Langsung ke konten utama

Hari yang Memuaskan

Jumat, 16 Januari 2026

Ini adalah hari yang cukup memuaskan buatku. Aku menghabiskan waktu pagiku bermain bersama Nabil di atap rumah. Nabil sangat antusias kuajak bermain di atap rumah. Dia bahkan mendahuluiku naik tangga di samping TV yang menuju ke atap rumah. Dia tidak takut lagi naik ke genteng rumah, lalu main perosotan di sana. Ada air menggenangi talang di antara pertemuan ujung genting rumah kami dan rumah tetangga. Nabil main air itu. Dengan tangannya yang mungil, dia mengalirkan air itu ke lubang buangan. Dia tertawa sambil bilang mili mili mili. Dia paham kosakata banyu dan air sekaligus. Ya, aku akan terus mengajarkan banyak kosakata bahasa Indonesia sementara Ibunya atau Mbahnya mengajarkan kosakata bahasa Jawa. Aku menyiramkan air di jerigen yang kukumpulkan dari air hujan untuk pelicin genting agar Nabil bisa main perosotan di sana. Setelah puas main perosotan, Nabil kuajak main arang sisa kami nyate di malam tahun baru. Aku mengajarinya mencoret-coret tembok dengan arang. Dia mampu membuat kotak dengan sengaja. Hasilnya cukup bagus. Dia membuat truk jungkat dengan bentuk sesuai imajinasinya. Aku menggambar dan membuat beberapa huruf dan memintanya menirukan. Namun, dia belum mau menirukan dan lebih fokus mencoret-coret tembok sesuka hatinya. Aku menuliskan 

