Langsung ke konten utama

Bercerita


Bercerita

Melihat foto ini, aku jadi ingat pertanyaanku ke siswa saat mengajar materi buku fiksi dan nonfiksi. Saat itu aku bertanya, “Ada yang suka baca buku?” Tak satu pun yang suka baca buku.

Aku langsung merasa seperti orang yang salah masuk ruangan. Tapi, mau bagaimana lagi, sudah kadung masuk dan memang harus mengajar. Sialnya, di semua kelas yang aku ampu, tak satu pun yang suka baca buku.

Aku membuka buku paket dan membaca judul bab yang akan dipelajari hari itu: Meningkatkan Kegemaran Membaca. Haha. “Meningkatkan” bermakna seolah-olah anak sudah suka membaca. Padahal....

Aku berpikir sejenak tentang materi yang waktu itu akan aku sampaikan dan kondisi anak-anak yang nampaknya sudah kelelahan.

Pembelajaran tatap muka secara terbatas waktu itu tak mengizinkan siswa istirahat. Enam jam pelajaran yang masing-masing 40 menit dilaksanakan berturut-turut tanpa jeda istirahat. Anak-anak kelelahan dan tentu saja bosan. Aku bisa melihat dari reaksi mereka saat ada guru yang masuk ke kelas. Kondisi ini membuatku berpikir untuk mengajar dengan santai saja.

Aku menunjukkan buku-buku yang kubawa: “Lelaki Tua dan Laut”, “The Hen Who Dream She Could Fly”, “Money”, dan “Man Search For Meaning”. Semuanya berbahasa Indonesia, hanya judulnya saja yang berbahasa Inggris.

Saat itu salah seorang siswa langsung nyeletuk, “Cerita saja, Pak! Gak usah pelajaran!”

Dan yang lain langsung menirukan.

“Iya, Pak! Gak usah pelajaran!”

“Pulang, Pak!!”

Alhasil, kuturuti permintaan mereka. Maksudku untuk bercerita saja. Bagi mereka, bercerita itu bukan pelajaran. Dan, sesuatu yang bukan pelajaran itu asyik. Haha.

Karena waktu yang terbatas, tak mungkin menceritakan semua buku yang kubawa. Aku meminta mereka memilih salah satu judul buku. Judul yang paling sering dipilih di setiap kelas adalah “The Hen Who Dream She Could Fly” karya penulis Korea. Aku lupa namanya. Hehe.

Saat pertemuan minggu berikutnya, anak-anak kembali memintaku untuk bercerita saja, dengan alasan bahwa minggu lalu baru buku fiksi, maka kali ini gantian buku nonfiksi. Dan, minggu-minggu berikutnya juga aku isi dengan bercerita.

Alhasil, setiap aku masuk kelas, bahkan ketika menjadi pengawas PAT, anak-anak langsung setengah berteriak, “Cerita Paaakkkk!!”

Pernah salah satu guru tanya ke siswa (saat itu aku di situ), “Gimana diajar guru baru (maksudnya aku)?”

“Kalau sama Pak Aji enak, Bu. Gak pernah pelajaran.”

Dalam hati aku berkata, “Gak pernah pelajaran gundulmu!”

Banjarnegara, 16 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Betapa Tidak Akuratnya Laporan Hasil Belajar Siswa

Betapa Tidak Akuratnya Laporan Hasil Belajar Siswa Pagi tadi, saya berangkat ke kantor seperti biasa. Padahal, sebenarnya ini sudah masuk liburan semester 1. Saya berangkat ke kantor untuk menyelesaikan laporan hasil belajar siswa atau rapor. Ada beberapa kendala yang menyebabkan urusan rapor ini tidak selesai tepat waktu. Mengurus rapor adalah salah satu tugas wajib seorang guru. Namun, ini adalah tugas yang tidak saya sukai. Kewajiban biasanya memang menyebalkan. Dan, mau bagaimana lagi. Saya tak menyukai tugas ini bukan karena saya malas. Kalau kalian berpikir ini karena saya malas, bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan tulisan sepanjang ini? Saya tak suka mengurus rapor siswa karena kadang-kadang merasa bahwa hasil dari tugas ini sia-sia belaka. Selama ini saya merasa betapa tidak akuratnya laporan hasil belajar yang disampaikan wali kelas ke wali siswa. Memang, tidak semuanya tidak akurat. Namun, lebih banyak yang tidak akurat. Bingung kan? Menurut saya, laporan ...

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...