Langsung ke konten utama

Postingan

Riwayat Pekerjaanku

Riwayat Pekerjaanku Hanya sedikit pekerjaan yang pernah aku lakoni. Tak satu pun dari semua itu termasuk pekerjaan bergengsi. Aku penasaran apakah pengalaman yang kudapat dari pekerjaan-pekerjaan yang telah kulakoni turut membentuk karakterku atau tidak. Mungkin iya, mungkin tidak. Aku tidak tahu bagaimana mengukurnya. Aku ingin menulisnya. Barangkali kutemukan sesuatu dari masa laluku ini. 2009 – 2010 kuli perkebunan salak. Tahun 2009 aku lulus SMP lalu bekerja di perkebunan salak. Aku berangkat pagi, sekitar pukul 07.30. Peralatan kerjaku sederhana: candung, gunting kembang salak, rafia. Aku memakai kaos oblong lengan panjang dan celana panjang dan sepatu bot. Gunanya untuk menangkal nyamuk di kebun. Candung adalah sejenis parang dengan ujung melengkung seperti celurit. Bedanya, lengkungannya pendek. Fungsinya untuk memotong dahan pohon salak. Aku bekerja sampai sore, sekitar pukul 14.50 saat serangga tongkeret mulai terdengar. Pekerjaanku ini tergolong mudah bagiku. Yang kul...

Satu Hal yang Kamu Minta

Apa yang kamu minta jika hal itu pasti dikabulkan? Apakah kamu akan meminta rumah mewah? Uang melimpah? Panjang umur? Kekasih yang tampan? Pesawat jet? Ada banyak sekali hal yang muncul saat kita memikirkan keinginan. Mungkin, kita akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkannya. Dan, mungkin kita akan dibayang-bayangi perasaan tidak puas dengan pilihan kita. Kita sering kali tidak fokus pada apa yang kita pilih, tapi pada apa yang tidak kita pilih. Namun, jika kamu bertanya kepadaku apa yang aku minta jika itu pasti dikabulkan, aku akan menjawab: selalu diberi kesehatan sepanjang hidupku. Sakit, apa pun itu, rasanya sungguh menyebalkan. Aku sudah berkali-kali merasakannya. Tak perlu kusebutkan di sini. Bahkan, aku baru sembuh dari sakit kepala kemarin. Meski aku sudah sering mengalami sakit, baru kali ini aku mau merenungkannya. Maksudku, menulisnya. Ada banyak sekali hal yang tak bisa kulakukan saat sakit. Bahkan, nyaris aku tak bisa apa-apa. Saat sakit, kamu tak m...

Tanggal 2 Januari, Awal Tahun 2021 yang Menentukan

Hari ini adalah awal tahun yang menentukan. Tahun yang berbeda. Apa yang akan kamu lakukan di tahun 2021 mendatang? Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah. Resolusi terbesarmu tahun ini adalah menikah. Kamu tahu bahwa menikah membutuhkan kesiapan banyak hal. Salah satunya adalah kesiapan sosial. Kamu harus mulai menyiapkan dirimu. Paling tidak, lakukan yang terbaik untuk hari ini. Lakukan apa yang telah kamu pilih untuk kamu lakukan. Kembangkan dirimu. Hari ini kamu masuk untuk pertama kalinya di sekolah. Apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan berusaha melakukan yang terbaik. Ya, betul. Selain itu, di tahun ini kamu akan mencoba mengembangkan sebuah bisnis. Kamu akan mulai menjual buku-buku di Facebook. Kamu akan mengembangkan bisnismu dan bisnis bersama teman-temanmu. Sudah cukup terlambat sebenarnya. Namun, ini belum terlalu jauh. Kamu masih bisa merintisnya dari sekarang. Toh, kamu baru 26 menjelang 27. Masih ada kesempatan yang sangat terbuka lebar. Semangat. Welcome 2021. ...

