Langsung ke konten utama

Mbah Johari dan Peran-Peran Manusia

Berteduh di emperan apotik di depan SMA N 1 Banjarnegara. Selasa, 05 Mei 2026. 

Langit sudah sangat mendung di sana-sini. Aku masih di madrasah. Mau pulang, tapi tanggung sebentar lagi jam absen pulang. Mau tetap di madrasah, tapi malas menunggu. Beberapa guru masih di madrasah, sementara yang lainnya langsung pulang setelah acara di rumah Mbah Johari selesai.

Perutku sudah kenyang. Aku makan di rumah Mbah Johari dalam acara tasyakuran pemberangkatan Mbah Johari menunaikan ibadah haji. 

Mbah Johari adalah sosok yang berdedikasi. Beliau telah melaksanakan tugasnya selama puluhan tahun. Kalau bicara masalah peran, aku bisa belajar dari beliau. Peran beliau itu amat sangat penting. Salah satu yang kutahu adalah membersihkan ruang guru dan menyediakan minum untuk para guru. Kalau beliau tak menjalankan tugasnya dengan baik, aku yakin akan banyak guru yang merasa tak nyaman berada di kantor. Mbah Johari atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Jo, selalu menjalankan perannya dengan amat baik. 

Mbah Jo tampak masih sangat sehat dan bugar meski usianya sudah terbilang tua. Kesehatannya itu adalah cerminan bahwa beliau masih sangat mampu menjalankan peran-perannya di madrasah. Aku tidak tahu mana sebab mana akibat. Apakah Mbah Jo sehat karena selalu menjalankan peran-perannya atau Mbah Jo mampu menjalankan peran-perannya karena beliau selalu sehat? Atau bahkan mungkin saling berpengaruh. Yang jelas, sosoknya mengingatkanku pada orang-orang yang kukenal sangat berdedikasi pada peran-peran mereka. Sosok-sosok seperti Mbah Johari itu harus tetap ada sebagai inspirasi. 

Kali ini, aku ingin mencoba mengidentifikasi apa saja peran-peranku di dunia ini. Aku akan mencoba menggalinya sedetail mungkin dari peran paling besar hingga sebisa mungkin peran paling kecil yang mungkin kumiliki. 

Sebagai orang yang mengaku beriman, peran paling besar yang kumiliki tentulah sebagai hamba dari Tuhan Sesta Alam, Allah SWT. Tugas seorang hamba adalah beribadah kepada Tuhannya. Sebagaimana yang tertulis dalam Kitab-Nya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribdah kepada-Ku," QS Az-Zariyat ayat 56. Kalau kita mengulik peran ini, tentu akan sangat panjang. Ibadah kepada Allah mencakup seluruh aktivitas manusia. Maksudku, semua aktivitas manusia hendaknya ditujukan untuk beribadah kepada Allah. Mengenai peranku yang satu ini, sesungguhnya aku sedang belajar satu hal: bersyukur atas segala nikmat-Nya. 

Bersyukur juga bagian dari ibadah. Kalau aku mampu bersyukur atas segala yang kuterima maka sesungguhnya itu bagian dari ibadah. Namun, ini bukan perkara mudah. Bersyukur tak hanya soal mengucap alhamdulillah. Namun, bagaimana aku mampu menyadari bahwa aku tak punya apa-apa lalu Allah memberiku sesuatu. Aku tak mampu berbuat apa-apa lalu Allah memampukanku. Kesadaran ini sulit ditumbuhkan, apalagi pada hal-hal yang sudah sangat kita akrabi, misalnya kemampuan bernapas, kemampuan berjalan, kepemilikan air, dan sebagainya. Hal-hal yang setiap hari kita dapatkan sering tak kita syukuri secara sadar. Di sinilah, barangkali aku perlu sangat berusaha untuk menumbuhkan kesadaran bersyukurku. 

Peran kedua yang terbesar adalah sebagai orang tua dan sebagai suami. Bisa dibilang: kepala keluarga. Peran ini membuatku mengingat hierarki kebutuhan Maslow. Aku harus mampu membuat keluargaku mencapai aktualisasi diri. Untuk mencapai aktualisasi diri, ada beberapa anak tangga kebutuhan yang harus mereka lewati terlebih dahulu. Di anak tangga kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan fisiologis. Kebutuhan ini meliputi makan, minum, sandang, dan papan. Ini kebutuhan yang paling dasar. Aku harus mampu memenuhi kebutuhan ini kebutuhan akan rasa aman. Bagaimana seharusnya aku membuat keluargaku merasa aman secara fisik, secara finansial, dan sebagainya. Kestabilan dan keteraturan adalah kuncinya. Kebutuhan yang ketiga adalah kebutuhan sosial. Lingkungan tempatku tinggal bisa dibilang cukup sehat secara sosial dan itu berarti aku tidak perlu terlalu risau akan hal ini. Kebutuhan keempat adalah pencapaian diri. Inilah yang mungkin paling harus kuperhatikan. Bagaimana aku sebagai kepala keluarga harus mampu membuat keluargaku mencapai apa yang mereka inginkan. Di sini, kemampuan mendidikku harus kukerahkan secara menyeluruh. Aku harus benar-benar mencurahkan banyak waktu dan pikiranku untuk mendidik istri dan anak-anakku, membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka perlukan, serta akhlak dan iman. Dan, yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri. Aku memaknainya sebagai "kemampuan menjadi diri sendiri" tanpa rasa bersalah. Aku harus mampu membuat keluargaku memiliki kemampuan untuk menjadi diri sendiri, terutama anak-anakku. Aku harus mampu mengantarkan mereka menjadi versi diri terbaiknya. 