BAPAK 

NABIL 

dan memintanya membaca huruf demi huruf. Dia sebenarnya mampu membaca huruf-huruf itu dengan benar. Namun, saat ini dia sangat fokus bermain sehingga aktivitas yang baginya tidak menyenangkan akan mudah dia tinggalkan. Aku juga mengajarinya mencoret-coret tembok dengan memakai pecahan genteng. Warna oren segera menghiasi dinding atas dekat jemuran. Dia senang sekali bisa mencoret-coret dinding dengan arang dan genting. Hari ini, aku mengenalkan dua kosakata baru, yaitu arang dan genting kepada Nabil. Aku akan terus mengenalkan banyak kosakata kepadanya untuk membantu tumbuh kembangnya dalam bidang bahasa. Sementara kami bermain, ibunya menyiapkan air hangat untuk dia mandi. Dia sebenarnya enggan mandi karena masih sangat asyik bermain. Tapi, aku turun dan dia mengikutiku turun hingga akhirnya dia mau mandi. Setelah dia mandi, giliran aku mandi. Kami sarapan pagi. Dia disuapi ibunya. Dia makan nasi dan ayam sementara aku makan ikan lele sisa MBG yang sudah sedikit alot. Setelah mandi, aku mengajaknya jalan-jalan. Kami lewat jalan samping garasi, turun melewati tanjakan kecil di samping kolam ikan. Aku memintanya memilih arah, apakah ke kiri atau kanan. Ke kiri arah menuju masjid sementara ke kanan arah menuju warung yang di sana dia biasa beli es krim. Rupanya, dia lebih memilih arah kanan. Kami berjalan pelan menuruni jalan raya. Aku pakai kaos merah maroon dan celana pendek. Nabil memakai kaos pendek dan celana panjang. Kami melewati warung penjual es krim. Kami mendengar suara dari speaker penjual bakpao sehingga Nabil minta beli bakpao. Aku tidak menolaknya. Aku ajak dia "mengejar" penjual bakpao itu. Yang kumaksud mengejar adalah jalan santai sambil memanggil si penjual bakpao itu. Tentu saja, aku meminta Nabil untuk berteriak namun tentu tak pernah terdengar si penjual bakpao. Kami terus berjalan hingga melewati pangkalan ojek dan sampai di jalan dekat kuburan. Di sana, ada sebuah truk yang baknya meneteskan air. Nabil menunjuk truk itu sambil berkata padaku "Truk bocor! truk bocor! truk bocor!" Dia sudah tahu kosakata bocor karena rumah kami sering bocor kalau hujan deras. Kami berhenti sejenak untuk melihat truk itu. Nabil suka sekali truk. Setelah puas melihat truk, kami berjalan lewat jalan di pinggir kuburan. Di sana ada jalan yanh amblas. Aku memgajarkan kosa kata amblas kepada Nabil dan dia dengan cepat mengerti. Namun, karena frekuensi pengucapannya yang jarang, dia tidak ingat kata ini saat ditanya oleh ibunya. Kami tetap berjalan hingga sampai di tikungan dekat penjual bemsin eceran dan aku memutuskan untuk kembali. Kami membeli es krim seharga lima ribuan. Aku beli yang rasa coklat. Kami pulang lewat jalan yang berbeda. Kami lewat Samping rumah Rotik, Wahyu, dan Eza. Kami melihat ikan besar warna oren di kolam besar. Kami melihat jeruk besar yang menggantung di tangkai-tangkainya. Kami melihat durian-durian yang sangat menggiurkan. Kami berjalan pelan lewat jalan sempit yang sedikit menanjak dekat rumah Pak Warno. Dia menyangka aku salah jalan. Dia mengeluh  capek dan kakinya sakit. Tapi aku tetap membiarkannya berjalan sendiri tanpa kugendong. Aku memelankan langkahku sehingga dia bisa jalan lebih lambat. Dia sangat jarang berjalan cukup jauh sehingga aku sedikit khawatir kalau dia kurang bergerak. Makanya, aku ajak dia jalan-jalan dengan rute yang agak jauh. Dia langsung memakan es krimnya begitu samlai rumah. Separuhnya dia taruh di kulkas. "Buat besok," kaytanya. Namun, aku ambil es krim itu dan memintanya. Awalnya, dia tidak mengizinkan, namun karena rasanya coklat dan dia tidak begitu suka, akhirnya dia mengizinkan aku untuk memakannya. Setelah dia bermain cukup lama, dia tidur siang sementara aku melaksanakan solat Jumat. Ini hari yang memuaskan secara batin. Aku berhasil banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan Nabil hari ini. Ini membuatku puas. Ada kelegaan dan ketenangan yang kudapatkan dengan bermain dengan Nabil. Dan, yang terpenting adalah aku membantunya mengembangkan kemampuan berbahasanya dan sekaligus mencukupi kebutuhan interaksinya dengan orang di sekitarnya. Setelah solat Jumat, aku melanjutkan hariku dengan merapikan pralon-pralon yang berserakan di garasi. Aku mengikatnya menjadi satu dan menggantungnya di bawah lantai kayu garasi. Sore hari, aku jalan-jalan bersama Nabil dan istriku membeli kebab dan beberapa keperluan perbaikan lampu garasi. Sore ini, Nabil kuminta berdiri di bagian depan. Ini kali pertama Nabil membonceng motor di bagian depan. Dia berdiri dan berpwgangan tangkai spion. Dia tidak takut lagi berdiri di sana dan malah sangat senang. Dia bahkan sedikit melompat-lompat di sana hingga aku agak kesulitan. Kami lewat Wambing, lanjut membeli kebab di krandegan, memutari samping alun-alun, kemudian menuju arah stadion sepak bola sebelum akhirnya kembali lewat jalan depan Kantor Samsat. Di rumah, Nabil memakan kebab yang kami beli dengan lahap meskipun karena mungkin sudah bosan, dia tidak menghabiskannya. Setelah maghrib istriku memesan nasi goreng di warung nasgor langganan kami. Saat penjualnya sudah mengabari pesanan kami selesai, hujan deras turun. Aku sebenarnya malas mengambil pesanan nasi goreng kami. Tapi, karena sudah terlanjur dibuatkan, terpaksa kuambil juga meskipun harus menembus hujan. Kami makan nasi goreng bersama-sama. Bisa dibilang ini adalah salah satu kebahagiaan atau momen yang pastinya akan sangat kurindukan kelak. Ini adalah momen kecil namun membahagiakan. Ini adalah salah sati momen yang harus sangat aku syukuri. Aku bisa menikmati nasi goreng bersama keluarga kecilku. Tak lama, Nabil dan istriku tidur sementara aku menonton kanal-kanal YouTube yang berisi konten-konten pertanian. Aku tidur cukup larut dan mungkin itu mempengaruhi kesehatanku. Hari berikutnya, aku sedikit meler di sekolah. Namun, ini adalah hari yang patut aku syukuri. Aku menikmati hari-hariku bersama keluarga. Sungguh mungkin ini sederhana, tapi aku sangat yakin ada banyak orang yang saat ini hanya bisa mengangan-angankan bisa berkumpul dengan keluarga. Aku harus sangat-sangat bersyukur atas hal ini. 

Aku tidak tahu apakah nasibku ini lebih beruntung atau justru lebih sial dari adikku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...