Langsung ke konten utama

Refleksi Guru Aspek Mengondisikan Siswa/Pengelolaan Kelas

Kamu menyadari betul bahwa wibawamu sebagai seorang guru kurang meyakinkan. Setidaknya dalam pemikiranmu. Penilaian ini kamu ambil atas dasar seringnya kelas yang kamu awasi ribut saat ujian. Lantas kamu mengambil inisiatif mencoba tiga pendekatan untuk mengondisikan siswa di kelas agar lebih tenang. 

Pertama, pendekatan yang lebih bersahabat. Kamu menyampaikan di awal pelaksanaan tes bahwa mengobrol dengan teman atau membuat keributan saat tes berlangsung adalah tindakan tidak menghargai orang lain. Meskipun siswa sudah selesai mengerjakan soal ujian, mereka tetap tidak boleh mengobrol karena bisa jadi ada siswa lain yang belum selesai mengerjakan soal sehingga pasti akan terganggu. Kamu menegur mereka yang mengobrol dengan teguran yang santai dan cenderung bersahabat. Mereka mendengarkan teguranku, menjadi kondusif selama beberapa saat, lalu kembali riuh. Ada dua anak yang waktu itu belum selesai mengerjakan soal sehingga aku merasa perlu menegur lagi siswa yang riuh di kelas dengan obrolah masing-masing. Aku menegur dengan cara yang sama dengan hasil yang sama pula: kondusif sebentar riuh kembali setelah beberapa saat. 


Kedua, pendekatan permisif. Ini boleh dibilang yang paling tidak efektif. Aku memberi izin kepada yang sudah selesai untuk mengobrol tapi dengan catatan menggunakan suara kecil. Kesalahanku adalah "suara kecil" yang kumaksud tentu tak jelas ukurannya. Siswa jelas tak mungkin mengukur suara mereka sendiri. Apabila ada suara yang lebih keras, bukankah suara yang lain dianggap relatif lebih kecil?  Maka suara-suara mereka yang mengobrol semakin keras dan semakin keras. Jelas aku tak mungkin mengulangi cara ini. Tidak efektif. Memberikan kebebasan kepada siswa sama sekali tidak efektif.


Ketiga, pendekatan yang lebih otoriter. Saya sengaja menampilkan sosok yang galak di awal masuk kelas. Saya menegur siswa langsung saat mereka melakukan kesalahan. Saya menegur dengan cukup keras, meskipun sebenarnya saya tidak menyukai cara ini. Mereka menjadi lebih kondusif. Namun, nampaknya ini bukan karena mereka menyadari tindakan mereka salah, mereka hanya takut ditegur saja. Kekurangannya adalah, ini mengorbankan relasi guru-siswa. 


Ada beberapa hal yang aku sadari: 


(1) Ketika aku mencoba menegur dengan keras aku belum bisa menahan kemarahanku. Dalam arti, aku yang sebenarnya tidak bermaksud marah, ternyata menampakkan wajah marah saat menegur siswa. Rasa marah itu tetap keluar meskipun sebenarnya aku tak ingin marah. Aku masih belum memiliki kemampuan menegur dengan keras tanpa rasa marah. 


(2) Picu guru lain. Aku mudah terpicu tindakan guru lain. Sebelum masuk ruang ujian aku melihat salah satu guru menegur dengan keras salah satu siswa yang belum mengumpulkan tugas. Aku sadar bahwa tindakanku menegur dengan keras sedikit terpicu oleh apa yang kusaksikan sebelumnya, yaitu tindakan Pak Edo yang menegur siswa dengan keras. 


Apa yang ingin aku coba lakukan? 


Baiklah, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Mari kita coba kombinasikan antara pendekatan pertama dengan pendekatan ketiga. Demokratis namun sekaligus otoriter. Mari kita gunakan rumus menikmati hidup: 1) belajar, 2) bersyukur, 3) bermain, dan 4) menerima. 


Yang paling tepat saat ini adalah belajar dan menerima. Buat mengawasi ujian menjadi kegiatan belajar mengondusifkan kelas. Terima jika memang ada saatnya kelas menjadi tidak kondusif. Jadi, di kesempatan nanti cobalah untuk tetap bersahabat namun tetap tegas dalam menyampaikan teguran. Percaya dirilah. Kekurangan bukan untuk diratapi tapi untuk dicarikan solusi bagaimana mengatasinya. Jangan berpangku tangan jika kemampuan yang kamu miliki pas-pasan. Akui itu dan bergeraklah mencari cara mengatasinya. Lakukan. Evaluasi. Lakukan perbaikan. Evaluasi. Dan begitu seterusnya. 


Kamu mungkin juga perlu mencatat kata apa saja yang biasanya keluar dari mulutmu saat di dalam kelas. Mengambil jarak untuk mengamati itu penting. Memiliki data untuk menganalisis kemampuan sendiri itu juga penting. Jadi, tulis apa yang kamu lakukan di dalam kelas, analisis, dan evaluasi dirimu. 


Buat SOP untuk dirimu sendiri. Seperti semacam daftar antisipasi atas apa yang mungkin siswa lakukan. Seperti jika siswa meminta jam kosong, apa yang akan kamu lakukan. Dan lain sebagainya. 


Kita akan lanjutkan nanti. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...