Langsung ke konten utama

Sekolah Mengajarkan Kebohongan

 

Sekolah Mengajarkan Kebohongan

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah target sekolah terkait pencapaian kompetensi peserta didiknya. KKM ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kompleksitas materi, daya dukung sekolah, dan kemampuan awal rata-rata peserta didik (intake).

Karena merupakan target sekolah, maka KKM ditentukan pada awal tahun pembelajaran oleh masing-masing satuan pendidikan. Namun, apakah kenyataannya memang demikian? Kukira tidak. Penentuan KKM biasanya malah mendekati ujian sekolah atau bahkan saat pengolahan nilai rapor. Itu pun ditentukan semau sendiri.

Aku pernah menyaksikan sendiri kepala sekolah berdebat soal KKM. Dia mau KKM di angka 70, sedangkan beberapa guru ingin di angka 60 saja. Alasan kepala sekolah kalau 60 terlalu rendah berarti sekolah ini jelek. Ya, begitulah. Akhirnya disepakati KKM 70. Penentuan KKM seperti ini jelas salah. Ini namanya semau sendiri.

Dari kejadian ini aku bertanya-tanya, jangan-jangan sekolah lain juga seperti ini. Aku berselancar di internet dan memang ternyata benar. Banyak artikel yang membahas hal ini.

KKM dijadikan ajang untuk menaikkan prestis sekolah. Ada anggapan bahwa sekolah dengan KKM tinggi berarti berkualitas. Nyatanya tentu tidak.

Yang menjadi korban adalah peserta didik. KKM yang terlalu tinggi bisa membebani mereka jika daya dukung sekolah dan kemampuan awal mereka pas-pasan. Guru juga sama saja. Saat KKM terlalu tinggi dan banyak siswa gagal mencapainya, segala upaya dilakukan agar siswa-siswa itu dapat mencapai KKM. Dari remidi hingga tugas tambahan. Namun, apakah dengan remidi serta merta kompetensi siswa dapat membaik? Kalau nilai kukira iya, tapi kompetensi kukira tidak mungkin.

Pada akhirnya, marak terjadi pengatrolan nilai di mana-mana. Ini bukan rahasia lagi, kok. Siswa yang nilainya di bawah KKM tiba-tiba punya nilai yang bagus sekali. Maka jangan heran jika ada siswa yang biasa-biasa saja, tugas tidak mengerjakan, berangkat sekolah senin kamis, menjawab soal asal-asalan tiba-tiba mendapatkan nilai bagus. Hal ini sangat berbahaya. Motivasi siswa untuk belajar akan hancur. Siswa yang awalnya rajin belajar akan merasa percuma belajar karena yang malas saja bisa dapat nilai bagus, buat apa rajin belajar. Siswa yang malas belajar akan makin malas belajar.

Nilai-nilai yang terpampang di rapor jadi tidak bermakna. Orang tua atau pihak yang berkepentingan akan disesatkan rapor peserta didik karena nilai yang terpampang tidak sesuai dengan penguasaan pengetahuan, perilaku, motivasi, dan keterampilan peserta didik.

Hal ini juga akan menyebabkan tidak transparannya proses penilaian belajar. Jika ada yang ingin mengetahui bagaimana guru melakukan penilaian belajar apakah mungkin dijawab bahwa caranya adalah dengan jalan pengatrolan.

Peserta didik tidak memeroleh nilai sesuai dengan kemampuan belajarnya. Berbeda sekali dengan rapor tahun 90-an. Nilai ditulis apa adanya. Bukan suatu hal aneh jika di rapor ada angka-angka yang ditulis dengan pulpen merah. Itu menandakan kalau pada matapelajaran tersebut siswa dianggap belum tuntas belajar. Bukankah rapor yang demikian justru lebih bermakna?

Aku masih ingat bapakku bangga sekali karena di rapornya ada beberapa mata pelajaran yang nilainya ditulis dengan tinta hitam, selebihnya merah. Siswa jaman sekarang kukira tak akan mau membanggakan rapornya jika tahu bagaimana nilai dalam rapornya dibuat.

Banjarnegara, 16 April 2024

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...