Tanggung Jawab dan Kebersamaan

  Beberapa hari lalu, salah satu siswa kelas 5 tanpa sengaja memecahkan kaca jendela di ruang kelas 4. Kami tak pernah meminta siswa tersebut mengganti biaya perbaikan kaca yang pecah. Kami hanya menyuruh para siswa untuk tidak berada di dekat kaca jendela tersebut karena berbahaya. Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuan kami, siswa kelas 5 iuran untuk mengganti kaca yang pecah tersebut. Dengan malu-malu mereka menyerahkan uang hasil iuran tersebut. Sebenarnya, kami sangat bangga dengan apa yang mereka lakukan. Mereka telah menunjukkan tanggung jawab dan kebersamaan. Kami mengapresiasi inisiatif mereka. Meski demikian, kami mengembalikan uang hasil iuran mereka karena sudah ada anggaran tersendiri untuk biaya perawatan sarana dan prasarana sekolah. Banjarnegara, 10 Juni 2021

Ketidakjelasan Pikiran

Saat kamu akan menulis tentang hari ini, tiba-tiba listrik padam. Ini sangat menyebalkan. Namun, sebenarnya kamu juga menyukai hal ini. Tidak ada suara televisi. Tidak ada kebisingan. Kamu bertanya-tanya, apakah menyenangkan jika setiap hari kamu tak mendengar suara televisi. Rasanya pasti sangat menyenangkan. Bagaimana jika kamu berdiskusi dengan Anjas terkait dengan masalah ini? Bagaimana jika kelak tak perlu ada televisi di rumah kamu? Ini pasti akan menyenangkan. Kalian bisa mengobrol tentang banyak hal, tanpa terdistraksi oleh suara-suara yang tidak penting. Suara-suara itu yang membuat kamu merasa mengalami ketidakjelasan pikiran. Duh, ini istilah apa si? Ketidakjelasan pikiran ini adalah satu kondisi saat kamu tidak tahu harus melakukan apa meski kamu sebenarnya sangat ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, kamu melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kamu lakukan. Kadang ini membuat kamu pusing. Kamu tidak penuh. Dalam artian, kamu melakukan A tapi pikiranmu B. Kamu tidak mel...

Sepenggal Momen dalam Hidup

Entah mengapa, aku ingin sekali menulis meskipun aku tak tahu apa yang ingin aku tulis. Aku sekadar suka menyaksikan huruf-huruf muncul di layar komputerku dan tahu bahwa aku tak salah memencet tombol. Kadang ada banyak hal yang muncul di kepalaku dan ingin aku tuliskan. Namun, kadang aku benar-benar hanya ingin menulis saja tanpa tahu apa yang ingin aku tulis. Aku sudah menikah sekitar enam bulan dengan seorang wanita pilihanku sendiri. Waktu itu, kami menikah tanggal 31 Juli 2021. Kami menikah dua bulan setelah aku melamarnya pada tanggal 20 Meni 2021. Jika dihitung sejak aku bertemu dengannya, maka aku mengenalnya sudah satu tahun lebih. Mungkin aku sudah tahu banyak hal tentang dia. Namun, aku tahu bahwa aku belum sepenuhnya dapat memahami jalan pikirannya. Kadang, jalan pikiranku sendiri saja sangat sulit aku mengerti. Mungkin malah mustahil kumengerti. Empat bulan setelah kami menikah, dia mengandung anakku. Kini usia kandungannya sudah 3 bulan. Emosinya jadi berubah-ubah set...

Hilang Semangat di Pagi Hari

Kolam ini menjadi tempat yang menyejukkan pikiran yang sedang gersang.  Entah mengapa hari ini saya tidak bersemangat. Saya berangkat dengan berat hati, diantar Nabil sampai pertigaan gang samping rumah seolah-olah dia tidak rela saya berangkat. Setelah saya berangkat, dia akan bermain sendirian. Adiknya belum cukup mampu menemaninya bermain. Di rumah hanya ada Mbah Murti, Sasti, dan adiknya. Dia jarang bermain dengan teman-teman seusianya. Ini salah satu alasan mengapa saya tidak bersemangat.  Alasan lainnya adalah sebuah ironi. Saya tidak bersemangat karena hari ini mulai KBM seperti biasa. Seorang guru tidak bersemangat karena harus mengajar? Bukankah ini sebuah ironi? Mungkin ada yang salah dengan diri ini sebagai seorang guru. Saya belum tahu bagian mana yang salah. Supaya ironi ini lenyap, saya harus menemukan bagian yang salah itu lalu menghapusnya.  Satu alasan lagi yang mungkin, dan ini sangat mungkin, saya tidak bersemangat karena aktivitas di media sosial yang ...

