Langsung ke konten utama

Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan

"Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?" Mungkin pertanyaan itu sangat layak kamu ajukan ke dirimu sendiri. Di tengah banyaknya orang-orang di negerimu yang masih menganggur, kamu dapat pekerjaan yang sungguh diinginkan banyak orang. Kamu lolos sebagai CPNS dan sedang menunggu menjadi PNS. Lihatlah Joni, adik iparmu, yang sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan tetap. Dia sudah punya satu anak dan sebentar lagi masuk usia sekolah. Tapi, dia masih menganggur. Kamu menemukan pembanding yang sangat dekat dan masih saja mengeluhkan pekerjaanmu saat ini. Bahkan, kamu berpikir untuk mencari pekerjaan lain yang menurutmu sangat kamu idam-idamkan, yaitu menjadi petani. Apakah kamu gila? 

Maka, satu pertanyaan sekali lagi perlu dilemparkan kepadamu, "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?" 

Kamu terus-menerus digerogoti pikiran-pikiran buruk tentang pekerjaanmu. Kamu tahu pikiranmu berbahaya. Tapi kamu membiarkannya tumbuh liar dan semakin liar. Agaknya, kamu perlu merenungi kalimat ini baik-baik. "Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik buatmu. Dan apa yang menurutmu buruk, belum tentu buruk buatmu." Bukankah kamu sudah berulang kali mendengar atau membaca kalimat ini? Jika tidak salah, kalimat ini bahkan berasal dari kitab suci agamamu. Lantas, apa yang membuatmu demikian terpuruk sampai-sampai banyak sekali pekerjaan yang harusnya dapat kamu selesaikan malah terbengkalai. Kamu membeku karena pikiranmu sendiri. 


Mari kita jabarkan pikiran-pikiranmu satu-persatu.


1. Menjadi PNS menghilangkan waktumu membaca buku. Apakah benar? Tentu ini sangat tidak tepat. Kamu memang sudah sangat jarang membaca buku. Namun, itu bukan karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sebagai seorang CPNS. Kamu kehilangan banyak waktumu justru karena sering membuka media sosial dan akhirnya tanpa sadar waktumu tersedot begitu banyak di sana. Kamu tenggelam dalam algoritma facebook, youtube, dan lainnya. Kamu tenggelam di sini karena kamu tidak punya jadwal pasti yang kamu prioritaskan. Kamu kehilangan arah saat tak tahu akan mengerjakan apa dan pada akhirnya kamu membuka medsos untuk menghilangkan kebuntuanmu. Kecanduan akan media sosial sebenarnya adalah perang melawan dirimu sendiri. Ada sirkuit-sirkuit dalam otakmu yang membimbingmu untuk otomatis membuka media sosialmu saat sirkuit itu terpicu. Picunya bisa hal-hal yang sangat sederhana seperti memegang HP tanpa ada tujuan yang jelas. Situasi lelah dan waktu istirahat, dan lain sebagainya. Yang jelas, ada banyak picu yang pastinya tidak kamu sadari. Apakah ini tak bisa dihindari? Ya, tentu saja bisa. Salah satu yang patut kamu coba adalah membuat daftar tugas yang harus kamu selesaikan agar ketika kebingunan datang, kamu bisa paksa dirimu untuk melaksanakan salah satu tugas itu. Daftar tugas ini penting sebagai arsip tugas-tugasmu supaya kamu tidak melupakan tugas-tugas itu. Nah, mari kita kembali ke pertanyaan atau masalah awalnya, yaitu waktu membaca. Kita bisa simpulkan bahwa ini sebenarnya bukan perkara pekerjaan, tapi perkara pilihanmu saja. Maka lain kali, pilihlah membaca alih-alih menghabiskan waktu untuk menggulis media sosial. Untuk bisa memilih membaca, kamu perlu menyiapkan bacaan tentu saja. Bacaanmu bisa dari buku atau HP. Maka, simpulan paling logis adalah menyiapkan bacaan agar kamu tetap mampu membaca meski kamu telah menjadi ASN. 


