Kemarin aku berkunjung ke rumah ibuku di Pucungsari. Tujuanku adalah untuk mengambil STNK dan plat nomor kendaraan yang sudah diganti oleh bapakku. Dari MTs N 2 Banjarnegara, aku lewat Madukara. Karena Jumat dan waktu salat jumat sudah masuk, aku mencari masjid terdekat dan memilih di Petambakan. Setelah selesai salat jumat, aku beli bakso di kedai Pak Kimin. Aku beli tiga porsi, satu untukku, satu untuk istriku, dan satu lagi untuk Bu Lilli. Kami makan di TK GUPPI Rakitan. Barulah setelah makan aku pergi ke rumah ibuku. Aku berpapasan dengan bapak yang akan pergi ke kebun sehingga aku tak berlama-lama di rumah ibuku dan segera menyusul bapak ke kebun. Rafa ikut membonceng di depan. Sampai di kebun, kusuruh istriku pulang lebih dulu sedangkan aku masih ingin di kebun. Aku tetap di kebun sampai waktu yang cukup lama. Di kebun ini, dulu aku banyak menghabiskan waktuku bersama bapak, mulai dari menanam berbagai tanaman seperti pisang, salak, pohon albasia, dan masih banyak lagi. Aku masih ingat pohon mahoni berukuran sekitar setengah meter yang daun-daunnya lonjong dan mengkilap. Aku juga sangat mengingat tanaman salak lokal yang barusannya sangat tidak teratur. Di sebelah utara ada pagar dari pelepah salak yang ditancap-tancapkan ke tanah. Kadang bahkan pelepah ini hanya ditumpuk saja sehingga pagar ini bisa sangat tebal. Aku ingat bagaimana dulu bapak mengajariku cara mencangkok dan menanam hasil cangkokan tanaman salak. Keluargaku dulu miskin dan tak mampu membeli bibit salak dalam jumlah banyak sehingga bapak perlu menunggu tanaman salaknya bertunas dan mencangkoknya sendiri agar tak perlu mengeluarkan biaya. Bapak juga sering membawa pulang tunas-tunas tanaman salak yang dibuang oleh majikannya. Tunas-tunas itu kadang berakar satu sampai tiga helai saja. Peluang tumbuhnya jika ditanam sangat kecil. Namun, bapak telaten merawatnya dan banyak yang ditanamnya berhasil tumbuh. Di belakang rumahku dulu sering ada beberapa tunas-tunas tanaman salak yang diikat jadi satu yang hendak ditanam di kebun oleh bapak. Aku masih ingat sekali bagaimana bapak sangat berharap tunas-tunas tanaman salak ini nantinya akan berbuah lebat dan menopang kehidupan keluarga kami. Namun, saat tunas-tunas itu tumbuh dan berbuah, tanaman salak pondoh telah begitu banyak ditanam orang sehingga harganya jatuh sangat murah.
Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...
Komentar
Posting Komentar