Langsung ke konten utama

Prediksi Nabil Benar

Senin, 19 Januari 2026


Setiap kali Nabil ditanya apakah dedek bayi di perut ibunya cowok atau cewek, dia selalu menjawab cewek. Ternyata dia benar. Senin ini kami memeriksakan kandungan di Klinik Haryata dan hasil USG menyatakan bahwa janin dalam kandungan istriku berjenis kelamin perempuan. Sesuai dengan prediksi Nabil. 

Kami mengantri cukup lama. Kami dapat antrian nomor 5. Aku merasa sangat lelah saat menunggu antrian ini dan mata rasanya ingin terpejam saja. Di luar hujan deras menambah rasa ingin tidur dan melepas lelah. Aku tahu ini sudah resiko menjadi seorang pegawai. Meski lelah, aku lega bisa mengetahui bahwa janin dalam kandungan istriku tumbuh dengan baik. Detak jantung, berat badan, dan kelengkapan anggota tubuhnya baik, kata dokter yang memeriksa kandungan istriku. Ini membuatku merasa tenang dan senang tentu saja. Apalagi, kali ini janin itu perempuan dan terasa lengkap rumah tanggaku. Terima kasih, Tuhan. 

Bobot janin di kandungan istriku sekitar 2,2 kg. Dokter bilang, istriku harus mengurangi makan-makanan manis agar berat janinnya tidak bertambah terlalu drastis. Sebab jika berat janinnya di atas 4 kg, akan sulit melahirkan secara normal. Dokter menyarankan agar istriku lebih banyak makan buah, sayur, dan makanan tinggi protein. 

Kami tiba di Klinik Haryata sekitar pukul empat sore. Sebelumnya, aku pulang dari madrasah pukul setengah tiga. Aku mampir ke rumah ibuku untuk mengambil sayur uceng yaitu bunga jantan dari pohon melinjo. Ibu memasaknya dengan cara dipelas. Aku makan di rumah ibuku sekadar untuk mengganjal rasa laparku. Setelah istriku selesai dengan pekerjaannya di madrasah, aku segera menjemputnya. Kami segera menuju ke Klinik Haryata untuk memeriksakan kandungan. Namun, aku minta berhenti di Masjid Sahara untuk melaksanakan solat asar dan sekaligus ganti baju. Di masjid sahara, aku menemukan imam masjid yanh suranya khas sekali. Entahlah, aku kesulitan menggambarkannya. Di masjid ini, aku ingat pernah ikut acara peresmiannya. Aku jadi bernostalgia saat dulu masih bekerja di SMP N 3 Banjarnegara. Aku senang melihat pohon-pohon hijau di sekitar masjid. Rasanya memberikan kesejukan dalam hati. Aku duduk di depan area masjid dan melihat ke arah sekolah tempat dulu aku mengajar. Rasanya, entah mengapa seperti memunculkan perasaan puas dan membuatku berkata dalam hati, aku pernah di sana. Ya, semacam perasaan seperti itu. 

Istriku sebenarnya sudah sangat lelah. Aku tahu dari caranya berjalan dan dari raut mukanya. Ya, aku sebenarnya sangat tidak tega melihat dia masih harua bekerja dengan usia kandungannya yang sudah cukup tua. Tapi, mau bagaimana lagi. Kami bukan dari golongan orang kaya. 

Kami pulang setelah selesai cek kehamilan. Namun, kami mampir dulu ke apotek tempat Sasti bekerja untuk menyerahkan laptop yanh mau dipakainya. Setelah itu barulah kami pulang. Sayangnya, kami diminta beli pati dan segama macam keperluan untuk bahan dagangan kakeknya Nabil besok. Rasanya sangat melelahkan. 

Sampai di rumah, ada sebentuk perasaan bersalah yang menyeruak dari dalam hatiku sebab seharian aku meninggalkan Nabil. Waktuku bersamanya benar-benar sangat terbatas. Aku mandi, solat maghrib, makan dan menikmati sisa waktu bersama Nabil. Itu pun sangat tidak maksimal sebab aku sudah sangat lelah dan sangat ingin segera tidur. Selain itu, kecemasan akan hari esok , lebih tepatnya kecemasan berkaitan dengan pekerjaanku sebagai guru juga membuat aku makin lelah. Bisa dibilang, aku lelah secara fisik dan mental. Aku harap rasa lelah mental ini dapat kuatasi sesegera mungkin. Aku tidak ingin mati muda gara-gatlra terus menerus mencemaskan pekerjaanku sendiri. Jika aku sampai mati muda gara-gara cemas, bukankah ini sangat ironis. Saat justru aku mendapatkan gaji yang cukup layak untuk membiayai hidupku, aku justru memburuk dan pada akhirnya mati. Sangat ironis. Aku harus mengatasi hal ini. Belajar. Ya, aku harus belajar. Tapi, aku tidak tahu harus memulai dari mana. 

Aku harua tidur lagi. Selamat malam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...