2. Pekerjaan paling menenangkan adalah menjadi petani. Mungkin benar dalam prosesnya. Maksudku, saat-saat kamu merawat tanaman-tanaman di kebunmu kamu akan merasakan kedamaian. Namun, apakah itu akan menjamin kamu akan selalu tenang? Kurasa tidak. Setiap pekerjaan pasti memiliki resiko ketidaktenangan. Petani mungkin saja mengalami masa-masa tidak tenang saat sebelum panen. Kecemasan akan jatuhnya harga komoditas panen bisa saja menghantui mereka. Ketidakpastian harga ditambah mahalnya biaya perawatan termasuk pupuk mungkin saja membuat petani tidak tenang. Yang jelas, semua pekerjaan menyimpan potensi ketidaktenangan dan ketenangan. Itu sudah resiko dari pekerjaanmu. Pekerjaan sebagai sorang guru sama saja. Ada waktu-waktu kamu merasa tidak tenang saat harus masuk kelas tertentu, namun ada pula waktu saat kamu merasa tenang, misalnya saat liburan tiba, atau saat solat duha berjamaah, atau saat jam-jam kamu tidak mengajar. Saya kira, setiap pekerjaan punya tantangannya masing-masing. Mungkin, kamu perlu mengubah pola pikirmu dengan menggeser sedikit makna pekerjaanmu. Kamu harus memandang pekerjaanmu selain sebagai sarana mencari nafkah juga sebagai sarana menggapai ridho Allah SWT. Kamu harus niatkan bekerja sebagai ibadah. Dengan begitu, mungkin saja kamu akan lebih ringan melangkah untuk bekerja. Mencoba melakukan sesuatu sebaik mungkin. Apapun itu. Sebisa mungkin hanya melakukan satu hal di saat  hasilnya benar-benar maksimal. Itu, mungkin saja bisa menjad PPi jembatan untuk meraih ridho Allah SWT. Ya, kamu harus melakukannya seperti itu. Setiap saat tidak lain dan &gccczzAtidak bukan adalah tanggung jawabmu di hadapan Tuhan. Harus begitu. Harus begitu. 


3. Banyak waktu yang kamu korbankan di luar jam kerja demi menyelesaikan pekerjaanmu. Kalau kamu melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab, kamu akan merasa ringan melakukannya. Ingatlah gajimu saat ini berkali-kali lipat dibandingkan gajimu dulu. Dulu, kamu digaji 1.100.000 perbulan dan tidak ada tambahan-tambahan lainnya atau jarang ada. Sekarang, jika dihitung total kamu bisa mendapat gaji 2.300.000 + 850.000 + 2.300.000 = 5.450.000 ini belum ditambah tambahan-tambahan kecil seperti les, kepanitiaan, dan lainnya. Berapa kali lipat gajimu sekarang dari gajimu dulu? Jawabannya adalah hampir lima kali lipat gajimu yang dulu, bahkan di saat-saat tertentu seperti saat a@@ THR atau dapat tambahan penghasilan lain, gajimu mungkin bisa tembus enam kali lipat. Belum lagi, kamu sebentar lagi akan diangkat menjadi CPNS 100% yang itu berarti gajimu akan naik 20% lagi. Sampai di sini seharusnya kamu paham gajimu naik berkali-kali lipat, maka jika jam kerjamu juga naik, syukuri saja. Anggap saja itu sebagai konsekuensi logis dari naiknya gajimu hingga berkali-kali lipat itu. Harusnya kamu malah senang, kesibukan kadang bisa menyelamatkanmu dari pikiranmu sendiri. Jadi, it's oke. Lagi pula, kamu sering pula memakai jam kerja kamu untuk kepentingan pribadi seperti pergi ke rumah ibumu di Pucungsari. Jadi, berhentilah menjadi terlalu idealis dengan memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan di sekolah. Terkadang, dan mungkin bahkan sering, kamu memang perlu menyelesaikan pekerjaanmu di rumah. Yang perlu ditekankan di sini adalah, sebisa mungkin jangan sering menunda tugas. Kerjakan tugasmu sesegera mungkin saat ada kesempatan agar tidak ada tugas yang menumpuk sehingga, saat kamu punya waktu luang, kamu tidak menggunakan waktu luang itu untuk mengerjakan tugas. Intinya, tugas yang banyak sudah menjadi resiko atas gajimu yang sekarang mencapai lima kali lipat gajimu dulu saat menjadi honorer. 


4. Kamu merasa telah gagal menjadi seorang guru. Ini keputusan atau penghakiman yang teramat buru-buru. Kamu masih punya banyak kesempatan memperbaiki dirimu sebagai seorang guru. Jika Allah mengaruniai usia panjang kepadamu, maka sampai pensiun nanti, kamu masih punya masa kerja sekitar duapuluh tahun lebih. Itu bukan waktu yang pendek dan selama periode waktu itu, kamu masih bisa berproses agar menjadi guru yang lebih baik. Intinya, jangan menganggap diri terlalu rendah jangan pula menganggap diri terlalu tinggi. Kamu tidak mungkin bisa mengubah semua siswamu seperti apa yang kamu inginkan, pasti akan ada saja siswa yang membandel dan sulit diatasi. Intinya, kewajibanmu adalah berusaha semaksimal mungkin pada apa saja yang masih dalam kontrol atau kendalimu. Masalah hasil adalah masalah yang ada di luar kendalimu. Yang perlu kamu lakukan adalah, cukup berusaha mengajar dengan niat yang tulus dan dengan persiapan yang sebaik mungkin yang kamu bisa. Cobalah untuk menikmati setiap proses yang kamu lalui. Akan lebih baik jika kamu menuliskan kegiatan mengajarmu, misalnya menjadi sebuah jurnal. Ingat satu nasehat ini: "Kamu akan lebih mencintai pekerjaanmu jika kamu memberi efort lebih kepadanya." Cinta kadang hadir sebagai kata kerja aktif di mana kita harus aktif mengusahakannya agar kita mendapatkannya. 


