Langsung ke konten utama

Bocil EPEP dan Keresahan Seorang Guru

Bocil lagi main game.

Sabtu, 09 Mei 2026

Aku menjemput Zayra di rumah Lik Siroh di Sirau. Hari ini Zayra dititipkan di sana karena Mbah Murti pergi ke Wonosobo sedangkan istriku bekerja. Setelah pulang kerja, kami menjemput Zayra di sana. 

Di sana, ada dua orang bocil sedang asyik main game. Mereka sangat fokus pada layar HP. Aku jadi merenung. Apakah ini baik? Entahlah. Yang jelas, dari dua bocil ini, aku merasa kalau menjadi guru di zaman sekarang akan sangat sulit. Aku tak menyalahkan dua bocil ini. Aku saja seorang yang sudah dewasa amat sulit lepas dari HP. Apalagi mereka. Aku teringat pikiranku saat pulang sekolah. Saat itu, aku justru berpikir sebaliknya. Ini adalah saat yang paling enak bagi seorang guru. Betapa tidak, orang-orang sebenarnya tak pernah benar-benar menginginkan anak mereka tumbuh menjadi manusia baik, manusia yang berakhlak, manusia yang cerdas. Mereka tak pernah benar-benar menginginkannya. Seseorang menerobos lampu merah dengan mudahnya sementara di belakangnya duduk anak kecil yang mungkin anaknya. Aku sangat sering melihat yang seperti ini. Orang-orang membuang sampah sembarangan di depan anak-anak. Mereka berbohong. Mereka bertengkar. Mencaci. Menumbuhkan kebencian di sana-sini. Apakah mereka benar-benar menginginkan anak mereka tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia? Aku yakin bahwa mereka juga tahu praktik katrol nilai di sekolah, tapi mereka diam saja, bahkan mungkin bersyukur. Dari hal-hal ini aku menyimpulkan bahwa orang-orang sebenarnya tak benar-benar serius menginginkan generasi emas. Pemerintah sama saja, lebih mudah menipu masyarakat yang bodoh daripada masyarakat yang kritis dan pintar. Aku bisa liat prioritas mereka yang lebih mengutamakan perut daripada kepala. Program MBG yang gigantis di atas banyak sarana dan prasarana pendidikan yang masih sangat timpang dan kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata layak. Ya, ini mungkin saat terbaik menjadi seorang guru kalau kamu menginginkan pekerjaan yang malas. Ya, cukup datang ke kelas, kasih anak-anak tugas dan selesai. Tak perlu repot-repot mempersiapkan pembelajaran mendalam atau apapun itu. Cukup datang seadanya. Beri nilai saat dibutuhkan. Selesai. Toh, orang-orang sepertinya memang tak menginginkan anak-anak mereka jadi orang baik. Entahlah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...