Malam tadi, aku kesulitan tidur. Niat hati, aku mau tidur lebih awal agar bisa bangun lebih awal untuk mencetak LKPD teks laporan hasil observasi. Aku bahkan sudah berbaring di kasur setelah solat Isya. Tapi, nyatanya sampai sekitar pukul 22.30 aku tak kunjung tertidur dengan pulas. Aku memang sempat tertidur, tapi itu seperti hanya pergi ke garis batas antara terjaga dan terlelap. Anakku yang kedua, Zayra, tak kunjung tertidur dan terus menangis. Dia telah tidur setelah maghrib dan bangun menjelang Isya Setelah itu dia seperti amat sulit untuk tidur lagi. Dia terus menerus menangis jika ditidurkan. Dia hanya ingin bermian tudung saji dan membaca buku. Aku tahu jika aku tetap mengikuti rencana awalku untuk bangun pagi dan mengerjakan LKPD, aku tak akan berhasil, seperti yang sudah-sudah. Maka, kuputuskan untuk saat itu juga mengerjakannya. Aku buka laptopku dan mulai menyunting lembar kerjaku. Aku selesai sekitar pukul 23.30 dan berharap bisa terlelap tidur. Istriku telah berhasil menidurkan Zayra. Dia menghampiriku dan mengingatkanku untuk tidak begadang. Aku dalam posisi hampir selesai mengerjakan LKPD. Aku mengiyakan saja ucapannya. Setelah semuanya selesai aku memang segera menuju tempat tidurku dan mencoba memejamkan mata. Saat itulah kepalaku justru bangun, aktif memikirkan berbagai macam hal. Ide-ide bermunculan, khayalan-khayalan beterbangan, angan-angan, hingga ketakutanpun tak lupa menyambangiku. Aku berusaha keras mematikan atau menidurkan pikiranku sendiri, namun itu ternyata sangat sulit. Mula-mula aku mencoba memfokuskan pikiranku pada satu hal, namun setelah beberapa saat, pikiranku mulai terbang ke hal lain, terus seperti itu sampai aku tak tahu dari mana aku bermula. Lebih sulit lagi, sebab aku juga sedang batuk. Saat aku mulai mengantuk dan mataku mulai terpejam, batuk yang tak tertahankan menguapkan semuanya . Rasa kantuk yang sudah kutunggu-tunggu menguap begitu saja karena sentakan batuk yang menyiksa. Aku mulai lagi dari awal.Berusaha fokus memikirkan satu hal saja agar rasa kantuk mau menyambangiku. Proses melelahkan ini terus terjadi sampai aku tak tahan untuk buang air kecil dan kulihat layar HPku telah menunjukkan sekitar pukul 01.30 WIB. Saat aku benar-benar tak ingin memikirkan apapun, saat itulah justru aku memikirkan semuanya. Sebuah ironi. Akhirnya, aku bisa tidur mungkin sekitar pukul 02.00 WIB.
Senin, 03 Agustus 2026
Aku tidak berangkat kerja hari ini. Semalam tubuhku menggigil kedinginan dan sendi-sendiku rasanya seperti mau copot. Tulang belakangku ngilu. Kepalaku seperti terayun-ayun saat aku berjalan. Aku tidur lebih awal dan berharap esok hari sudah bugar kembali. Sayangnya, anak-anakku tak kunjung tidur. Nabil terus-terusan mengoceh dan tak kunjung tidur. Sementara Zayra terus menangis dan minta bermain tudung saji. Alhasil, aku tak bisa memejamkan mataku. Pusing di kepalaku bertahan hingga pagi, pegal-pegal di persendianku tetap terasa, badanku menolak untuk bugar, dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja.
Aku ke Puskesmas untuk periksa kesehatan. Sebenarnya, lebih tepatnya untuk meminta surat keterangan sakit. Aku berangkat pagi-pagi diantar istriku yang sekaligus akan berangkat kerja. Dia jelas akan terlambat sebab antrian di Puskesmas pastilah sangat panjang. Dan, benar. Saat aku tiba di sana, antrian memang sudah sangat panjang. Kami mengantri tentu saja. Setelah kudapatkan surat keterangan sakit dan obat untuk tenggorokanku, aku mengantarkan istriku berangkat kerja. Kunci motorku ternyata tertinggal di sepeda motor. Beruntung tukang parkir mengamankannya.
