Senin, 12 Januari 2026
Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku semakin menyukai makan-makanan yang bersifat tradisional seperti rebung bambu, so, kemandelan, daun singkong, mie pepaya, dan lain sebagainya. Ini semua mengingatkanku pada masa-masa kecilku yang jarang makan-makanan enak seperti daging, ikan, telur, dan sebagainya. Meski sebenarnya, tak jarang-jarang amat. Tapi, entah mengapa aku lebih menyukai makan-makanan yang mungkin orang bilang kuno. Aku tumbuh besar di lingkungan kebun. Ayahku petani kecil yang sesekali menjadi buruh di perkebunan orang lain. Waktu-waktu yang kuhabiskan bersama ayahku sebagian besar adalah di kebun. Kami menanam bersama. Kami membakar ranting-ranting dan pelepah daun salak. Kami menumbuhkan pepohonan dengan harapan. Kami menanti panen kecil kami. Kami meminum air kelapa di kebun. Rasanya nikmat sekali. Gubug reot nenek di kebonlor begitu melekat dalam ingatanku Ada kaleng plastik berisi air hujan. Ada batu asah yang menipis seiring waktu. Air itu ayah gunakan untuk mengasah candungnya: semacam celurit pendek khas daerah kami. Ayah akan mengasah candungnya sampai warna permukaannya perak mengkilap. Ketajamannya tentu tidak main-main. Di gubuk itu, kami juga bisa membakar ketela atau busil. Nenek menumpuk kayu-kayu kecil di belakang gubuk. Atap gubuk ini adalah daun salak yang ditumpuk sampai tebal dengan alas berupa plastik untuk mencegah kebocoran. Daun-daun salak itu kadang sampai lapuk sehingga rumput-rumput tumbuh di atas atap itu. Gubuk itu benar-bener melekat dalam ingatanku. Ia menjadi salah satu kenanganku yang berharga. Pohon-pohon mahoni tumbuh subur, besar, dan rimbun. Aku belajar banyak sekali hal-hal baru di kebun bersama ayahku. Mungkin itulah yang membuatku tidak suka keramaian dan lebih menyukai hal-hal yang ada di alam terbuka. Aku lebih suka kedamaian alam terbuka. Embusan angin dan suara serangga. Gemericik air dan kicau burung. Rasanya, semua itu benar-benar mendamaikan pikiranku. Aku memikirkan hal ini lagi dan lagi. Membuatku ingin menghabiskan banyak usiaku di kebun dengan penuh kedamaian. Tapi, kenyataannya aku tak punya kebun. Aku mengangankan membeli kebun yang luas agar mampu hidup hanya dari berkebun. Sekarang hal ini masih mustahil. Tapi aku akan mengusahakannya kelak. Aku mengusahakan untuk belajar tentang keuangan agar jangan sampai aku mengambil keputusan salah yang dapat membelenggu fleksibilitas dan kebebasanku. Aku menonton video-video tentang bahaya gengsi dan validasi eksternal. Simbolisme semu akan kemewahan dan kesuksesan, yang terang benderang harus kuhindari. Meski jalanku untuk sampai ke pekerjaan idaman masih sangat jauh, aku tetap sangat harus berhati-hati dalam melangkah. Ya, begitulah. Aku akan membahas perihal Suami adikku yang sampai saat ini belum juga dapat pekerjaan kapan-kapan saja. Ya, begitulah.
Komentar
Posting Komentar