Langsung ke konten utama

Rencana Pensiun yang Muluk-Muluk

Hari ini saya duduk di kantor guru, tak melakukan aktivitas kerja apapun. Saya telah seringkali memikirkan masa pensiun. Sungguh, ini adalah sebuah ironi. Bagaimana tidak, saat ini adalah masa terbaik buat saya untuk bekerja, tatapi saya malah memikirkan masa pensiun. 

Suatu hari nanti, pikir saya, saya akan punya hari-hari di mana saya tak mencemaskan apapun. Hari itu adalah hari saat saya bisa benar-benar merasakan waktu mengalir pelan membawa saya kemanapun saya inginkan. Saya sangat berharap hari itu akan segera datang. 

Sebenarnya, saya sangat mengetahui alasan di balik semua ini. Kalau saya punya sumber daya yang cukup, mungkin saya akan bisa pensiun dini. 

Saya berpikir bahwa mungkin dengan menabung, saat-saat pensiun dini bisa segera datang. Namun, saya sangat skeptis dengan pikiran saya ini. 

Menulis dengan kata ganti saya agak sulit. Mulai saat ini saya akan ganti menggunakan kata ganti aku saja. Baiklah, ayo kita lanjutkan. 

Mengapa aku skeptis dengan pikiranku sendiri? Aku tidak tahu bagaimana tabunganku nanti akan bisa membawaku pensiun dini. 

Pertama, kecepatan menabungku sangat lambat. Penghasilanku saat ini memang sudah mampu mencukupi kebutuhan harian keluargaku. Namun, untuk menabung, kurasa masih terlalu lambat. Aku sudah menabung kurang lebih hampir dua tahun sejak penghasilanku termasuk mencukupi. Namun, sampai saat ini jumlah tabunganku kurang lebih hanya 24 juta. Kalau dirata-rata, dalam satu bulan aku hanya mampu menabung sekitar satu juta rupiah. Ya, memang mungkin setelah beberapa bulan ini jumlahnya akan bertambah. Namun, aku tahu itu masih terlalu lambat sampai aku bisa pensiun dini.

Kedua, aku tidak tahu bagaimana cara terbaik memanfaatkan tabunganku agar berkembang. Jujur saja, aku memang tahu beberapa jenis investasi. Namun, aku sama sekali belum pernah mencoba salah satunya saja. Aku lahir di desa dan sama sekali asing dengan istilah investasi. Yang saat ini paling terpikirkan olehku adalah menggunakan tabunganku untuk membeli tanah lalu menanaminya dengan beberapa komoditas yang memungkinkan, seperti kopi, sengon, atau mungkin pisang. Itu pun aku tahu hasilnya mungkin sangat lambat jika luas kebunnya tak seberapa. 

Ketiga, kebutuhanku mungkin dan sangat mungkin naik setiap tahun. Apalagi, anakku sekarang dua dan anak pertamaku akan masuk usia sekolah sekitar dua tahun lagi. Aku tahu biaya pendidikan di negeri ini tidak murah kalau mau pendidikan yang berkualitas untuk anak. Apalagi jika sampai jenjang kuliah. Aku yang seorang ASN tahu betul untuk hal satu ini bahwa tak ada keringanan biaya bagi ASN yang anaknya kuliah. Selain pendidikan, aku juga sering sekali mencemaskan biaya kesehatan keluargaku. Meskipun saat ini keluarga intiku masuk asuransi BPJS, aku tetap sering mencemaskan biaya kesehatan yang bisa tiba-tiba saja muncul. 

Terkadang, aku berkhayal bisa menciptakan uang dengan tangan kosongku sendiri lantas aku bisa mengundurkan diri dari pekerjaanku saat ini dan menikmati hari-hariku yang damai di kebun atau bersama anak-anakku. Aku tidak tertarik menjadi kaya raya. Aku hanya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk diriku sendiri dan untuk keluargaku. Begitu saja. 

Dulu saat aku masih berstatus sebagai guru honorer, aku sering memikirkan mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Sekarang, saat kebutuhanku sudah terpenuhi, aku sering memikirkan untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai tambahan penghasilan agar aku bisa segera pensiun dini. Kadang aku pikir ini adalah salah satu bentuk ketidaksyukuran yang memalsukan dirinya dalam bentuk kedamaian. Seolah-olah jika aku bekerja aku tidak bisa merasakan kedamaian dalam diriku, sehingga aku perlu segera mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar aku bisa cepat pensiun dini. 

Pekerjaanku saat ini adalah pekerjaan dengan penghasilan tertinggi yang bisa kudapatkan saat di Banjarnegara saat ini. Mungkin, aku bisa menghasilkan lebih banyak uang dengan berdagang, tapi kukira itu sangat sulit. Bagaimana dengan bertani? Itu lebih tidak masuk akal lagi sebab aku tak punya lahan apapun. Kadang aku berencana membuat konten-konten di Youtube atau platform lain. Namun, rasa malasku lebih besar dari kesabaran dan kemampuanku membuat konten. Jadi, paling-paling yang bisa kulakukan saat ini adalah tetap bekerja seperti biasa. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...