Istriku kuantarkan ke tempat kerjanya. Sementara itu, aku menunggu di rumah ibuku. Rencananya, aku akan tidur di sana untuk beristirahat. Namun, aku tak terbiasa tidur di jam-jam kerja dan hasilnya tak bisa memejamkan mata sampai terlelap. Kuputuskan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan. Aku mulai dengan mengamati bunga pohon jambu di depan rumah. Pohon jambu ini mengingatkanku pada rumah kami zaman dulu. Aku masih ingat betul rumah itu. Bagian depannya seperti rumah-rumah lainnya di desa kami: kotak di bawah dan segituga di atas. Dindingnya dari batu bata yang tidak diplester. Di sebelah barat menempel kandang kambing milik Lik Bingan. Kandang kambing itu terbuat dari anyaman bambu. Di depan rumahku ada dua pohon salak dan satu pohon jambu air yang batangnya sudah sangat besar. Daun-daunnya berguguran kalau hujan besar datang. Aku sering memanjat pohon itu. Di bawah pohon itu, jika hujan datang, akan ada aliran air hujan yang amat deras. Aliran air hujan itu akan mengikis tanah-tanah di sekitarnya dan membentuk permukaan tanah menjadi sangat khas. Namun, air hujan juga membawa material tanah dari tempat lain yang mengendap di bawah pohon jambu itu. Material itu begitu halus seolah terayak oleh aliran air hujan. Aku dulu sering bermain di sana saat hujan.
Aku mengingat saat ayahku membelah pelepah-pelepah kelapa dan menjemurnya sampai kering agar menjadi kayu bakar. Beliau akan memisahkan daun kelapa, kami menyebutnya blarak, kemudian mengikatnya jadi satu gulungan besar dan menghentak-hentakkan gulungan itu ke tanah untuk mengusir semut-semut yang bersembunyi dalam lipatan-lipatannya. Gulungan blarak itu biasanya kami manfaatkan untuk memulai membuat api. Sifatnya yang cepat kering membuatnya mudah terbakar sehingga sangat cocok untuk memulai menyalakan api di tungku-tungku kami, yang kami sebut pawon.
Aku mengingat kontur tanah di sekitar halaman rumah kami. Di depan rumah kami, ada rumah tetangga kami yang bernama Muji. Aku biasa memanggilnya Wa Muji. Rumah itu sederhana sekali. Dindingnya adalah papan-papan kayu yang dilabur putih kehijauan. Wa Muji juga memelihara kambing. Di samping rumahnya, yang tepat di depan rumahku, ada patok-patok setinggi satu setengah meter yang biasa digunakan untuk menjemur kambing-kambingya. Kambing-kambing yang masih anakan biasanya dibiarkan bebas berlarian. Kontur tanah disekitarnya jadi rusak tak karuan. Tapi, kontur tanah itu justru sangat lekat di ingatanku. Kontor tanah yang tak karuan itu seringkali menjadi becek karena kambing-kambing itu juga kencing di sana. Tanahnya juga akan dipenuhi bulu-bulu kambing yang rontok di sana-sini beserta tai kambing yang seperti kacang tanah berwarna hitam. Selain karena kambing-kambing, kontur tanah di sini sangat lekat di ingatanku juga karena terkikis air hujan di sana-sini. Tanah-tanah di bawah ujung atap membentuk ceruk-ceruk kecil berisi kerikil dan pecahan-pecahan genteng. Lumut-lumut tumbuh tebal di sana. Ah, aku merindukan semua itu.
Aku sebenarnya juga ingin mengingat lagi tempat-tempat lain yang penuh dengan kenangan masa kecilku. Tapi, ini sudah malam, mungkin akan kulanjutkan besok.
Komentar
Posting Komentar