Langsung ke konten utama

Cita-Cita yang Semakin Sederhana


Cita-Cita yang Semakin Sederhana

Semakin kamu dewasa, semakin kamu sadari bahwa banyak hal yang tak dapat kamu capai. Ada banyak sebab mengapa banyak hal tak dapat kamu capai. Tapi, bukan itu yang ingin kita bahas kali ini. Aku ingin agar kamu membahas bahwa cita-cita kita setiap hari, sepanjang waktu selalu berubah. Dari hari ke hari ia makin sederhana saja. Ya, benar. Cita-citamu makin sederhana saja.

Sekarang, setelah hidup hampir selama tiga puluh tahun, yang kamu inginkan sebenarnya adalah menikmati hal-hal yang kamu miliki saat ini. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Tapi, bukankah kesederhanaan juga merupakan hal yang rumit? Kamu pernah membahasnya di catatan lain, bahwa kamu ingin hidup sederhana. Kamu sudah membahas sederhana dalam hal memakai ponsel, sederhana dalam hal prinsip, sederhana dalam hal pakaian, dan lain-lain.

Nanti kamu harus meneruskan lagi catatan mengenai sederhana yang ada dalam ponselmu. Kembangkan konsep sederhana itu dan jalanilah konsep yang kamu buat sendiri. Cita-citamu kali ini mungkin terbilang sederhana. Kamu ingin bisa berkebun. Ya, berkebun. Kamu tidak salah dengar kawan. Entah itu kebun kecil di rumah atau kebun yang cukup luas di area tertentu. Intinya kamu ingin berkebun. Pertanyaannya, mengapa kamu ingin berkebun? Ada banyak alasannya. Pertama, menambah penghasilan.

Kedua, menyalurkan hobi. Ketiga, membuang tekanan kerja menghilangkan stres. Mengapa kamu ingin menambah penghasilan? Tentu saja karena penghasilanku terbilang rendah sehingga cukup sulit untuk memenuhi kebutuhan selama ini. Kalau begitu, mengapa berkebun yang kamu pilih untuk menambah penghasilan? Apakah tidak ada cara lain? Entahlah, kuakui bahwa sulit menemukan cara lain untuk menambah penghasilan. Kamu memang tak pernah mencobanya kawan. Kamu sekadar memikirkannya saja. Berdagang misalnya, apakah kamu pernah mencobanya? Tentu saja tidak.

Satu-satunya hal yang terpikirkan olehmu hanya berkebun. Itu mungkin karena kamu memang suka tumbuh-tumbuhan dan masa kecilmu dihabiskan di lingkungan yang sangat bergantung dengan tumbuh-tumbuhan. Kamu bahkan tak suka hegemono kota.

Masa kecilmu memang dihabiskan di desa. Dengan ayahmu, kamu menanam pisang, pohon salak, mahoni, albasia, dan berbagai tanaman lain. Kamu bermain di hutan kecil dengan banyak tumbuhan berkayu seperti duku, kopi, melinjo, pohon bambu. Kamu bermain di sungai. Kamu mengumpulkan kayu bakar. Ya, kamu hidup di desa dan akrab sekali dengan alam. Apakah mungkin, keinginanmu untuk memiliki lahan untuk berkebun sesungguhnya hanyalah tekanan bawah sadar untuk kembali terhubung dengan alam? Apakah mungkin alasan ekonomi hanyalah tabir saja? Hanya alasan yang kamu ada-adakan supaya kamu dapat berkebun? Apakah tak ada cara lain untuk menambah penghasilan? Misalnya dengan berdagang? Ya, kamu tentu akan menjawab: “Kalau kita bisa meraih dua hal dengan satu tindakan bukankah hal itu bagus?” Benar. Itu memang bagus. Tapi kamu juga harus tahu bahwa berkebun membutuhkan lahan yang tidak murah. Baik lahan di rumah dengan memanfaatkan konsep atap, maupun lahan di atas tanah dengan membeli langsung. Dua-duanya membutuhkan dana yang tidak sedikit, kawan.

Mungkin kamu perlu pula memikirkan cara lain sebelum dapat menikmati cita-cita sederhanamu itu. Tapi kawan, bukankah orang sering salah perhitungan. Ia yang menginginkan sesuatu dengan prasyarat kadang malah terlena dengan prasyarat itu, atau dengan kata lain tak bisa keluar dari prasyarat itu. Jadi, mau bagaimana sekarang? Ya, beginilah kawan.

Harapan itu memang menjadi sumber masalah. Kamu berharap sesuatu, maka kamu menanggung segala konsekuensinya. Tapi, hidup memang demikian bukan? Yang terpenting adalah menemukan harapan yang pantas kamu perjuangkan. Begitu.

Hari ini kamu akan pergi ke sekolah untuk beres-beres kelas dan membayarkan honor bulanan guru. Mari kita bedah dengan prinsip kesederhanaan yang kamu coba hidupi. Sederhana dalam bekerja. Sederhana dalam bekerja adalah berusaha melakukan pekerjaanmu seefektif dan seefisien mungkin agar sebisa mungkin kamu tak perlu mengerjakannya di rumah. Ya, begitulah.     

Tak usah urusi hal-hal yang ada di luar kendali dan tanggung jawabmu. Kurang lebih seperti itu. Hari ini pekerjaanmu adalah guru. Maka, mari kita bedah hal-hal di dalam pekerjaanmu sehingga kamu menjadi tetap sederhana dan tidak rumit.

Pertama, tugas pokokmu sebagai seorang guru adalah pembimbingan terhadap seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabmu. Kamu sudah tahu, bahwa tahun ajaran baru kamu akan mengajar kelas 5 lagi. Artinya, siswamu di tahun depan berganti. Ada 21 anak. Sebagian dari mereka pernah kamu tangani ketika meraka di kelas 1. Apa yang akan kamu lakukan di tahun ini dengan kurikulum baru. Apa sebenarnya yang kamu harapkan dari siswa-siswamu? Apakah perlu membuat kesepakatan kelas? Bagaimana cara menyederhanakan pekerjaanmu sebagai seorang wali kelas? Hemmm. Kamu akan menemukan banyak hal di kelas ini. Bagaimana mengelolanya? Entahlah!

Kedua, tugas tambahan sebagai bendahara bos. Ketiga, tugas tambahan sebagai pengelola koperasi. Keempat, menjalin hubungan baik dengan sesama rekan. Kelima, tugas insidental.

Entahlah! Aku merasa kekurangan waktu. Banyak sekali hal yang harus kukerjakan sehingga terkadang aku merasa tak berdaya, dan karena merasa tak berdaya aku justru tak melakukan apa-apa. Ya, memang begitulah kamu kawan. Ini mungkin karena cita-citamu masih terlalu rumit.

Menyederhanakan cita-cita artinya menemukan apa yang paling penting buatmu. Dan bisakah kamu menemukannya?

Rabu, 26 Juni 2024   05.37 WIB


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...