![]() |
| Pustakawan sedang menjelaskan tata tertib di Perpusda. |
Hari ini adalah hari Kartini. Sekolahku tidak mewajibkan siswa putrinya memakai kebaya. Beberapa guru menyayangkan keputusan itu. Pak Wahyu berkomentar, "Tidak ada inisiatif sama sekali." Aku piket penyambutan siswa seperti biasa. Siswa putra kusalami. Siswa putri tidak. Aku menyalami mereka sambil menghafal nama beberapa anak didikku. Setelah piket penyambutan selesai, aku menilai tugas menulis surat pribadi kelas 7I. Dari tugas-tugas itu, aku melihat sedikit kehidupan siswa-siswaku yang sangat beragam. Mereka bukan hanya nama-nama di buku absen. Mereka tidak datang ke sekolah dengan kekosongan. Mereka hidup dan punya kehidupan masing-masing. Ada yang terinspirasi dari grup kesenian di Magelang, ada yang sangat menggemari artis Korea, ada yang sangat merindukan teman SD-nya yang kini berbeda sekolah, ada yang sangat merindukan keluarganya, bahkan ada yang ingin cepat-cepat mati. Tanpa sadar, aku tidak menilai aspek teknis penulisan pada surat pribadi mereka. Aku lebih menilai keberanian dan kejujuran mereka dalam menulis surat. Aku membaca surat mereka satu persatu hingga semuanya selesai kubaca. Setelah selesai membaca surat mereka, aku tak tahu harus melakukan apa lagi meskipun sebenarnya aku sudah membuat daftar tugas yang harus kuselesaikan di HP-ku. Akhirnya, untuk memanfaatkan waktu luangku, aku bermain teka-teki silang bahasa Inggris untuk menguatkan kosakataku.
Aku sempat mengunjungi kantor cabang BSI untuk mengurus kegagalan transaksiku di aplikasi Beyon BSI. Ternyata pelaporan bisa langsung dilakukan di aplikasi tersebut. Aku segera kembali ke madrasah dan melanjutkan permainan TTS bahasa Inggrisku.
Sebuah penguman di grup WA Dinas menggagalkan rencanaku untuk mlipir yaitu, meninggalkan madrasah dan kembali untuk absen saja. Pasalnya, pengumuman itu mengharuskan setiap wali kelas mengikuti rapat.
Saat akan mengikuti rapat itu, Bu Endah memintaku untuk mendampingi siswa saja ke Perpustakaan Daerah. Aku bersama Bu Fatma wali kelas 7E, Bu Ros wali kelas 7F, Bu Sri pegawai Perpus Baitul Hikmah mendampingi siswa ke Perpusda. Di sana, kami mendengarkan penjelasan pustakawan terkait aturan-aturan di ruang-ruang di sana dan bagaimana caranya menjadi anggota Perpusda. Selain itu, kami juga menonton film pendek tentang buku. Sayangnya, ruangan terasa sangat panas seperti di sauna. AC yang dinyalakan seolah tak ada artinya sama sekali.
Aku mencari buku bagus di bazar buku di sana. Namun, pertimbangan keuangan membuatku tak banyak membeli buku. Aku hanya membeli dua buah buku: buku kumpulan dongeng dan sebuah novel karya Henry James. Setelah puas melihat dan memilih judul buku, aku ke masjid An-Nur untuk melaksanakan solat dzuhur. Masjid itu terasa sangat sejuk. Embusan angin dari celah-celah kisi dinding yang bermotif sangat mendinginkan aku. Rasanya benar-benar nyaman. Sebenarnya, aku berencana membaca buku di sana hingga tiba jam absen. Namun, tiba-tiba Bu Kamad menelfonku dan membuat aku sedikit panik. Pasalnya, ada kelas yang kutinggalkan begitu saja, tanpa tugas sama sekali. Ternyata, Bu Kamad hanya menanyakan perihal salah satu siswaku yang bermasalah.
![]() |
| Nabil sedang main truk oleng. Aku tidak tahu apakah kelak dia akan suka membaca buku atau tidak. Aku hanya bisa berusaha menyediakan sebanyak mungkin dan sevariatif mungkin buku-buku untuknya. |
Aku membelikan untuknya buku kumpulan dongeng Aesop. Di dalamnya ada 100 dongeng tentang hewan, manusia, benda dan hal-hal ajaib layaknya dongeng pada umumnya. Satu hal yang terlintas di pikiranku saat membeli buku ini adalah bahwa aku bisa menggunakannya sebagai bahan cerita yang kuceritakan kepada Nabil atau Nabila jika mereka meminta sebuah cerita sebelum tidur. Aku pikir bisa menceritakannya satu persatu sebelum mereka tidur. Ya, barangkali aku bisa.
Novel Henry James yang kubeli tak lain karena aku merasa tak asing dengan nama Henry James. Dan, ya, instingku benar. Dia penulis yang beberapa kali mendapatkan nominasi nobel sastra. Novel yang kubeli ini adalah karyanya yang paling mahsyur. Novel ini cukup tebal, sekitar 700 halaman. Ya, aku tak tahu akan membacanya kapan. Yang jelas, aku berharap suatu saat bisa membacanya.


Komentar
Posting Komentar