Minggu, 04 Januari 2025
Aku mengawali hari ini dengan solat subuh berjamaah. Awal yang bagus. Aku mengingat saat-saat dulu berjuang kuliah. Udara dingin pagi hari terasa menenangkan hati. Surat Al-Insyiroh seolah menamparku bahwa saat ini adalah saat-saat aku harusnya berjuang. Lalu, mungkin ini sebuah petunjuk saat aku membuka status WA seorang rekan kerja, potongan ceramah tentang overthinking menyambarku. Petuahnya, "Besi rusak karena karatnya sendiri. Manusia rusak karena pikirannya sendiri." Maka, jangan terlalu banyak berburuk sangka. Jangan terlalu banyak berpikir negatif. Jika menemui masalah, hadapi masalahnya. Itu saja. Sambil terus mensyukuri apa yang sudah kamu miliki. Ya, harusnya memang begitu.
Aku lanjutkan hari dengan cek data tinggi dan berat badan anakku sebelum akhirnya dia bangun dan mengajakku ke sunmor nanti.
Hari ini aku pergi ke sunmor bersama istri dan anakku. Kami beli jajan. Nabil bukan tipe anak yang akan merengek minta dibelikan sesuatu. Tapi, dari sorot matanya, aku tahu dia ingin sekali main ikan di kolam plastik dan memainkan mobil-mobilan remot kontrol. Dia hanya melihat penuh minat. Ibunya menawarinya kebab dan dia tentu saja mau. Kami beli kebab dan melanjutkan agenda kami yaitu belanja ke pasar. Di pasar, Nabil dan ibunya membeli keperluan warung sementara aku potong rambut.
Potong rambut adalah momen yang menyenangkan buatku. Getaran pisau cukur di tengkok dan kulit kepala seperti pijatan lembut yang hangat. Sayangnya kenikmatan ini sedikit rusak karena tukang potong rambut terlalu banyak bertanya. Ya, aku maklum. Dia hanya menjalankan trik dagang untuk menarik pelanggan. Foto-foto di dinding tukang cukur mengesankan suatu suasana klasik yang membawa nostalgia. Aku tetap mencoba menikmati saat potong rambutku ini meski pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan oleh si tukang potong rambut. Ia mengira aku masih usia anak sekolah. Mungkin SMA atau kuliah.
Aku pergi ke toko mainan anak-anak karena di sana lah istri dan anakku menunggu. Ternyata mereka sudah di sana. Anakku meminta mobil mainan ekskavator dengan remot kontrol. Sayangnya, kami tak bawa uang lebih. Jadi, keinginannya tak bisa terpenuhi. Dia terlihat kecewa. Tapi tak apa, tak semua yang diinginkannya harus terwujud. Dunia memang seperti ini, kan?
Kami pulang dan makan jajan. Setelah itu, aku mandi dan membersihkan rambut-rambut yang tertinggal di kepalaku sisa potong rambut tadi. Setelah segar dan kenyang, rasa kantuk datang dan kami pun tertidur. Itu adalah tidur siangku yang sangat nikmat. Sudah lama sekali aku tidak tidur siang dengan tenang.
Setelah tidur siang, Nabil ikut ngaji bersama neneknya. Sementara itu, aku dan istriku pergi ke bengkel untuk mengganti oli motorku dan membeli keperluan bahan dagangan kakek. Aku melongok ke belakang bengkel dan ternyata di sana ada sebuah bangunan taman bermain atau TK. Tempatnya sejuk dan syahdu. Seperti pada gambar.
Waktu terus berlalu dan sampailah pada malam hari saat hampir semua orang di rumah telah tidur. Aku sendirian di ruang kerjaku. Entahlah. Minggu-minggu ini aku banyak sekali mengeluh soal diriku sendiri dan pekerjaanku. Aku mengangankan bekerja seperti dulu sebagai seorang pekebun. Namun, bekerja di kebun sendiri. Satu pekerjaan yang selesai saat aku memutuskan untuk selesai. Ya, mungkin aku kurang bersyukur. Aku menganggap pekerjaanku saat ini sangat melelahkan. Aku seorang guru. Yang saat ini mengganjal di pikiranku adalah tentang kesiapan mengajar. Rasanya, dari sinilah rasa kurang puasku muncul. Aku tahu, mungkin aku kurang kompeten. Aku sadar dan jika ada yang bilang padaku bahwa aku tidak kompeten, aku tidak akan menolaknya. Aku hanya tidak tahu apakah guru lain juga merasakan apa yang aku rasakan? Rasa lelah setelah bekerja, yang harusnya aku singkirkan dengan istirahat malam, mungkin menumpuk sebab aku harus menyiapkan pelajaran esok hari. Rasanya sangat lelah. Atau, apakah mungkin aku kurang berolah raga?
Besok adalah hari kembali ke dunia kerja. Cobalah untuk mengingat hal-hal baik yang kamu alami. Atau cobalah tak usah ingat sama sekali. Cukup rasakan momen saat ini. Ingat semua yang pernah kamu perjuangkan. Banyak orang yang menginginkan posisimu sekarang. Ingat itu.
Jika kamu memang tak ingin menyentuh pekerjaanmu di rumah, maka selesaikan semuanya di sekolah, di kantor. Cobalah buat target yang jelas. Misalnya, besok targetmu adalah membuat materi untuk pelajaran hari Selasa. Harus jadi. Ingat, harus jadi. Dan, harus siap digunakan. Gunakan apa saja yang bisa membantumu menyelesaikannya. Nikmatilah. Hidup memang penderitaan.


Komentar
Posting Komentar