Langsung ke konten utama

Menjaga Anak Perempuan

Hari ini, aku mengunjungi rumah siswa putri yang sudah lebih dari satu minggu tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Rumahnya di Desa Pekauman RT 02 RW 01 Kec. Madukara, Kab. Banjarnegara. 

Aku berangkat setelah jam istirahat berakhir. Ditemani Alta, guru BK di sekolahku, aku berkendara pelan dari MTs N 2 Banjarnegara ke arah timur. Cuaca panas dan jalanan berdebu serta rusak di sana-sini. 

Kami tiba di rumah siswaku sekitar pukul 10.30. Rumahnya cukup besar. Halamannya luas. Sekilas aku bisa menilai kalau orang tuanya cukup mampu. Maksudku tak kekurangan materi. 

Kami disambut oleh neneknya yang ternyata seorang pensiunan guru. Neneknya minta maaf karena cucunya membuat kami repot sehingga perlu bersusah-susah datang ke sana. Tantenya membuatkan kami teh hangat dan menyuguhkan makanan ringan. 

Saat kami akan menyampaikan maksud kami kepada neneknya, dia tidak mau. Dia bilang lebih baik bicara langsung saja kepada ibunya. Kami terpaksa menunggu ibunya yang ternyata sedang mandi. Kami menunggu cukup lama. Hingga akhirnya ibunya menemui kami. 

Kami langsung mengutarakan maksud kami yaitu untuk menanyakan alasan mengapa Zahra tidak masuk sekolah selama lebih dari satu minggu tanpa memberikan kabar apapun. Ibunya menangis sambil meminta maaf karena merasa bersalah atas ulah anaknya. 

Zahra sudah seminggu ini mengurung diri di kamarnya. Ia hanya keluar untuk mandi, makan, atau untuk keperluan lainnya. Ibunya tak tahu harus berbuat apa. Ibunya menceritakan bahwa Zahra seorang anak yang tempramen. Dulu, Zahra pernah melakukan hal yang sama saat masih sekolah si SMP IT. Dia mengurung diri di kamarnya dan tak mau berbicara kepada siapapun. Kini hal itu terulang lagi dan ibunya masih tidak tahu harus berbuat apa. Aku bertanya-tanya, apakah dia tak belakar dari kejadian sebelumnya? 

Aku dan Alta mencoba membujuk Zahra keluar dari kamarnya, tapi hal itu sia-sia belaka. Orang paling dekatnya saja tak mampu melakukannya, bagaimana kami bisa? Ini sebenarnya agak konyol. 

Kami lantas berbicara mengenai Zahra di ruang tengah rumah itu. Aku duduk di lantai dan mendengarkan penjelasan ibunya Zahra tentang Zahra. Kami mencoba mengorek pergaulan Zahra di luar rumah. Siapa temannya, siapa yang sering dia hubungi, apa ada kegiatan di luar rumah, dan sebagainya. 

Sebenarnya, ada satu rumor yang beredar di antara siswa bahwa Zahra hamil di luar nikah. Pacarnya beda jauh usianya dengan Zahra. Dan, ini menjadi semacam bumbu yang membuat rumor ini menyebar dengan cepat. Salah satu tujuan kami datang ke rumahnya adalah untuk mengklarifikasi masalah ini. Namun, kami masih hijau dalam hal seperti ini dan tentu saja kami mengalami kesulitan untuk mengorek informasi ini. Tak mungkin kami mendesak orang tuanya, atau untuk bertanya secara langsung mengenai hal ini. 

Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah mencoba sedekat mungkin mengorek hal ini melalui pergaulannya dengan teman di luar sekolah. Namun, hal itupun tak membuahkan hasil yang memuaskan. Kami tetap tidak tahu alasan mendasar mengapa Zahra melakukan hal ini. Kami sudah berusaha. Dan, kami sudah mencoba. 

Aku melihat bahwa Zahra tak punya koneksi yang kuat dengan ibu maupun tantenya. Ia tak mau terbuka dengan ibunya maupun tantenya. Ini membuat masalah lebih sulit untuk diselesaikan. Dari sini, aku menariknya ke masalahku sendiri sebab aku juga punya anak. Aku juga punya anak perempuan. Dalam hati, aku takut kelak aku juga mengalami hal yang sama. Satu hal yang menjadi pikiranku adalah bahwa mulai saat ini, aku harus belajar membangun kepercayaan dengan anak-anakku. 

Aku harus menjadi tempat yang aman buat mereka menceritakan rahasia-rahasia mereka kelak. Tentu ini bukan perkara yang mudah. Aku bahkan tak tahu harus memulainya dari mana. Setiap orang tua awalnya pasti tak memiliki pengalaman seperti ini dengan anaknya. Maksudku, mereka tentu berusaha dari awal. Apa yang harus kulakukan agar kelak anak-anakku mau bercerita kepadaku? Apa yang harus kulakukan agar aku menjadi pilihan pertama mereka saat mereka membutuhkan pendengar? Jawabannya mungkin adalah mendengarkan. Membuktikan kepada mereka bahwa aku mendengarkan mereka. Bahwa aku menghargai perasaan dan pikiran mereka. Ini tentu bukanlah hal yang mudah. Terkadang, aku merasa sangat lelah dan menjadi terlalu mengantuk untuk sekadar bermain dengan anak-anakku atau mendengarkan rengekan mereka. Aku sebenarnya tahu bahwa yang kita anggap sebagai rengekan, buat mereka adalah dunia nyatanya. Maka, aku akan berusaha lebih mendengarkan mereka alih-alih mengabaikan mereka. 

Kunjungan ke rumah Zahra.  

Sekarang aku sedang berada di kantor MTs N 2 Banjarnegara. Udara terasa sangat sejuk sebab AC kantor dinyalakan. Suara bola voli yang digebuk dengan penuh semangat. Beberapa guru sudah entah ada di mana. Yang lainnya masih ada di kantor. Aku minum air putih yang hangat. Beberapa kali ke kamar mandi karena belet pipis. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...