Motivasi Belajar Siswa

“Anak jaman sekarang motivasi belajarnya rendah banget. Dulu, pas jamanku mau ujian, hampir pasti semua siswa baca buku sambil nunggu pengawas ujian masuk ruangan. Sekarang boro-boro baca buku, bawa buku aja enggak. Mereka sibuk main HP.”  “Lho! Bisa aja mereka itu baca bukunya lewat HP. Jangan langsung menyimpulkan.” “Alah, enggak. Mana ada, saya udah liat sendiri, Pak. Mereka itu main game.” “Kalaupun mereka main game, kan, kita nggak tahu malamnya mereka ngapain. Bisa saja mereka udah belajar malam-malam. Mereka ingin rileks sebelum ujian biar otak gak terlalu panas saat nanti benar-benar dibutuhkan pas ujian.” “Dulu aku sama teman-teman juga malamnya belajar, Pak! Tapi, ya, paginya sebelum ujian tetap buka buku lagi. Gak ngaruh, otak tetap aman pas ujian. Pokoknya totalitas lah, Pak!” “Tapi, kamu beneran baca buku waktu itu? Atau jangan-jangan cuma ngobrol doang sama temen. Buka buku buat gaya-gayaan doang! Zamanmu dulu kan belum bawa HP ke sekolah, kalaupun udah bawa HP, palin...

Sangat Ingin Menulis

Aku sangat ingin menulis meski aku tahu kemampuan menulisku sangat payah. Aku tidak pandai menuliskan pikiran-pikiranku dalam struktur yang kuat. Namun, aku sangat ingin menulis. Aku mencoba. Aku sering gagal atau bahkan mungkin selalu gagal. Lama-lama aku berpikir bahwa bukan masalah teknik menulisku yang kurang, tapi pikirankulah yang tidak tertata. Atau bahkan, aku mungkin tak punya pemikiran yang penting yang layak untuk ditulis. Sayangnya, aku tetap ingin menulis. Dan, lama-lama aku juga berpikir bahwa selain kurangnya pemikiran penting, aku juga tak menguasi teknik menulis yang pas untukku. Namun, sekali lagi, aku sangat ingin menulis. Dulu sekali, aku pernah menjalankan nasehat untuk menuliskan minimal seribu kata dalam sehari. Tulis apa saja yang kamu pikirkan. Tidak perlu pedulikan tata bahasa atau teknik penulisan apapun. Tulis saja. Dan, aku pun menulis seperti saran itu. Entah berapa banyak yang sudah kutulis karena nasehat itu. Namun, aku tak merasa kemampuan menulisku b...

Sebuah Perbandingan

Aku berangkat lebih awal hari ini. Rute yang aku ambil adalah Sirau-Sokayasa-Cendana-Ponggok. Aku pernah membahas rute ini dalam salah satu tulisan bersambungku di blog gurumulang. Rute ini cenderung lengang dan di pagi hari relatif sejuk. Aku lewat rute ini karena ingin berangkat dengan santai.  Sampai di sekolah, aku ditawari singkong goreng oleh Pak Dayat. Rasanya asin sekali sehingga membuatku ingin minum air putih. Tapi bukan ini yang ingin aku bahas. Kali ini, aku ingin menuliskan hasil pengamatanku terhadap hal-hal di sekitarku. Aku akan mencoba untuk lebih sadar terhadap kondisi di sekitar lingkunganku.  Yang kuamati melingkupi siswa yang sedang melaksanakan ASTS. Baiklah, aku akan memulainya dengan pengamatanku terhadap siswa saat pelaksanaan ASTS. Semoga saja, apa yang kutulis ini relatif objektif.  Pertama, kondisi sebelum tes dimulai. Aku mengamati bahwa siswa-siswaku tidak membuka buku untuk belajar sebagaimana aku dulu saat menjadi siswa. Mungkin, ini akan t...

