![]() |
| Bocil lagi main game. |
Aku menjemput Zayra di rumah Lik Siroh di Sirau. Hari ini Zayra dititipkan di sana karena Mbah Murti pergi ke Wonosobo sedangkan istriku bekerja. Setelah pulang kerja, kami menjemput Zayra di sana.
Di sana, ada dua orang bocil sedang asyik main game. Mereka sangat fokus pada layar HP. Aku jadi merenung. Apakah ini baik? Entahlah. Yang jelas, dari dua bocil ini, aku merasa kalau menjadi guru di zaman sekarang akan sangat sulit. Aku tak menyalahkan dua bocil ini. Aku saja seorang yang sudah dewasa amat sulit lepas dari HP. Apalagi mereka. Aku teringat pikiranku saat pulang sekolah. Saat itu, aku justru berpikir sebaliknya. Ini adalah saat yang paling enak bagi seorang guru. Betapa tidak, orang-orang sebenarnya tak pernah benar-benar menginginkan anak mereka tumbuh menjadi manusia baik, manusia yang berakhlak, manusia yang cerdas. Mereka tak pernah benar-benar menginginkannya. Seseorang menerobos lampu merah dengan mudahnya sementara di belakangnya duduk anak kecil yang mungkin anaknya. Aku sangat sering melihat yang seperti ini. Orang-orang membuang sampah sembarangan di depan anak-anak. Mereka berbohong. Mereka bertengkar. Mencaci. Menumbuhkan kebencian di sana-sini. Apakah mereka benar-benar menginginkan anak mereka tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia? Aku yakin bahwa mereka juga tahu praktik katrol nilai di sekolah, tapi mereka diam saja, bahkan mungkin bersyukur. Dari hal-hal ini aku menyimpulkan bahwa orang-orang sebenarnya tak benar-benar serius menginginkan generasi emas. Pemerintah sama saja, lebih mudah menipu masyarakat yang bodoh daripada masyarakat yang kritis dan pintar. Aku bisa liat prioritas mereka yang lebih mengutamakan perut daripada kepala. Program MBG yang gigantis di atas banyak sarana dan prasarana pendidikan yang masih sangat timpang dan kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak. Ya, ini mungkin saat terbaik menjadi seorang guru kalau kamu menginginkan pekerjaan yang malas. Ya, cukup datang ke kelas, kasih anak-anak tugas dan selesai. Tak perlu repot-repot mempersiapkan pembelajaran mendalam atau apapun itu. Cukup datang seadanya. Beri nilai saat dibutuhkan. Selesai. Toh, orang-orang sepertinya memang tak menginginkan anak-anak mereka jadi orang baik. Entahlah.

Komentar
Posting Komentar