Kamis, 29 Januari 2026
Januari ini terasa panjang. Mungkin, karena uang tukin sudah dibayarkan pada Desember lalu. Bisa pula karena Januari memang panjang. Libur di dalamnya sedikit. Jumlah harinya sampai 31. Ya, Januari seperti Senin. Panjang dan melelahkan.
Kamis ini, aku mengawali hari dengan bangun pagi dan mandi cepat. Aku solat subuh berjamaah dengan badan segar meski pikiranku penuh dengan angan-angan. Aku mengangankan pekerjaan yang nyaman meski aku tahu semua pekerjaan mungkin akan membuatmu tidak nyaman. Pekerjaan apa, sih, yang nyaman itu? Udara pagi terasa dingin di kulit. Masih ada bintang di langit pagi ini. Aku dengan pikiranku yang beraneka ragam menghabiskan pagi yang sejuk. Aku berhenti dekat gang masuk rumahku setelah solat subuh. Udara pagi menyambutku. Segar rasanya. Aku kemudian berjalan pulang dan berhenti di depan rumah. Aku berdiri di jalan kecil depan rumah. Tanaman anggur sudah semakin panjang sulurnya. Pikiranku masih terus sumpek dengan pekerjaanku. Apakah ini ketidakberkahan? Atau, aku saja yang memang kurang mampu bersyukur? Aku mengadukan perasaanku kepada Allah. Aku bahkan meminta untuk kembali mengajar di MI. Aku tahu, permintaan ini sangatlah remeh. Tapi, mungkin saja ini cara Allah menegurku. Bahwa aku sebenarnya hanya orang yang sangat biasa-biasa saja bahkan mungkin nihil. Dan, memang seperti itulah kondisinya, kan?
Aku menjenguk anaknya Pak Edo di Gemingsir. Halaman rumahnya masih sangat asri. Kalau rumahku di situ, anakku pasti tak akan betah di dalam rumah. Ia pasti akan keluyuran main tanah, atau bahkan mungkin ke kali.
Jamku kosong hari ini. Aku hanya mengajar 2 JP di awal hari, dan 2JP di akhir waktu untuk les TKA. Ini memberikan waktu yang sangat panjang hari ini. Aku tahu, ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Ada banyak sekali. Ya, aku tahu ada banyak sekali pekerjaan yang menantiku. Tapi, aku tidak tahu mengapa sulit sekali mengerjakannya di sini. Ini bukan kali pertama aku mengalaminya. Ini, mungkin salah satu masalahku yang perlu segera kuberesken. Masalah pemanfaatan waktu yang kurang efisien di sekolah. Aku tahu bahwa aku perlu membuat rencana kerja sebelum hari kosong panjang seperti ini datang. Sebab, tanpa rencana kerja, waktu kosong panjang seperti ini hanya akan terbuang sia-sia yang pada akhirnya akan membuatku terpaksa meluangkan waktu lebih saat berada di rumah yang seharusnya kugunakan untuk keluarga.
Baiklah, aku akan memanfaatkan waktu ini untuk membuat soal. Dan....
Aku membuka laptop dengan niat tempur membuat soal ulangan harian tentang teks berita. Waktu berlalu. Layar Ms. Word tetap kosong. Tak ada soal terketik di sana. Aku malah membaca berita tentang AI, terus membaca, hingga tak satu pun soal tertulis di laptopku. Apakah ini kutukan agar aku tetap harus bekerja di rumah. Namun, kalau mau jujur sebenarnya selama beberapa hari aku jarang mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Aku lebih sering tidur cepat, dan bangun sekadarnya bahkan tanpa mengerjakan apapu. Kadang, rasa lelah begitu menyedotku hingga seperti ada lem yang merekatkan punggungku dengan permukaan kasur. Ah, Nabil sedang apa, ya? Tiba-tiba aku teringat dia.
Komentar
Posting Komentar