Rabu, 07 Januari 2026
Ini adalah tumbuhan pepaya yang tumbuh di celah antara tembok pembatas sekolah dan gedung tinggi di sampingnya. Pada siang menjelang sore ini, aku masuk kelas 7J, melaksanakan jam tambahan TKA. Entah mengapa, aku suka melihat tumbuhan pepaya ini. Mungkin, ini karena kekuatan dari tumbuhan pepaya ini. Ia tumbuh di tempat yang sebenarnya sangat tidak ideal untuk tumbub. Diapit dua tembok, tentu ia kekurangan cahaya matahari. Namun, ia bisa tumbuh sampai setinggi itu. Daya hidupnya sangat tinggi. Entah mengapa aku merasa perlu belajar dari pohon ini. Ia tetap tumbuh berusahan mencapai tempat yang tinggi sambil menancapkan akrnya dengan kuat di celah-celah pondasi. Ya, bukankah seharusnya aku juga demikian? Aku harus menjadi orang yang kuat, punya daya juang, agar aku bisa tetap bertahan bahkan tumbuh dalam tempat maupun kondisi yang tidak ideal. Aku harus belajar bagaimana menerima keadaan yang tidak menyenangkan. Menumbuhkan ketahanan. Menyehatkan mental. Aku merasakan kepuasan mengajar di kelas 7J, meskipun suasana agak ramai, tapi secara keseluruhan aku merasa puas. Ya, mungkin ini salah satu berkah menjadi guru. Setelah itu, aku mengajar hanya satu jam pelajaran di kelas 9J. Ternyata, hanya aku satu-satunya guru yang masuk ke kelas ini hari ini. Kuberikan dua jam pelajaran untuk mereka latihan pagelaran. Mengajar di jam terakhir di kelas 7I sangat tidak memuaskan. Aku hanya berusaha menghabiskan waktu di kelas ini. Aku berusaha menjelaskan pelajaran, namun kondisi kelas sangat sulit dikendalikan. Mungkin, ini faktor jam terakhir. Mereka sudah menumpuk kejemuan sejak jam pertama. Di kelas TKA, aku tidak menjelaskan materi. Rasanya sudah sangat lelah. Mereka bahkan mungkin ada yang tidak mengerjakan soal yang kuberikan. Ya, biarlah. Kadang aku menyerah juga. Memang tak semua hal dapat kita kendalikan. Apakah mungkin aku kembali menjadi seorang stoik? Aku memang selalu berusaha menjadi seorang stoik. Tapi ini susuah.
Aku tak terlalu capek sebenarnya. Istrikulah yang sebenarnya merasa sangat capek. Mbahnya Nabil minta kami beli pati. Kami berangkat dan mampir di angkringan. Beli kebab dan salah. Nabil menghafalkan bapak salah. Raut muka yang nelangsa dan mbrebes. Membuatku juga ikut nelangsa.

Komentar
Posting Komentar