Minggu adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Aku menghabiskan enam hari kerja yang melelahkan sehingga Minggu seperti jeda yang sedikit menyembuhkanku dari luka mental akibat beban kerja. Menunggunya terasa sangat lama, tapi menghabiskannya terasa begitu cepat. Saat hari-hari lain kuakhiri dengan desahan lega, "Akhirnya selesai juga." Minggu kuakhiri dengan, "Besok sudah Senin lagi." Ya, begitulah.
Minggu ini tak banyak yang kulakukan di rumah. Aku bangun pagi seperti biasa, merapikan kamar, menyapu lantai, lalu duduk-duduk bersantai sambil menonton video-video di Youtube. Aku tidak mau Minggu ini kulewati begitu saja tanpa ada sesuatu yang bermakna. Jadi, kuputuskan untuk melakukan sedikit kesenangan.
Pertama, aku ajak Nabil jalan-jalan pagi. Rutenya adalah ke arah timur menuju jalan setapak depan Rumah Pak Warno, turun ke jalan setapak di sepanjang pinggiran kolam ikan, lalu naik tembus ke jalan depan rumah Dito. Dari sana, aku dan Nabil terus ke timur melihat truk oleng yang sedang dicuci pemiliknya. Kami berdiri di pinggir pembatas jalan menyaksikan orang mencuci truk oleng. Roti di genggaman Nabil jatuh. Aku melarangnya memakan roti itu sebab sudah kotor. Roti itu bermerk sari roti dengan rasa blueberi kesukaan Nabil. Setelah sampai rumah, ternyata Nabil minta beli roti yang sama. Kami melanjutkan jalan-jalan kami ke arah barat menuju penjual es krim. Namun, kali ini kami tidak beli es krim karena di rumah masih ada satu wadah. Roti yang tadi jatuh kami buang ke kolam ikan lele dan menjadi makanan para ikan. Kami pulang dan beristirahat.
Cuaca Minggu ini mendung sekali. Matahari benar-benar tak tampak. Butiran-butiran air bahkan menetes menjadi gerimis. Udara terasa lembab. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya. Rasanya, aku ingin menghabiskan hari Minggu dengan aktivitas bermakna, namun tak tahu akan melakukan apa. Aku hanya duduk-duduk di rumah sambil menonton video-video di kanal Youtube. Rasanya justru sedikit tersiksa sebab aku tahu Minggu begitu berharga buatku. Aku ingin menghabiskannya dengan penuh kegembiraan. Aku sempat membaca buku "Summer" karya Albert Camus. Namun, aku tak paham maknanya sehingga aku menggantinya dengan buku "La Tahzan" yang menenangkanku.
Hari ini Nabil diajak berenang oleh Bu Lik Sasti dan Mbahnya. Aku cuma berdua dengan istriku. Dia mencuci baju sementara aku jaga warung. Warung kami sepi sekali pembeli. Selama kutunggui hanya satu orang yang datang untuk beli sampo. Setelah itu, tak ada lagi sama sekali. Yang justru datang adalah kucing hitam yang mencuri daging ayam di dapur. Tak hanya sekali. Kucing itu bahkan mencuri dua kali. Ah, apakah kucing tahu konsep mencuri? Bukankah mereka hanya mengikuti instingnya untuk mencari makan? Haha. Kami yang salah karena teledor.
Setelah Nabil pulang, kami berusaha mengajaknya tidur siang dan itu adalah pekerjaan yanh sangat sulit kali ini. Sampai setelah solat duhur, kami baru bisa membuatnya tertidur. Mungkin Nabil merasa kelelahan sehingga badannya tidak nyaman. Aku tak bisa menemani Nabil tidur siang sebab terasa sangat gerah dan pikiranku yang tak tenang. Aku bangun dan seorang diri yang terjaga di rumaj sampai sore. Hari ini, aku benar-bemar merasa sangat-sangat bosan bagaikan tiada lagi yang bisa lebih bosan.
Sore hari, untuk mengusir kebosananku, aku memgajak Nabil dan istriku jalan-jalan. Kami lewat jalan menanjak di pertigaan gapura Desa Ampelsari. Jalan itu ternyata masih bagian Desa Ampelsari dengan dukuh bernama Silimpet. Selebihnya sudaj bukan bagian Ampelsari. Aku memacu motorku pelan menikmati angin sore dan pemandangan yang biasa saja. Aku menuju pertigaan Wirasari yang menikunh tajam. Kami terus ke arah Kec. Banjarnegara. Di sana, ada banyak anak muda yang duduk-duduk di pinggir jalan dengan motor mereka. Niat hati, kami mau duduk-duduk di sana juga. Tapi, melihat mereka yang duduk di sana banyak dari kalangan remaja, kami merasa tak patut ikut nongkrong di sana. Kami lanjutkan perjalanan hingga ke Kodim dekat Hotel Sentral. Kami berbelok ke kiri menuju Pasar Wage. Aku ingin makan mie ayam. Istriku merekomendasikan mie ayam dekat Kantor Yayasan Guppi. Kami menuju ke sana pelan-pelan, namun sayangnya sudah tutup. Kami mengubah tujuan ke mie ayam rempah yang ternyata sudah tutup juga. Opsi terakhir adalah ke mie ayam Pak Wah Petambakan. Hari sudah semakin sore menuju gelap. Kami ke Petambakan dan mendapati mie ayam Pak Wah masih buka. Sayangnya, tak ada tempat duduk yang bisa kami gunakan. Padahal kami berniat untuk makan di tempat Pak Wah. Kami kemudian memutuskan untuk makan di Roket Chicken Petambakan. Nabil mampu menghabiskan hampir satu porsi. Sementara aku hanya menghabiskan setengah saja. Istriku menghabiskan setengahnya lagi dan sisa Nabil yang tidak habis. Kami tidak langsung pulang sebab harus menunggu azan maghrib dahulu. Di sini, bepergian saat menjelang azan maghrib adalah pamali, tabu. Kami solat maghrib bergantian lantas pulang. Kami mampir ke toko kelontong Mustamil untuk membeli beras dan beberapa keperluan dagang Mbah. Kami pulang dan beristirahat.
Aku berhasil membunuh rasa bosanku. Tapi, aku jadi teringat sebuah pesan bahwa rasa bosan kadang berguna karena rasa bosan bisa merangsang kreativitas. Haha. Entahlah.
Komentar
Posting Komentar