Rencana Pensiun yang Muluk-Muluk

Hari ini saya duduk di kantor guru, tak melakukan aktivitas kerja apapun. Saya telah seringkali memikirkan masa pensiun. Sungguh, ini adalah sebuah ironi. Bagaimana tidak, saat ini adalah masa terbaik buat saya untuk bekerja, tatapi saya malah memikirkan masa pensiun.  Suatu hari nanti, pikir saya, saya akan punya hari-hari di mana saya tak mencemaskan apapun. Hari itu adalah hari saat saya bisa benar-benar merasakan waktu mengalir pelan membawa saya kemanapun saya inginkan. Saya sangat berharap hari itu akan segera datang.  Sebenarnya, saya sangat mengetahui alasan di balik semua ini. Kalau saya punya sumber daya yang cukup, mungkin saya akan bisa pensiun dini.  Saya berpikir bahwa mungkin dengan menabung, saat-saat pensiun dini bisa segera datang. Namun, saya sangat skeptis dengan pikiran saya ini.  Menulis dengan kata ganti saya agak sulit. Mulai saat ini saya akan ganti menggunakan kata ganti aku saja. Baiklah, ayo kita lanjutkan.  Mengapa aku skeptis dengan...

Sabtu dan Minggu yang Terampas

Sabtu, 19 September 2026, aku mengikuti kegiatan Jumbara PMR di SMA N 1 Wanadadi. Rombongan PMR dari MTs N 2 Banjarnegara berangkat naik angkot. Angkotnya penuh sesak dengan barang bawaan peserta dan tentunya pesertanya. Aku mengikuti angkot itu karena ada beberapa tas yang diletakkan di atas angkot. Aku mengikutinya kalau-kalau ada tas yang jatuh dan aku bisa mengambilnya. Angkot itu sempat salah belok di pasar wanadadi.  Sampai di SMA N Wanadadi, rasanya tubuhku pegal-pegal. Sepertinya, aku kurang tidur tadi malam. Kakiku sangat pegal dan rasanya aku ingin tidur. Di sini udaranya cenderung panas. Aku banyak berkeringat dan kehilangan banyak cairan tubuh. Home stay kami di dekat perempatan tapen. Jaraknya sekitar 200 meter dari SMA N 1 Wanadadi.  Aku membimbing tiga anak dalam cabang uji wawasan kepalangmerahan. Ketiganya siswa yang cerdas. Mereka relatif mudah menyerap penjelasan yang kuberikan maupun materi dari buku. Kami bersiap di depan ruang lomba. Peserta lainnya mulai...

Mengingat Masa Lalu

Kemarin aku berkunjung ke rumah ibuku di Pucungsari. Tujuanku adalah untuk mengambil STNK dan plat nomor kendaraan yang sudah diganti oleh bapakku. Dari MTs N 2 Banjarnegara, aku lewat Madukara. Karena Jumat dan waktu salat jumat sudah masuk, aku mencari masjid terdekat dan memilih di Petambakan. Setelah selesai salat jumat, aku beli bakso di kedai Pak Kimin. Aku beli tiga porsi, satu untukku, satu untuk istriku, dan satu lagi untuk Bu Lilli. Kami makan di TK GUPPI Rakitan. Barulah setelah makan aku pergi ke rumah ibuku. Aku berpapasan dengan bapak yang akan pergi ke kebun sehingga aku tak berlama-lama di rumah ibuku dan segera menyusul bapak ke kebun. Rafa ikut membonceng di depan. Sampai di kebun, kusuruh istriku pulang lebih dulu sedangkan aku masih ingin di kebun. Aku tetap di kebun sampai waktu yang cukup lama. Di kebun ini, dulu aku banyak menghabiskan waktuku bersama bapak, mulai dari menanam berbagai tanaman seperti pisang, salak, pohon albasia, dan masih banyak lagi. Aku masih...

