Menikmati Kopi
Dan bocah sialan itu
menikmati kopinya. Suara jangkrik di belakang rumah. Dengungan nyamuk yang
menyebalkan. Angin yang mampat dan tak bergerak. Perasaan yang timbul
tenggelam. Hari-hari yang lelah dan membosankan. Budi yang malang. Budi yang
tak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup. Ia jalani hari-harinya yang payah
sebab ia tak tahu apakah yang dilakukannya bermakna atau tidak. Ia berangkat ke
kantornya dengan setengah hati. Berpura-pura menyenangi apa yang ia kerjakan.
Hari ini pacarnya merajuk.
Menahannya agar jangan dulu berangkat. Budi yang malang, yang sebenarnya memang
enggan berangkat, namun sungkan dan tak enak hati jika tak berangkat.
Berkompromi dan terlambat berangkat barangkali bagus, pikirnya. Dan, dia
benar-benar terlambat berangkat. Namun, tak apa. Tak ada yang memprotes. Bahkan
jika kau tak berangkat sekalipun, kau tak akan diprotes. Budaya kerjanya memang
seperti itu. Sangat longgar.
Budi yang malang ingin
kebebasan, namun ia tak tahu cara membebaskan dirinya sendiri. Dia baca buku
tentang pembebasan. Di sana, di buku itu, Budi diajari bagaimana meraih kebebasan
yang hakiki. Bahwa dengan memilih berkomitmen pada satu hal, kau akan
terbebaskan dari hal-hal yang tak kau pilih. Namun, Budi tak pernah tahu apa
yang akan dipilihnya. Bahkan Budi bertanya-tanya apakah sebenarnya dia punya
pilihan. Dan, Budi juga bertanya-tanya apakah benar jika dia sudah memilih satu
hal, maka dia akan terbebaskan dari hal-hal lain yang merintanginya,
membelenggunya, merantainya, memasung jiwa dan pikirannya?
Dan, dibuku itu Budi diajari
bahwa kau harus membuktikan sendiri apakah pilihanmu benar atau tidak dengan
cara menjalaninya tanpa gentar.
Tak ada jalan pintas.
Jika Budi memilih ingin
menjadi pendidik, maka sekuat kemampuan yang dimilikinyalah upaya yang harus
dia torehkan. Bahkan jika perlu, melebihi kemampuan yang dimilikinya.
Bagaimana mungkin kau bisa
tahu bahwa pilihanmu salah tanpa kau berupaya semaksimal mungkin untuk
membuktikannya? Bagaimana jika kita buang-buang waktu saja? Budi bertanya
seperti itu. Bagaimana jika ternyata, dengan cara yang belum kita ketahui saat
ini, kita bisa menentukan pilihan mana yang benar-benar kita inginkan dalam
hidup?
Bagaimana jika ternyata kita
tak perlu repot-repot membuktikan ketepatan pilihan kita? Dan Budi yang malang
hari ini pergi ke perpustakaan sekolah untuk persiapan pembagian buku pelajaran
SMP. Bersama Farida, guru kelas delapan yang tak suka dibantah, Budi menata
buku-buku pelajaran sesuai nomor urut di punggung buku untuk kelak memudahkan
pembagian buku. Nyatanya, itu tak pernah mudah.
Buku-buku yang sudah
tertumpuk di atas meja perpustakaan tak tertumpuk dengan urut. Nomornya begitu
acak dan melelahkan mencari urutan nomor dengan tepat di antara ratusan buku. Dan,
Farida yang menyebalkan itu terus saja mengucapkan kamar pembantaian setelah
tahu aku akan menikah.
Apakah dipikirannya hanya ada
kamar pembantaian jika dia mendengar ada yang akan menikah? Budi terus menata
buku-buku sesuai nomor urut di punggung buku. Dari nomor A-01 sampai A-32, dari
A-33 sampai A-64, dan terus begitu hingga harus membungkuk-bungkuk jika ada
nomor yang terlewat. Budi yang malang bosan dan sesekali berjalan hilir mudik
untuk mencari buku-buku yang menarik yang barangkali bisa dia bawa pulang
dengan diam-diam. Budi yang keranjingan membaca tentu suka berada di
perpustakaan. Tapi, perpustakaan ini terlalu penuh dengan buku-buku pelajaran
yang tak menarik.
Buku-buku pelajaran yang
serupa dengan yang dulu dia pelajari selama sekolah. Buku-buku pelajaran yang
sumbangsihnya dalam kehidupan Budi barangkali tak signifikan. Buku-buku
pelajaran itu harus dihafalkan oleh siswa-siswa sekolah menengah pertama yang
malang.
