Langsung ke konten utama

Pak Purwo dan Komitmen

Pak Purwo dan Komitmen

Apa, sih, yang membuat seseorang tampak berkarisma? Komitmen menurutmu. Sasuke dengan komitmennya untuk balas dendam, Naruto dengan komitmennya untuk menjadi Hokage, dan Pak Purwo dengan komitmennya untuk berbuat kebaikan. Seseorang tampak lebih berkarisma ketika ia memegang komitmennya. Seperti apa komitmenmu? Apakah kamu punya komitmen terkait dengan hidupmu? Apa sebenarnya yang ingin kamu perjuangkan? Kamu pernah menulis tentang belajar. Tentang sarjana pendidikan. Tentang kewajibanmu untuk mendidik. Tentang kewajibanmu untuk mendidik diri sendiri.

Jika itu komitmenmu, apa yang kamu pelajari dari Pak Purwo? Apakah kamu belajar sesuatu darinya? Tidak. Kamu tidak belajar apa pun sampai kamu melakukannya sendiri. Belajar adalah meniru dan menguasainya. Lantas setelah itu memodifikasi. Apakah benar? Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak perbincangan dengan diri sendiri. Terlalu banyak. Kepalamu begitu bising hingga kamu tak bisa mendengar apa pun. Kehilangan arah dan gairah. Tak bisa belajar. Merasa sudah puas. Stagnan. Bisakah kamu belajar. Bagaimana cara belajar yang benar?

Kamu harus melakukannya. Kamu harus belajar membuatnya. Membuat cara belajarmu sendiri. Membuat metode belajarmu sendiri. Apakah ini bisa? Ya, mungkin bisa. Mengapa tidak kamu coba saja.

Kita mungkin tak bisa menilai ketulusan seseorang tapi kita mungkin bisa merasakannya. Kamu bisa belajar jadi orang baik. Apa itu berarti sekarang kamu bukan orang baik?

Atau, kamu bisa belajar teknik sok kenal sok dekat ala generasi 70-an. Itu mungkin mempan untuk generasi sepuh tapi barangkali tidak sama sekali untuk generasi sekarang. Beda generasi beda cara. Tapi, setiap ikatan butuh ketulusan meski mungkin itu hanya dari salah satu pihak.

Kopi dan meditasi. Menelusuri pikiran sendiri. Kenapa harus menunggu tua jika kamu bisa melakukannya sekarang? Kenapa harus menunggu selama itu. Uang? Itu penting tentu saja. Totalitas. Kenapa tiba-tiba muncul kata itu. Apakah algoritmaku kacau? Apakah aku memang hanya sebongkah algoritma?

Adzan. Mencoba mendengarkannya. Tak ada yang benar-benar besar yang sekarang sedang aku pedulikan. Tak ada kiranya. Apakah karena aku takut berharap? Mungkin itu benar. Apalagi selain itu? Tanganmu. Atau lebih tepatnya jarimu. Dia sudah mampu bergerak ke sana ke mari dengan lincah tanpa membuat satu kesalahan yang fatal. Apakah ini kabar baik? Entahlah. Mungkin benar bahwa ini adalah kabar baik.

Sekian dulu, kawan.

Banjarnegara, 20 Februari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...