5. Kamu bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Apakah kamu bercanda? Mungkin memang bisa. Tapi, sulitnya tidak main-main. Kemungkinannya sangat kecil. Lihat saja orang-orang yang menganggur di sekitarmu, betapa susahnya mereka mencari kerja. Untuk pekerjaan bergaji rendah saja saingannya begitu banyak. Apalagi untuk pekerjaan bergaji menengah hingga tinggi. Apakah kamu tidak ingat berapa peserta CPNS yang bersaing dengan kamu untuk mendapatkan kelulusan ini? Lebih dari seribu. Artinya apa? Pekerjaanmu saat ini adalah pekerjaan yang sangat diidam-idamkan banyak orang. Sangat banyak bahkan. Itu fakta dan kamu melihat serta merasakannya sendiri betapa melelahkannya bersaing dengan mereka. Jadi, adalah keputusan konyol jika kamu sampai tidak mencintai pekerjaanmu saat ini. Ingat surah Ibrahim ayat 7, "Barang siapa mensyukuri nikmat-Ku, niscaya akan Kutambah nikmat kepadanya." Kurang lebih seperti itu. Jadi, pikiran bahwa kamu bisa mendapat kerja yang lebih baik dari ASN saat ini adalah pikiran picik yang terlalu egois dan bahkan tidak masuk akal sehat. 


6. Bekerja sampai usia 60 tahun terasa seperti siksaan hingga tak bisa menyalurkan hobimu. Lagi-lagi ini hanya masalah pikiran saja. Letak masalahnya bukan pada seberapa lama kamu akan bekerja, tapi seberapa bagus kamu menikmati pekerjaanmu. Maka fokus saja pada peningkatan kemampuan untuk menjadikan dirimu nyaman dengan apa yang ada padamu saat ini yaitu pekerjaanmu. Tak apa bekerja hingga usia 60 tahun, yang terpenting adalah sadar bahwa bekerja adalah kemuliaan bagi seorang laki-laki. Berusahalah agar kamu tetap sehat. Berusahalah agar kamu rajin berolahraga, minum air putih, makan buah setiap hari, jaga berat badan ideal, dan yang paling krusial adalah jaga mental tetap waras dengan zikir kepada Allah SWT dan zikir doa kesibukan. Jangan biarkan pikiranmu mengembara tanpa tujuan sehingga setan mudah membelokkannya kedalam kesesatan dan kegelisahan berpikir. Bekerjalah. Selesaikanlah tugas-tugasmu sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Selesaikanlah pekerjaanmu sebagai pelayan manusia di muka bumi ini. Saatnya untuk menggerus egomu dan menumbuhkan altruisme sehat yang bertujuan kepada Allah semata. Semoga Allah memberkatimu dengan usia panjang yang membahagiakan dan bermanfaat. Hadapi apa yang datang kepadamu dengan semangat pengabdian kepada Penciptamu, Allah SWT. 


7. Bekerja sebagai guru membuatmu lelah secara fisik, perasaan, dan mental. Kamu ingin pekerjaan yang "selesai" saat kamu pulang. Oi, kamu sudah bukan remaja lagi, kamu sudah bukan bujangan lagi, kamu punya anak dan istri, anakmu bahkan dua. Sudah bukan waktunya lagi memburu idealitas yang ada di kepalamu. Kamu harus sadar bahwa kamu tak punya cukup jaring pengaman untuk gagal. Kalau kamu gagal, kamu gagal dengan membawa anak dan istrimu. Maka, selelah apapun kamu, janganlah kamu mengeluh di depan istri dan anakmu, mengeluhlah di depan Tuhanmu. Adukan masalahmu kepada-Nya. Mintalah kepada-Nya. Penuhilah pikiranmu dengan pikiran-pikiran positif yang bermanfaat. Saat perasaan negatif datang, terima saja dan akui, lalu ubah menjadi motivasi atau pemecahan masalah. Fokuslah pada apa saja yang bisa kamu kendalikan dan jangan pernah meratapi apa yang tidak bisa kamu kendalikan. Saatnya untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh. Semata-mata demi memaksimalkan peranmu di dunia ini sebagai hamba Allah, yaitu hamba yang penuh dengan kasih terhadap sesama dan penuh dedikasi untuk mengabdi. 


Bismillaahhirrohmannirrohiim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...