Tidak Bisa Tidur

Malam tadi, aku kesulitan tidur. Niat hati, aku mau tidur lebih awal agar bisa bangun lebih awal untuk mencetak LKPD teks laporan hasil observasi. Aku bahkan sudah berbaring di kasur setelah solat Isya. Tapi, nyatanya sampai sekitar pukul 22.30 aku tak kunjung tertidur dengan pulas. Aku memang sempat tertidur, tapi itu seperti hanya pergi ke garis batas antara terjaga dan terlelap. Anakku yang kedua, Zayra, tak kunjung tertidur dan terus menangis. Dia telah tidur setelah maghrib dan bangun menjelang Isya Setelah itu dia seperti amat sulit untuk tidur lagi. Dia terus menerus menangis jika ditidurkan. Dia hanya ingin bermian tudung saji dan membaca buku. Aku tahu jika aku tetap mengikuti rencana awalku untuk bangun pagi dan mengerjakan LKPD, aku tak akan berhasil, seperti yang sudah-sudah. Maka, kuputuskan untuk saat itu juga mengerjakannya. Aku buka laptopku dan mulai menyunting lembar kerjaku. Aku selesai sekitar pukul 23.30 dan berharap bisa terlelap tidur. Istriku telah berhasil men...

Kenangan Boleh Hilang

Aku menulis apa yang kualami di media blog. Beberapa tulisan kusimpan di laptop pribadiku. Tujuanku menulis semua itu adalah untuk diriku kelak di masa depan. Aku ingin mengenang momen-momen tertentu yang saat kutulis kuanggap penting. Namun, ada satu kekhawatiran yang mengganjal pikiranku. Aku khawatir suatu saat di masa depan, blog tak lagi digunakan lalu aku kehilangan akses ke catatan-catatan itu. Aku yang awalnya ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan di masa laluku menjadi tak punya apa-apa untuk diingat. Apa yang akan kulakukan jika hal itu terjadi? Tapi, aku mau mundur ke alasan mengapa aku menginginkan hal itu. Mengapa aku ingin bernostalgia? Ini mungkin karena aku takut kelak tak punya aktivitas apapun yang bisa mengisi hari-hariku. Aku takut hanya bisa bengong saat menghabiskan masa tuaku. Aku takut kelak tak punya apa-apa. Atau mungkin juga ini karena alasan yang lebih mendalam, yaitu perasaan takut dilupakan. Dengan kata lain, aku takut tak meninggalkan jejak apapun d...

Semua yang Kukenal, yang Terdekat Sampai yang Terjauh Bahkan Asing

Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Namun, tak semua orang harus kita kenal, kan? Kalau bisa mengenal semua orang dengan mendalam, itu akan sangat bagus. Sayangnya itu sangat tidak mungkin. Jadi, ini hanya sebuah pengingat: cara yang kupakai untuk lebih mengingat seseorang. Atau malah bahkan untuk melupakan seseorang. Membebaskan diriku sendiri dari keharusan mengingat seseorang. Tapi, bukankah kita memang tak harus mengingat seseorang? Baiklah. Kita mulai saja. Aku akan mengelompokkan orang-orang yang kukenal kedalam beberapa lingkaran. Lingkaran pertama adalah lingkaran pengaruh. Ini adalah orang-orang yang bisa kupengaruhi secara aktif. Meliputi orang-orang paling dekat denganku. Lingkaran kedua adalah lingkaran kenal saja dan masih sering berinteraksi. Lingkaran ketiga adalah lingkaran terluar yang berisi orang-orang yang mungkin hanya akan bertemu denganku beberapa kali dalam seumur hidupku.  Lingkaran Pertama Lingkaran pertama tentu keluargaku. Aku akan memulainya dengan i...