Langsung ke konten utama

Manusia Hanya Alat


Kamis, 4 Juni 2026

Tadi malam saya nonton anime Classroom of The Elite. Satu hal yang menarik perhatianku adalah bagaimana Ayanokoji memandang orang-orang di sekitarnya sebagai alat. Di akhir adegan geludnya dengan Nanase, dia memanfaatkan Nanase yang ingin balas dendam ke ayahnya untuk memintanya membantunya bertahan di sekolah. Nanase yang awalnya ingin mengeluarkan Ayanokoji dari sekolah justru berbalik membantunya. Yang menarik adalah ucapan Ayanokoji bahwa dia sama dengan pria itu (maksudnya ayahnya) bedanya hanya bahwa Ayanokoji mau memanfaatkan apa saja sebagai alat bahkan yang paling lemah sekalipun. Meski pada akhirnya akan dibuang juga, semuanya bergantung seberapa baik kita mampu memanfaatkan sebuah alat. 

Aku memikirkan sudut pandang Ayanokoji yang menarik ini di dalam kelas saat mengawasi anak-anak kelas 7 dan 8 ujian kenaikan kelas. Pertanyaan besarku adalah apa jadinya kalau sudut pandang Ayanokoji ini kuambil sebagai sudut pandang seorang guru terhadap muridnya. Apa implikasi menariknya? 

Sebagai alat mereka bisa kugunakan untuk tujuan-tujuanku. Tapi, aku tak bisa menentukan tujuanku sendiri. Mengapa? Tak lain adalah karena aku seorang guru. Tujuanku sudah jelas sejak awal, yaitu membuat anak-anak didikku menguasai materi yang kuajarkan. Mungkin, bahkan tak lebih dari itu. Dengan kata lain, aku memanfaatkan mereka untuk mengubah mereka. Dalam pembelajaranku, mereka adalah tujuan utamanya. Namun, mereka adalah sekaligus alat, proses, subjek, objek, dan materinya. Pengenalan yang baik tentang mereka akan memudahkanku menggunakan mereka dalam berbagai cara. Ini seperti koki yang tahu kapan harus pakai pisau untuk mengiris tipis, kapan harus pakai pisau untuk mencincang halus. 

Yang sangat menarik adalah saat Ayanokoji berhasil menggunakan pengetahuannya tentang seseorang dengan sangat baik, meskipun pengetahuan itu sebenarnya sangat kecil. Maksudku, dia tahu sedikit tentang orang lain tapi mampu memanfaatkan pengetahuan yang sedikit itu sebaik-baiknya. Sungguh sangat menarik. 

Saat mengawasi di ruang 19, aku berhasil menghafalkan semua siswa kelas 7J di ruangan itu. Ini sebenarnya harusnya kulakukan di awal pembelajaran. Tapi, aku baru berhasil di akhir pembelajaran. Aku mencoba satu hal di kelas-kelas yang kuawasi. Kalau aku mau sebuah kelas tunduk kepadaku, aku hanya perlu memegang yang paling berpengaruh dalam kelas dan membuatnya dalam kendaliku. Maka, seluruh kelas akan ada dalam kendaliku. 

Satu hal yang kusadari adalah tatapan mata bisa sangat berpengaruh. Kalau kamu mau menang dalam banyak hal, jika lawanmu adalah seorang manusia, maka kamu tak boleh kalah dalam beradu pandang. Jangan ragu menatap mata lawanmu. Karena kalau ada keraguan terpancar dari matamu, kamu akan kalah. Begitulah yang kusimpulkan dari apa yang kualami. 

Hal lain yang aku sadari adalah suaraku yang bergetar saat menegur siswa. Aku sudah berusaha tenang dan menegur dengan nada rendah. Namun, ini butuh latihan lagi. Kemampuanku masih kurang sehingga aku tahu kalau aku masih perlu banyak belajar. Dari pengalamanku kali ini, aku merasa perlu membaca lagi buku-buku psikologi, baik psikologi pendidikan maupun psikologi umum. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...