Ada satu tempat yang terekam jelas dalam
ingatanku meskipun sudah bertahun-tahun aku tak mengunjungi tempat itu. Aku
bahkan tidak tahu apakah tempatnya masih sama seperti dulu atau tidak. Tempat
itu adalah kebun nenek di Pucungsari. Ada sebuah gubuk kecil di sana tempat
nenek biasa beristirahat. Bapak sering mengajakku ke sana. Biasanya, bapak akan
memetik kelapa muda dan meminum airnya bersamaku.
Banyak pohon mahoni berukuran besar di
sana sehingga permukaan tanah lebih sering tertutup daun-daun kering dari pohon
mahoni itu. Namun, area di sekitar gubuk nenek selalu bersih dari daun-daun
kering. Nenek sangat rajin membersihkannya.
Sebenarnya, di kebun itu ada banyak sekali
jenis pohon yang tumbuh. Ada pohon kelapa, mahoni, albasia, jengkol, pule,
melinjo, sengon, kopi, pete, jambu, bambu, dan masih banyak yang tak kuingat
namanya. Ada juga tanaman salak lokal dan salak pondoh, lengkuas, singkong,
pisang, cabai, hingga merica.
Kebun nenek ini serasa hutan bagiku.
Jangan bayangkan kebun dengan tanaman yang ditanam secara teratur. Nenek tak
punya aturan tertentu tentang tanaman harus ditanam di mana. Asalkan masih ada
ruang untuk tumbuh, maka di sana bisa ditanami apa saja. Memang tidak ideal.
Tapi itu membuat kebun nenek sangat lengkap.
Kebun nenek dibatasi tanaman-tanaman salak
yang rapat di banyak sisi sedangkan di sisi lain dibatasi tanaman teh-tehan.
Pintu masuknya tepat di samping pohon kelapa yang menjulang tinggi. Jangan
bayangkan pintu itu seperti pintu di rumahmu atau pintu gerbang yang biasa kamu
lihat. Pintu di sini hanya pelepah salak yang ditancapkan ke tanah yang jika
kamu mau membukanya kamu tinggal mencabutnya saja.
Masuk ke dalamnya, kamu akan disambut
gerumbul tanaman salak atau keladi yang di pangkalnya ada tanah yang
menggunduk. Terkadang ada tanaman merambat seperti botor atau yang lainnya.
Satu petak turun, ada tangga dari tanah yang amat bersih dari rerumputan dan
daun kering. Tangga itu tepat menuju gubuk yang aku ceritakan.
Gubuk itu beratap pelepah salak yang di
bagian dasarnya dilapisi plastik agar tidak bocor. Di sana, nenek menyimpan
kayu bakar dari ranting-ranting pohon yang dikumpulkannya. Ada kaleng bekas cat
yang digunakan nenek untuk mengumpulkan air hujan. Air itu sering dimanfaatkan
bapakku untuk mengasah candung andalannya. Di sana ia mengasah candung itu
dengan batu asah atau yang kami sebut wungkal.
Di undakan setelah gubuk itu, ada pohon
pisang kurus yang dulu pernah kuaniaya bersama sepupuku, Rofik. Kami meninju
pohon pisang itu dan menebasnya dengan candung yang ada di gubuk nenek.
Aku ingat jalan kecil di samping gerumbul
tanaman salak yang mengarahkanku ke pohon kelapa favorit bapakku. Aku ingat
jalan menurun dengan tangga tanah yang berlumut. Ada pohon melinjo yang sedikit
miring di sana, yang jika kamu panjat hingga cukup tinggi, kamu akan melihat
pemandangan Sungai Celangap yang besar dan megah. Deru sungai itu kadang
terdengar sangat jelas dari kebun nenekku.
Turun beberapa petak lagi, ada pohon pule
yang sering bapak bilang berhantu. Bapak bilang, aku tak boleh dekat-dekat
pohon pule itu karena keangkerannya. Aku tentu saja menurut.
Ada pohon nangka yang cukup sering berbuah
lebat. Tapi, karena tak pernah dirawat dengan baik, buahnya sering pecah dan
busuk. Rasanya juga tak terlalu enak. Aku ingat pohon jambu biji yang daunnya
meranggas karena dimakan ulat. Aku ingat tanaman salak pondoh yang ditanam
dengan penuh harap. Aku ingat bagaimana bapak sering mencari blarak untuk bahan
bakar tungku di rumah kami.
