Hujan dan
Dedaunan
Daun-daun dan hujan mencipta suara rintik. Di kulitku, tetes-tetes
air mulai menitik. Dingin. Menggelitik. Aku belum menemukan jawab atas
pertanyaan yang terbetik. Bertahun-tahun pertanyaan itu bertahan di kepalaku. Di
sana, dikepalaku. Seperti gelembung udara yang terjebak dalam air yang membeku.
Pertanyaan itu mungkin tak terjawab. Semakin aku berusaha menjawabnya
semakin aku terjerembab ke dalamnya. Mungkin, pertanyaan itulah jawabannya.
Seperti katamu dulu, hidup yang tak dipertanyakan tidak layak dipertahankan. Kau
terus bertanya, apa yang kau inginkan dari hidup.
Daun-daun yang telah menguning berguguran ditiup angin, seperti
itulah manusia di senja kala hidupnya yang begitu singkat, yang saking
singkatnya sampai membuat manusia kadang lupa dan melupakan bahwa hidup begitu
singkat. Tak selamanya. Seperti hujan yang hanya sesaat. Hujan dan daun.
Sore hari dan awan yang sedikit manyala. Dan, kau yang menanyakan
masakan apa yang aku inginkan. Apa yang akan berubah setelah kita dipersatukan?
Rutinitas yang menjemukan. Akhir pekan yang menyenangkan. Idealisme
yang dihianati. Realitas yang dihayati. Mampukah kau memeluknya erat? Mampukah
kau memeluknya sambil menanggung semua rasa sakit? Impian dan harapan. Ambisi
dan angan-angan. Apa yang kau cari?
Banjarnegara, 04 Juni 2021

Komentar
Posting Komentar