Sabtu, 03 Januari 2026
Aku membuka jendela dan udara dingin masuk. Azan subuh berkumandang. Aku ingin ikut solat berjamaah. Tapi kakeknya Nabil lama sekali di WC, jadi terpaksa aku solat di rumah.
Hari ini aku mengikuti upacara HAB Kemenag bersama istriku. Kami berangkat ke madrasah dulu baru kemudian menuju lapangan Pekauman depan MIN 3 Banjarnegara. Langit mendung berawan tebal sehingga tidak terlalu panas. Ada banyak orang yang sulit diatur dan tidak tertib, sehingga membuat upacara tak segera dimulai. Banyak yang masih duduk santai dekat pohon beringin sampai ditetiaki oleh barisan yang sudah tertata rapi di lapangan. Upacara baru dimulai pukul 08.00. Itu pun masih ada yang terlambat.
Kakiku pegal. Keringat mengucur di punggung. Dron melintas di atas kepala, berdengung lembut. Bendera dikibarkan. Rasa hangat dan sedikit pening menjalar di kepala. Barisan motor di pinggir jalan nampak padat. Masih saja ada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan dan tidak masuk barisan. Sampai upacara selesai, mereka di sana. Beberapa orang terdengar bergumam mengatai mereka. Burung emprit terbang rendah hinggap di rumput lapangan tanpa peduli pada kehadiran manusia. Rumput di bawah kakiku mosak-masik. Hangat yang menjalar di seluruh tubuh dan rasa pegal ini kunikmati.
Aku membayangkan menjadi orang yang berdiri di tepi jalan, hanya menyaksikan. Menjadi biasa-biasa saja. Anonim. Ya, mungkin aku memang menyukai anonimitas.
Upacara selesai. Aku berjalan pelan menuju tempat motorku terparkir. Orang-orang mulai beranjak pulang sehingga jalan yang sempit di depan MIN 3 jadi macet. Aku menunggu istriku di depan gerbang MIN 3 Banjarnegara sambil mengamati aliran air di selokan. Aliran airnya tidak kotor, tidak seperti got-got bacin di kota-kota besar. Airnya mengalir deras dan cukup jernih.
Istriku foto-foto dulu ternyata. Dia berjalan dengan teman-temannya. Kukira mereka akan mampir ke tempat makan, namun nyatanya tidak. Mereka langsung pulang. Aku dan istri pulang lewat jalan memutar, tepatnya lewat jalan belakang MIN 3 Banjarnegara. Jalannya mengingatkanku pada jalan yang kulalui saat jalan santai dulu. Sedikit sulit. Jalan memutar ini tembus ke depan dapur MBG. Kami lewat pasar Madukara, Singomerto, lalu Sokanandi. Sebelum MTs N 2 Banjarnegara, aku dan istriku mampir di kedai bakso. Di sana, aku bertemu Bapak Suprianto. Kami berbincang sebentar. Istriku memesan bakso dan kami pun makan. Pak Suprianto selesai lebih dulu dan pulang. Tak lama, kami pun selesai. Saat hendak membayar, ternyata Pak Supriono sudah membayar makanan kami. Rasanya, jadi sedikit tidak enak hati. Tapi, aku senang, sebab ternyata aku dikelilingi orang-orang baik. Ini harus menjadi motivasi agar aku juga menjadi orang baik pula. Di satu sisi, aku senang karena aku bekerja di lingkungan yang baik. Orang-orangnya baik dan ramah. Namun, di sisi lain aku merasa kalau aku kurang bersyukur. Ada satu sisi idealis dalam diriku yang sebenarnya tidak siap dengan kenyataan bahwa menjadi guru itu berat. Ya, perasaan diabaikan oleh siswa kadang mengendap. Aku belum tahu bagaimana mengatasinya.
Aku melanjutkan hari dengan bermain bersama Nabil. Kami bermain masak-masakan menggunakan daun kacang panjang. Setelah itu, aku merapikan kuku jari tangan dan kaki, mandi, dan presensi ke madrasah. Aku bersama istri mampir ke toko dekat jembatan wambing, membicarakan tentang ganti oli dan lain sebagainya. Setelah itu, kami pergi ke madrasah untuk presensi dan mencari rute baru di sekitar Sokanandi. Kami lanjutkan membeli kebab dan mengisi bahan bakar di POM bensin krandegan. Di perjalanan pulang kami mampir beli ayam goreng dan pati.
Dan, hari ini cukup bagus. Aku tak terlalu banyak memikirkan hal yang tak perlu kupikirkan. Ya, kurasa ini sudah cukup untuk mengakhiri tulisanku ini.





Komentar
Posting Komentar