Sabtu, 24 Januari 2025
Aku sedang berada di rumah ibuku di Pucungsari. Angin sangat kencang bertiup merontokkan daun-daun. Kami di sini menyebut musim angin seperti ini dengan nama grobogan. Saat musim seperti ini, dahulu kala, ketika masih kecil, aku sering pergi ke kebun mencari buah-buahan yang jatuh atau ranting kering untuk kayu bakar. Aku mencoba membantu orang tuaku dengan mengumpulkan kayu bakar dari kebun-kebun warga. Di sini, kebun warga yang kumaksud masih seperti hutan. Ada banyak jenis pohon yang ditanam warga. Kebun mereka tidak monokultur seperti kebun-kebun modern. Ketika musim angin seperti ini, biasanya banyak pohon-pohon yang tumbang atau ranting-ranting kering yang berjatuhan. Aku dan teman-teman mengumpukannya untuk dijadikan kayu bakar. Kami menjelajah kebun-kebun warga, mencoba mencari apa saja yang bisa kami kumpulkan, dari jamur, kelapa kering, durian, melinjo, kopi, kayu dan apa saja yang menurut aturan tak tertulis boleh diambil. Kami anak-anak. Kami mencoba membantu orang tua kami semampu kami. Bau rerumputan, tanah basah dan becek, keringat di badan adalah aroma hutan yang sarat akan kenangan.
Hari ini, semua itu jauh dari diriku. Sekarang aku punya area juang yang sangat berbeda dengan masa kanak-kanakku. Area itu adalah sekolah. Area pendidikan. Hari ini aku mencoba memberikan yang terbaik untuk kelasku, kelas 7G. Aku hadir dan mencoba memimpin diskusi untuk persiapan acara puncak kokurikuler. Aku tidak mau saat waktunya tiba nanti, mereka belum punya persiapan. Aku mencoba berpikir, mencoba mencari cara agar mereka bisa berlatih dengan sungguh-sungguh. Targetku adalah Sabtu depan mereka sudah mulai bisa berlatih senam dan sudah mulai menyiapkan propertinya. Semakin matang persiapannya mereka akan semakin baik saat tampil nanti. Begitu harapanku.
Aku juga akan mencoba satu hal hari ini: mempersiapkan diri untuk satu minggu kedepan. Aku akan mencoba membuat rencana mengajarku selama satu minggu. Tujuannya adalah agar aku bisa menjalani satu minggu selanjutnya dengan lebih tenang dan lebih bahagia. Aku akan mencoba mengorbankan malam Mingguku agar aku dapat menjalani hari Mingguku dengan lebih bebas dan lebih bahagia. Satu hal yang aku sadari adalah bahwa kunci untuk menjadi guru yang bahagia adalah persiapan mengajar. Kalau kau mau bahagia menjadi guru, kau harus siap mengajar. Kau harus punya rencana-rencana antisipasi. Kau harus membuat SOP-mu sendiri. Kau harus mencobanya dari sekarang. Refleksikan apa yang kamu alami dan tariklah kesimpulan dan pelajaran penting darinya. Itulah intinya. Cobalah. Nikmatilah prosesnya.

Komentar
Posting Komentar