Sebut Saja Sani
Dia
termasuk anak yang kurang beruntung. Ibunya meninggal saat dia masih kecil.
Tentu saja dia kekurangan kasih sayang ibunya. Padahal, kasih sayang dan
perhatian seorang ibu amat penting untuk tumbuh kembang anak. Ketidakberuntungan
Sani masih ditambah dengan perilaku ayahnya yang sering mabuk-mabukan. “Aku
kemarin diajak mabok sama bapak, sama Pak Muji juga,” begitu kata Sani saat
kutanyai tentang bapaknya. Dia diberi segelas ciu oleh bapaknya. Padahal, Sani
baru kelas lima. Anak yang harusnya dibimbing ke arah yang benar malah diajak
mabok sejak kecil. Sani juga pernah melihat ayahnya sedang mencopet di
terminal. Bapaknya tak segan-segan memperlihatkan perbuatan buruk di depan
anaknya seolah-olah itu adalah hal yang wajar. Alhasil, perilaku Sani pun tak
jauh beda dengan ayahnya. Di sekolah ia kerap mencuri uang teman-temannya.
Bukan sekali atau dua kali. Aku berkali-kali harus memanggilnya ke kantor untuk
memberinya nasehat dan sanksi atas tindakannya itu. Ia pernah mencuri makanan
yang harusnya untuk para pekerja pembangunan mushola. Perilaku menyimpangnya
tak hanya berkaitan dengan mencuri. Dia kerap mengganggu teman-temannya baik
yang laki-laki maupun perempuan. Awal mula aku menjadi wali kelasnya, aku
dibombardir dengan “nasehat” dari guru-guru lain agar berhati-hati dengan Sani.
Para guru menceritakan pengalaman mereka menjadi wali kelas Sani. Ada yang
bilang Sani bodoh. Ada yang bilang nakalnya sudah kelewat batas. Ada yang
menyarankan untuk memindahkan Sani ke sekolah lain saja. Bahkan ada yang bilang
kalau Sani sudah “tak tertolong” lagi. Ya, Sani sudah mendapat cap buruk dari
banyak orang. Padahal, dia sebenarnya seperti anak yang lainnya, hanya saja dia
kurang beruntung.
Lain
Sani lain lagi Ipul. Ayah dan ibunya bercerai sejak ia masih kecil. Ayahnya
kembali ke kampung halamannya di daerah Sukabumi. Sedangkan ibunya merantau ke
luar negeri. Bertahun-tahun ia tak pernah berjumpa dengan ayah dan ibunya.
Ayahnya tak pernah berkirim pesan atau menanyakan keberadaannya. Ibunya hanya
pulang beberapa tahun sekali. Dia kini tinggal dengan kakek, nenek, paman,
serta bibinya. Ipul sedikit lebih beruntung dari Sani karena orang-orang di
sekitarnya tak melakukan perbuatan-perbuatan buruk seperti yang dilakukan
bapaknya Sani. Namun tetap saja dia adalah anak yang kurang beruntung. Orang
tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, dan Ipul tak pernah mendapatkan
sekolah pertamanya itu. Alhasil, dia selalu terlambat dalam hal akademik.
Pemahamannya akan materi pelajaran sangat lambat. Ya, aku maklum. Aku pernah
bertanya kepadanya apakah dia belajar di rumah. Dia bilang tidak. “Nggak ada
yang marahin aku kalau aku nggak belajar, Pak,” kata Ipul kepadaku. Orang-orang
di sekitarnya mungkin merasa kasihan kepada Ipul sehingga ia dimanjakan. Tapi,
cara memanjakannya sungguh keliru. Ipul mestinya masih harus didorong untuk
belajar. Apalagi ia masih di tahap sekolah dasar. Tapi, mau bagaimana lagi.
Keadaan memang tak memungkinkan. Tak semua orang menganggap pendidikan sebagai
prioritas utama. Kakek dan neneknya sudah sangat senang Ipul bisa sekolah.
Perihal dia belajar atau tidak yang penting sudah ikut sekolah.
Banjarnegara, 30 Januari 2025

Komentar
Posting Komentar