Cahaya membawa bayangan pada pohon-pohon dan dinding sekolah. Apa
yang tak tertembus cahaya akan menghasilkan bayangan gelap. Kau bisa melihat
karena adanya cahaya. Tapi, bagaimana jika hatimu penuh noktah hitam dosa dan
tak seberkas cahaya pun bisa menembusnya. Kau akan buta. Buta dari kebenaran.
Satu hal, kau masih menyesal dan itu tanda bahwa masih ada cahaya
yang bisa menembusmu. Suasana hati yang tak menentu, kecemasan dan kesedihan,
semuanya kita simpan diam-diam di sanubari. Kita letakkan di pintu dan halaman,
sebuah kegembiraan palsu untuk menutupi kecemasan dan kesedihan kita. Begitulah
mekanisme pertahanan diri kita.
Sampai kapan kau akan terus dibelenggu ini? Harapan, cita-cita,
kebebasan, ambisi, dan nurani terus kau kubur dalam tanpa pernah berani
menggalinya lagi.
Bagaimana kau bisa seperti ini? Maksudku, ya, apa kau benar-benar
mampu menahannya. Bagaimana kau akan berbagi dengan orang lain yang akan
menjadi temanmu sepanjang waktu. Apakah kamu bisa mengerti ambisi-ambisinya,
ketakutannya, kecemasannya. Apakah dia bisa mengerti ambisimu, kecemasanmu,
ketakutanmu, dan semua tentangmu?
Burung-burung berkicau merdu saat pulang ke sarang. Matahari mulai
tenggelam dan petang mulai menjelang. Hidup menyeret kita selangkah demi
selangkah menuju akhir petualang. Tapi, apa yang sudah kita lakukan terhadap
waktu yang sudah terbuang, terhadap waktu yang tak bisa diulang! Kita hanya
punya sekarang karena tak ada yang tahu apa yang besok akan datang.
Tak perlu mengelak. Kau sudah kalah telak.
Banjarnegara, 10 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar