Langsung ke konten utama

Betapa Tidak Akuratnya Laporan Hasil Belajar Siswa

Betapa Tidak Akuratnya Laporan Hasil Belajar Siswa

Pagi tadi, saya berangkat ke kantor seperti biasa. Padahal, sebenarnya ini sudah masuk liburan semester 1.

Saya berangkat ke kantor untuk menyelesaikan laporan hasil belajar siswa atau rapor. Ada beberapa kendala yang menyebabkan urusan rapor ini tidak selesai tepat waktu.

Mengurus rapor adalah salah satu tugas wajib seorang guru. Namun, ini adalah tugas yang tidak saya sukai. Kewajiban biasanya memang menyebalkan. Dan, mau bagaimana lagi.

Saya tak menyukai tugas ini bukan karena saya malas. Kalau kalian berpikir ini karena saya malas, bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan tulisan sepanjang ini? Saya tak suka mengurus rapor siswa karena kadang-kadang merasa bahwa hasil dari tugas ini sia-sia belaka.

Selama ini saya merasa betapa tidak akuratnya laporan hasil belajar yang disampaikan wali kelas ke wali siswa. Memang, tidak semuanya tidak akurat. Namun, lebih banyak yang tidak akurat. Bingung kan?

Menurut saya, laporan hasil belajar tidak mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Dengan kata lain, tidak akurat.

Saya bilang bahwa laporan hasil belajar tidak akurat bukan tanpa alasan. Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasarinya.

Dalam setiap mapel, nilai siswa harus di atas KKM. Jika tidak berhasil mencapainya, berarti siswa tidak lulus pada mapel itu. Sebenarnya ini bukan masalah. Ini bagus. Sayangnya, yang sering terjadi adalah banyak siswa yang gagal mencapai KKM.

Guru sering terpaksa mengatrol nilai siswa yang tidak mencapai KKM. Pengatrolan ini kadang dilakukan dengan mempertimbangkan kelakuan siswa selama di sekolah. Namun, kadang dilakukan sesuka hati.

Pengatrolan nilai sebenarnya tidak adil buat siswa. Pengatrolan nilai membuat siswa sulit mengetahui pencapaiannya yang sesungguhnya. Yang saya temui selama bekerja sebagai guru, siswa menjadi kurang termotivasi. Ini terutama dialami siswa SMP. Mereka mulai tahu, bahwa nilai-nilai di rapor mereka tak berarti apa-apa.

Hal lain yang juga membuat laporan hasil belajar tidak akurat adalah kecurangan yang dilakukan oleh siswa atau guru. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa ketika ujian banyak siswa yang mencontek. Meski tidak semuanya, namun ini sangat signifikan. Ketika masih menjadi siswa, saya tahu ada beberapa guru yang membiarkan hal ini terjadi.

Satu lagi yang membuat laporan hasil belajar tidak akurat, terutama di masa pandemi ini adalah tes yang dilakukan di rumah melalui sistem daring.

Saya menemukan bahwa siswa-siswa saya hampir semuanya mendapatkan nilai yang sangat bagus. Padahal, saya tahu betul beberapa siswa memiliki kemampuan yang cukup buruk dalam aspek pengetahuan. Atau, mari kita berbaik sangka saja kalau pandemi ini telah menguak fakta bahwa orang tualah guru terbaik. Buktinya anak-anak mendapat nilai yang begitu cemerlang.

Saya menulis ini sebagai uneg-uneg. Betapa saya ingin menulis nilai siswa di dalam rapor sebagaimana adanya. Saya ingin siswa melihat pencapaiannya yang sesungguhnya.

Kalau dalam matematika seorang siswa mendapat nilai 40 di aspek pengetahuan, mengapa kita harus mengubahnya menjadi 70? Demi apa?

Bukankah nilai asli yang hanya 40 ini mungkin malah akan membuat siswa itu merenung? Mungkin dia akan berpikir bahwa matematika tidak cocok untuknya, dia akan mencari di bidang mana dia bisa bersinar. Bukankah pencarian akan diri sendiri itu baik?

Atau dengan nilai yang hanya 40 ini, siswa akan terlecut motivasinya untuk memperbaiki nilai itu. Tidak seperti nilai palsu 70 yang akan membuat siswa merasa aman-aman saja.

Saya juga heran, mengapa saat pembagian rapor siswa tidak dilibatkan. Dalam hal ini, yang mengambil rapor adalah orang tua saja.

Apakah kita berharap orang tua nantinya akan menyampaikan rapor itu ke anak, menjelaskan pencapaian-pencapaiannya selama di sekolah, dan menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan anaknya itu?

Bukankah yang lebih paham keseharian siswa di sekolah adalah guru? Bukankah yang seharusnya diberi tahu pencapaian-pencapaian siswa adalah siswa itu sendiri?

Saya ragu-ragu bahwa orang tua akan menyampaikan apa yang tertuang di dalam rapor dengan baik kepada anaknya.

Ada dua kecenderungan, yaitu memuji atau memberi hadiah jika nilai anak bagus; dan memarahi atau mengkhotbahi jika nilai anak jelek. Bagi saya, dua-duanya sama-sama buruk. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...