Aku menulis apa yang kualami di media blog. Beberapa tulisan kusimpan di laptop pribadiku. Tujuanku menulis semua itu adalah untuk diriku kelak di masa depan. Aku ingin mengenang momen-momen tertentu yang saat kutulis kuanggap penting. Namun, ada satu kekhawatiran yang mengganjal pikiranku. Aku khawatir suatu saat di masa depan, blog tak lagi digunakan lalu aku kehilangan akses ke catatan-catatan itu. Aku yang awalnya ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan di masa laluku menjadi tak punya apa-apa untuk diingat. Apa yang akan kulakukan jika hal itu terjadi? Tapi, aku mau mundur ke alasan mengapa aku menginginkan hal itu. Mengapa aku ingin bernostalgia? Ini mungkin karena aku takut kelak tak punya aktivitas apapun yang bisa mengisi hari-hariku. Aku takut hanya bisa bengong saat menghabiskan masa tuaku. Aku takut kelak tak punya apa-apa. Atau mungkin juga ini karena alasan yang lebih mendalam, yaitu perasaan takut dilupakan. Dengan kata lain, aku takut tak meninggalkan jejak apapun di dunia dan kelak tak ada yang tahu bahwa aku pernah ada. Terkadang aku menganggap bahwa menuliskan pengalamanku itu hal yang penting. Kadang alasan seperti ini saja cukup untuk menulis sesuatu. Tapi, mengapa alasan-alasan ini muncul. Bukankah alasan-alasan ini tidak muncul begitu saja? Kadang aku merasa kalau semua alasan ini muncul sebab aku merasa diriku penting. Padahal, aku juga sering berpikir bahwa aku bisa mati kapan saja dan setelah itu, semuanya berakhir. Aku tak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan catatan-catatanku bahkan dengan diriku sendiri. Lalu sebenarnya buat apa aku menuliskan semua itu. Bisakah aku menemukan alasan yang lebih masuk akal atau alasan yang lebih baik untuk tetap menulis? Alasan yang cukup untuk tidak lagi khawatir akan tulisan-tulisanku bahwa melahirkannya sama seperti mengeluarkan semua yang enak dikeluarkan. Soal apakah itu berguna atau tidak, itu abadi atau tidak, itu hilang atau tidak, bukankah tak penting? Bukankah yang paling penting adalah hari ini? Bukankah yang paling penting adalah saat ini? Mungkin benar bahwa puncak kesuksesan seseorang bisa jadi adalah ketika ia mampu bahagia bahkan sekalipun hanya mengerjakan hal-hal sepele, yang tak dianggap penting oleh orang lain. Jadi, kenangan boleh hilang. Ia boleh terhapus bahkan dihapus. Mencemaskan masa depansampai ke titik detail seperti mencemaskan hilangnya catatan-catatan pribadi adalah sebentuk siksaan. Apa yang bisa hilang memang mungkin bisa hilang. Jadi, mengapa kamu perlu menghabiskan banyak tenaga dan wakumu untuk mengkhawatirkannya? Bukankah lebih baik menjalani hari dengan penuh rasa syukur dan tak perlu mencemaskan yang tak perlu dicemaskan? Jadi, tolong berhentilah mencemaskan hal-hal seperti itu.
Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Komentar
Posting Komentar