Senin, 09 Februari 2026
Pagi mendung. Aku berangkat kerja dalam perasaan berat. Berat meninggalkan istri dan anak. Ah, entahlah. Rasanya ada sebentuk perasaan yang mengganjal sampai membuat aku tidak semangat. Tapi, lantas aku mengingat istriku dan anakku. Rasanya, ada perasaan tidak lega yang terus-terusan mengganjal dalam hatiku. Kadang, aku merasa sangat lemah karena tak mampu membuat diriku sendiri merasa senang. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri karena tak memberikan perhatianku kepada istri dan anakku. Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Apakah ini? Apakah perasaan ini? Ada rasa hampa yang membuatku merasa apa yang kulakukan tidak menghasilkan apapun. Apakah ini tanda bahwa sebenarnya aku membutuhkan validasi dari orang lain? Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya untuk membuatku merasa lega.
Hari ini aku ikut upacara. Saat mengheningkan cipta, tiba-tiba keseimbanganku sedikit hilang. Ini sering terjadi saat aku berdiri dengan fokus yang cukup tinggi. Aku telah lama menyadari hal ini. Saat solat tarawih di Jakarta, saat imam masjid membaca surat yang panjang, saat itulah aku menyadari bahwa jika aku berdiri terlalu lama dengan fokus memandang satu titik, aku akan kehilangan sedikit keseimbanganku. Aku tidak tahu ini apa. Aku harap, ini bukan pertanda penyakit. Keringat bercucuran di tengkuk. Aku merasakan mereka meluncur turun ke punggungku. Meski aku suka kehangatan cahaya matahari pagi, tapi keringat ini sangat mengganggu. Mereka terus-menerus turun meluncur dari tengkuk ke punggungku. Upacara yang panas.
Aku melanjutkan pekerjaanku setelah beristirahat sekitar 30 menit. Hari ini aku mengajar di kelas 7G, 7J, 9I, dan 9J. Sungguh jadwal yang sangat panjang. Aku tahu, ini akan berakhir. Berakhir di hari, bulan, dan tahun. Namun, entah mengapa tubuh ini terasa sangat berat. Ada apa dengan diriku? Aku memulai kelasku di kelas 7G dengan apresiasi kecil karena tak ada satupun dari kelas ini yang dihukum saat upacara. Aku melanjutkan dengan mencoba membangun harga diriku dan wibawaku sebagai seorang guru dan wali kelas. Ini penting dan aku melakukannya dengan sadar. Aku memanggil seorang siswa yang tidak ikut latihan senam saat hari Sabtu. Rio namanya. Aku menegaskan bahwa tindakannya bisa menghambat kelas 7G. Aku memintanya berdiri di depan kelas selama satu jam pelajaran. Ini satu hukuman klasik yang tidak terlalu berat tapi tak bisa dianggap ringan. Saya akan lihat, apakah Sabtu depan akan ada lagi siswa kelas 7G yang mangkir dari latihan senam di kelas.
Dalam hal kedisiplinan, saya ingat seorang nama, Greendolo. Dia adalah pelatih upacara para peserta latsar angkatan 20. Saya ingat bagaimana dia dengan santai memanggil para peserta yang belum potong rambut 1 cm ke depan kelas. Dia tidak marah. Dia hanya dengan tegas menegakkan kedisiplinan. Nyatanya, meski terlihat keras hasilnya bagus. Kami pasti mengingat namanya. Dan, kami juga mengingat hukumannya. Tapi, kami jadi lebih disiplin dan lebih waspada. Mungkin memang benar, yang lebih penting pertama kali adalah ditakuti, bukan dicintai. Aku akan mengupayakannya. Bukan tahun depan. Tapi hari ini.
Aku melanjutkan kelasku dengan ulangan harian materi teks berita. Satu kekuranganku yang perlu segera kuperbaiki adalah membiarkan siswa mengobrol santai saat mereka mengerjakan kertas ulangan harian mereka. Aku perlu segera mencari tahu bagaimana menghilangkan kebiasaan ini. Mungkin, aku perlu tegaskan di awal bahwa siapa yang mengobrol akan dapat sanksi.
Sebentar lagi aku harus masuk ke kelas 7J. Aku harus melakukan persiapan. Ya, begitulah seharusnya.
Komentar
Posting Komentar