Sabtu, 30 Mei 2026
Nabil menyalakan televisi di rumah kami. Aku tahu, kalau dia tidak bosan tak mungkin dia menyalakan televisi itu. Dia menyalakannya karena dia bosan. Dia bosan kemungkinan besar karena tak ada orang yang serius mengajaknya bermain. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Termasuk aku. Bahkan mungkin akulah orang yang paling sibuk dengan diriku sendiri. Nabil hanya anak kecil yang ingin bermain dan bersenang-senang. Namun, terkadang orang-orang di sekitarnya tak mengerti. Mungkin akulah yang paling tak mengerti. Dan, ketika Nabil tak menemukan hal yang menyenangkan dari orang lain dan telah merasa bosan dengan mainannya, dia mencari hal baru: menonton televisi. Sayangnya, televisi di rumah kami sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya sejak kurang lebih satu bulan lalu. Ini membuatku merenung cukup lama. Kasihan sekali Nabil. Dia tak bisa lagi menonton televisi. Aku mungkin salah karena menonaktifkan aksesnya menonton televisi. Memang tumbuh sebuah rasa bersalah dalam diriku karena aku menonaktifkan salah satu kesukaannya, tapi aku tak menggantinya dengan hal lain seperti perhatianku kepadanya. Aku takut dia bermain sendirian dan sedih karenanya. Namun, aku jarang benar-benar membiarkannya bermain bersamaku. Inilah yang membuatku merenungkan masalah ini. Inilah yang membuatku merasa bersalah. Di satu sisi, pikiranku menyarankan sebuah alasan yang cukup masuk akal bahwa menonaktifkan televisi dan melarang penggunaan HP di usianya yang sekarang (3,5 tahun) adalah sebuah upaya untuk membangun kedekatan antara anak dan orang tua. Namun, aku lantas membantahnya sendiri karena aku tahu hal ini juga terjadi lantaran alasan ekonomi. Aku mau berhemat demi menabung uang untuk membangun rumah kami sendiri. Aku terpaksa memutus akses layanan televisi dengan indihome agar tagihan internet bulananku turun. Otakku menyarankan agar menjadikan ini sebagai alasan memperkuat ikatan. Tak ada TV, tak ada HP, maka Nabil akan lebih banyak menghabiskan waktunya bermain dengan kami, dan itu akan memperkuat ikatan di antara kami. Namun, aku sadar alasan ini mengada-ada. Aku lebih sering menghabiskan waktuku sendirian dari pada bersama Nabil. Aku lebih sering menghindar. Ayah macam apa aku ini. Otakku lantas memberikan alasan lagi bahwa semua yang kulakukan bukan karena aku malas bermain dengan Nabil, aku hanya terlalu lelah. Kadang aku hanya terlalu lelah. Pikiranku mengatakannya demikian. Aku mengkhawatirkan Nabil yang bermain sendirian sementara orang-orang di sekitarnya tak benar-benar memperhatikannya. Aku khawatir mereka akan membiarkannya bermain sendirian. Namun, rupanya mungkin akulah yang paling sering membiarkannya bermain sendirian. Usia lima tahunnya tinggal sebentar lagi. Aku tahu akan sangat sulit untuk mendapatkan waktu bersamanya setelah dia melewati masa lima tahun. Waktu akan sangat cepat berlalu. Aku tak ingin mengabaikannya begitu saja.
Komentar
Posting Komentar