno dan ketinggalan zaman. Hari ini paradigma pendidikan sudah berubah. Dahulu tugas guru adalah mengajar. Ini berarti bahwa siswa bertindak pasif dan hanya sebagai objek. Hari ini, tugas guru adalah melaksanakan pembelajaran. Kedengarannya hampir sama. Tapi, pembelajaran punya arti yang lebih baik. Pembelajaran artinya adalah proses belajar ak...