Mereka masih saja dijejali
materi yang itu-itu saja, yang sama dengan materi yang dahulu dijejalkan kepada
Budi yang malang. Padahal, kehidupan mereka kini tentulah sangat berbeda dengan
kehidupan Budi saat dijejali materi yang itu-itu saja. Sungguh, kini bukan
hanya Budi yang malang. Siswa-siswa itu juga adalah siswa-siswa yang malang.
Dan, Budi yang malang pulang
tanpa sempat membawa pulang buku bagus untuk dibacanya di rumah. Sungguh
malang. Teramat malang. Bagaikan tiada lagi yang bisa lebih malang. Dan, Budi
yang malang masih punya Lolita. Buku bekas yang ia beli di toko online. Budi
yang malang mulai membiasakan diri membeli buku-buku bekas. Dia sadar dengan
kemampuan finansialnya saat ini.
Buku baru itu mahal kalau dia
nanti sudah menikah. Satu dua kali barangkali istrinya yang bahenol akan
mengizinkannya membeli buku baru. Nanum, tentu saja tak akan bertahan lama.
Itulah sebabnya Budi mulai dan memilih untuk menerima buku-buku bekas. Sebenarnya,
ada yang lebih murah dari buku bekas, yaitu buku bajakan. Sayangnya, Budi yang
malang adalah warga negara yang taat hukum. Setidaknya menututnya.
Dia tak mau membeli buku-buku
bajakan. Bekas boleh asal bukan bajakan. Budi yang malang berencana menjual
buku-bukunya yang tak suka dia baca. Buku-bukunya yang membosankan lebih baik
dijual saja dan ditukar dengan buku-buku baru atau bekas yang lebih enak
dibaca. Budi sebenarnya takut tak bisa memenuhi kebutuhan istrinya yang bahenol
itu. Istri yang punya payudara sebesar buah melon dan punya bokong sebesar
semangka.
Meski menurutku, ketakutannya
sebenarnya bisa dibilang tak beralasan. Calon istrinya tipe wanita yang
sepertinya tak banyak menuntut. Sebenarnya, yang paling ditakutkannya adalah
diselingkuhi. Dia takut harga dirinya terluka. Dia takut egonya terluka.
Dia masih dalam proses
mengembangkan kemandirian emosional. Dia tak ingin menggantungkan perasaannya
kepada orang lain. Dia ingin mandiri secara emosional. Namun, dia sebenarnya
juga takut tak dapat memuaskan pasangannya. Dia, Budi yang malang itu tahu
bahwa calon istrinya sama sekali belum memiliki kemandirian emosional.
Rasa bahagianya masih sangat
ditentukan oleh orang lain. Budi yang malang tak suka dengan perutnya yang
membuncit sebab itu tak terlihat baik untuk kesehatannya. Budi kini ingin
mengecilkan perutnya.
Tapi, dia tahu di waktu dekat
ini mungkin agak mustahil untuk mengecilkan perutnya. Sebab, dia akan menikah
dan di rumah barunya—maksudku, di rumah mertuanya—dia selalu dijejali dengan
beraneka makanan yang mengenyangkan.
Aku ragu, bahwa budi yang
malang akan sanggup mengecilkan lagi perutnya yang sudah membuncit. Tapi, biar
saja Budi berusaha mengecilkan perutnya. Apa salahnya mengecilkan perut yang
membesar dan tak sehat. Haha.
Dan, ini malam minggu yang
pastinya tak menyenangkan buat calon istrinya sebab Budi kali ini malah
mengetik di depan laptonya sampai punggungnya melengkung karena sakit. Budi
sedang menikmati waktu bujangnya yang akan habis dalam beberapa hari lagi. Budi
ingin menikmati waktunya untuk menulis.
Melihat huruf-huruf
bermunculan bagaikan hujan gerimis yang syahdu dan menyenangkan. Kadang
menyenangkan. Namun, kadang juga menyebalkan. Ia tidak tahu, apakah jika nanti
ia sudah menikah, ia masih punya kesempatan untuk menulis dengan mudah dan
nyaman. Namun, di akhir cerita ini,
Budi yang malang tahu bahwa sebenarnya dia adalah laki-laki beruntung. Dia laki-laki yang diinginkan banyak wanita. Dan, dia laki-laki yang bisa memilih sendiri keputusannya. Dia benar-benar akan menjadi laki-laki yang beruntung.
Kamar atas, Sabtu, 24 Juli 2021

Komentar
Posting Komentar