Aku ingat suara kelapa muda yang
menghantam tanah setelah sebelumnya menerobos rapatnya daun dan ranting-ranting
pohon lain. Kemeresak dan gedebug yang sungguh kurindukan. Aku ingat semuanya.
Aku ingat saat bapak memanggilku sebelum menjatuhkan kelapa agar dia tahu
posisiku secara tepat. Aku ingat bagaimana bapak membuka kelapa muda itu dan
membuat sendok dari kulit kelapanya. Itu adalah momen yang sangat menyenangkan.
Jujur, saat ini aku benar-benar sangat merindukan momen itu lagi.
Aku juga bertanya-tanya, atau mungkin
lebih tepatnya khawatir kalau aku tak mampu menciptakan momen-momen sederhana
seperti itu bersama anakku kelak. Aku akan menulis semua momen, tempat, waktu,
dan apa pun itu yang kuanggap membahagiakan dari masa laluku sebelum semuanya
menguap karena ingatanku yang kelak pasti akan semakin keropos.
Bukannya aku tak bisa lepas dari masa
lalu, aku hanya sadar bahwa suatu saat nanti, aku tak akan bisa melakukan
apa-apa selain mengenang. Saat itu tiba, aku ingin membaca ini untuk mengenang
semuanya. Aku sudah memulainya dengan kenanganku bersama bapak di kebun nenek.
Aku akan melanjutkan ini mulai dari rumah
kami yang sederhana. Aku ingat saat bapak membangun rumah kami, aku main di
galian pondasi dengan sangat senang. Aku memasukkan batu bata ke ember berisi
air. Aku memasukkan batu bata merah ke ember berisi air dan sangat senang
melihat gelembung-gelembung udara keluar dari bata-bata itu. Ini bertujuan agar
bata-bata yang dipakai merekat kuat dengan adonan semen dan pasir.
Aku bermain di gundukan tanah merah
bersama teman-temanku. Saat rumah hampir jadi, aku ingat kami membakar
sisa-sisa kayu bangunan yang kecil-kecil untuk menghangatkan diri.
Sebelum rumah kami dari bata, aku punya
sedikit ingatan tentang rumah kami yang dindingnya dari papan. Lantai rumah
kami dari tanah. Di beberapa bagian ada tonjolan-tonjolan sebesar buah jengkol
yang belakangan aku tahu bahwa itu adalah akumulasi tanah yang tertumpuk
sedikit demi sedikit.
Aku ingat sebuah amben yang biasa
digunakan Nenek Rohmadi dan ibuku untuk membuat tempe berbungkus daun pisang.
Dulu aku suka sekali makan kedelai rebusnya sebelum diolah jadi tempe. Amben
itu dari papan biasa. Daun pisang yang sudah dipisahkan dari batangnya
berserakan. Tali dari bambu yang disayat tipis lalu dibelah menjadi tali-tali
tempe. Aku ingat sinar matahari yang menerobos dan jatuh di amben itu.
Aku ingat resban atau kursi panjang yang
digunakan sehari-hari di ruang tamu. Di dapur, tiang para-para tempat bapak
menaruh kayu bakar berdiri kokoh. Tiang itu menghitam karena setiap hari
terpapar asap pawon kami.
Dulu bapak pernah membawa pulang
trenggiling dan dikurung di kandang ayam. Aku tak bisa jelas melihatnya karena
bapak membawanya malam-malam. Aku begitu penasaran dan tak sabar menunggu esok
pagi untuk melihat langsung trenggiling itu. Sayangnya, pagi itu si trenggiling
hilang entah ke mana. Aku sangat kecewa kala itu.
Aku ingat tempat mandi kami yang terbuka.
Ini tidak masalah karena rumah kami adalah rumah paling ujung sehingga bagian
belakang rumah kami langsung berhadapan dengan kebun, jadi meskipun kamar mandi
kami terbuka, aku tak malu mandi di sana. Tapi, suatu hari aku pernah malu
dengan kamar mandi itu, aku takut teman-teman sekolahku menertawakanku.
Untungnya, itu sama sekali tak terjadi. Teman-temanku tak pernah menertawakan
rumahku yang sederhana.

Komentar
Posting Komentar