Akhir-akhir ini aku merasa menjadi kurang natural. Mungkin karena daftar tugas-tugasku yang membuatku jadi kurang natural. Namun, aku telah berusaha memenuhi peranku sebagai kepala keluarga sebaik yang aku bisa. Aku bermain dan menggendong anak-anakku, aku mencium mereka, memeluk, bercerita, membacakan buku, bernyanyi bersama mereka, dan lain sebagainya. Sejujurnya, aku tahu satu hal bahwa masa-masa bersama mereka kecil akan sangat singkat. Aku tak mau kehilangan itu. Aku mau mereka punya masa kecil yang bahagia bersama ayah dan ibunya. Aku mau masa kecil mereka bahagia. Itulah peranku sebagai seorang kepala keluarga. 

Peranku selanjutnya adalah seorang guru sekaligus ASN. Ini peran yang masih kujalani dengan setengah-setengah. Buktinya, hari ini aku mlipir entah ke mana. Harusnya, aku masih di madrasah walaupun di sana aku tidak melakukan apapun. Aku mlipir sebenarnya lebih karena mencari tempat yang tenang di mana aku bisa belajar dan menulis. Ya, meskipun barangkali itu juga hanya alasan semata. Aku membawa motorku pelan melintasi jalanan sekitar Sokanandi mencari masjid yang bisa kusinggahi untuk berteduh dengan tenang. Namun, sangat sulit menemukan masjid yang ideal. Aku menuruti intuisiku dan menjadi impulsif. Motorku melaju pelan mencari-cari tempat yang tepat untuk berhenti. Aku sempat berhenti di musala di Parakancanggah. Namun, rasanya kurang nyaman di sana sehingga aku melanjutkan perjalanan tak tentu arah ini. Ada salah satu masjid yang menjadi tujuanku, yaitu masjid di perumahan Gayam Permai. Aku benar-benar berhenti di sana dan berniat ganti baju di sana. Namun, nampaknya toilet pria terlalu jauh dan serambi masjidnya seolah-olah eksklusif untuk warga sekitar. Aku mengurungkan niatku beristirahat di sana. Akhirnya, aku sampai di masjid di depan SMP 3 Banjarnegara. Ini adalah salah satu masjid Favoritku. Di sini, aku bertemu guru-guru SMP 3 yang mengenalku. Namun, sayangnya aku hanya ingat satu nama saja, yaitu Bu Yayuk. Yang lainnya aku tak ingat. Aku baru ingat setelah membuka HP dan mengecek nomor di HP-ku. 

Kembali perihal peran. Sebagai guru yang berstatus ASN tugas-tugasku sebenarnya sangat jelas. Aku tidak tahu apakah aku sudah menjalankan peranku dengan baik atau belum. Jujur saja, di satu sisi aku senang karena pekerjaanku ini tak dinilai begitu ketat. Mekanisme kontrol kerjanya tak begitu ketat. Penilaian kerjanya juga sangat longgar. Namun, di sisi lain aku tahu ini melemahkan. Semangat kerjaku dan daya belajarku akan tergerus sangat cepat. Aku mungkin akan merasa cuku dengan diriku sendiri, dengan pengetahuanku, dan dengan kemampuanku saat ini. Aku tahu ini berbahaya, tapi aku menikmatinya. Aku berusaha menahan ini sebisaku. Semampuku. 

Aku sudah menulis beberapa peran-peran besarku: hamba Allah, kepala keluarga, dan guru ASN. Apakah hanya ini? Kurasa tidak. Masih banyak peran lainnya. Dalam masyarakat, aku anggota takmir masjid. Aku seorang teman barangkali. Aku seorang anak. Aku seorang menantu. Aku seorang cucu. Aku seorang warga negara. Aku seorang anggota masyarakat. 

Di mana teman-temanku? Apakah mereka masih mengenalku dengan baik?  

Dua orang siswa SMA berteduh di emperan toko. Hujan sangat deras. Lampu mobil yang menyoroti percikan hujan di hamparan aspal. Sedang apa aku pada suasana seperti ini dahulu kala? Ah, ini sangat melankolis. Anakku duduk di pojokan sambil kedinginan. Istriku terpikir memesan grab untuk pulang. Pukul 17.27 langit sudah sangat gelap seperti sudah maghrib. Anakku mengenakan helm poco dan tetap ingin beli yuppi walau hujan seperti ini. Tentu saja. Dia belum paham situasi dan kondisi. 

Nabil dan ibunya berteduh saat hujan begitu deras. 

Seorang wanita tampak mengambil sesuatu dari kontainer di samping toko. Hujan seperti ini masih banyak yang berjuang mencari penghidupan. Orang-orang berteduh. Orang-orang punya masalah mereka masing-masing. Mereka sedang menjalankan peran masing-masing. 

Hujan sedikit mereda. Meski masih tidak memungkinkan untuk kami pulang. Namun, kami memutuskan untuk pulang. Hanya ada satu mantel hujan. Aku pakai celananya sedangkan istriku pakai bagian atasnya. Nabil di tengah-tengah agar tetap hangat. Rupanya hujan lebih hebat dari dugaan kami. Baru beberapa meter kami berangkat, bagian dalam pakaian kami sudah basah kuyup. Apalagi celana Nabil. Benar-benar telah basah kuyup oleh hujan. 

Kami menerjang hujan dan berhenti di Alfamart depan Perumahan Korpri. Istriku bilang kalau tidak beli roti, Nabil bakal minta keluar rumah lagi buat beli roti. Jadi, meskipun dingin, kami berhenti juga untuk beli roti. 

Bangku di Alfamart telah penuh oleh orang-orang yang berteduh. Sepasang suami istri sedang mencari kutu di kepala mereka. Sungguh pemandangan yang absurd. Sungguh absurd.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...