Langsung ke konten utama

Latsar Klasikal di BDK Semarang - Perjalanan Nostalgia


Entah mengapa aku ingin merekam momen ini dalam sebuah tulisan. Momen latsar CPNS klasikal di BDK Semarang ini rasanya membawaku bernostalgia menjadi seorang yang seperti anak SMA. Ada panitia yang merancang kegiatan untuk kulakukan. Aku sebagai pesertanya. Memang menegangkan saat aku melakukan kesalahan dan menunggu sanksi apa yang akan aku terima. Namun, di sisi lain, aku tak memikirkan harus berbuat apa. Mungkin ini soal tanggung jawab. Tanggung jawab menjadi peserta berbeda dengan tanggung jawab menjadi panitia. 

Menjadi peserta terasa lebih ringan sebab aku hanya bertanggung jawab kepada diriku sendiri. Aku tidak perlu terlalu memikirkan apa yang harus kuberikan kepada orang lain. Berbeda saat menjadi panitia, tanggung jawabku adalah kepada diriku sendiri dan kepada orang lain. Mungkin ini juga yang kurasakan sebagai seorang guru. Sebagai seorang guru, tanggung jawabku yang paling utama adalah kepada siswa. Artinya, aku harus menyiapkan yang terbaik untuk mereka. Ini mungkin yang membuat seperti ada beban mental yang mengendap di pundakku. Baik, sepertinya ini sudah melenceng terlalu jauh. Mari kita kembali lagi ke latsar CPNS.

Kamu berangkat dari rumah sore hari dengan menggunakan jasa travel. Kamu berangkat bersama dua orang teman yaitu Dicky dan Ani. Mereka bekerja di KUA. Dicky Sebagai penghulu sedangkan Ani sebagai penyuluh agama.

Mobil hitam parkir di samping masjid baiturrohmah. Istri, anak, dan ibu mertua mengantarku ke pinggir jalan. Aku membawa sebuah koper jinjing dan sebuah tas punggung serta sekeresek jajan. Kukira aku akan muak dengan bau bagian dalam mobil. Tapi, nyatanya tidak. Saat sopir membuka pintu dan aku masuk ke dalam, udaranya segar tanpa bau mobil khas yang seringkali membuatku mual. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikan bau ini. Apakah orang lain juga menganggap bau khas ini sebagai bau yang membuat mual? Aku benar-benar tak menyukai bau khas ini.Untunglah mobil yang kupakai ini tidak mengeluarkan bau khas ini.

Kamu masih ingat, bahwa kamu berjanji pada dirimu sendiri untuk tampil tak seperti dirimu yang biasanya. Kamu ingin lebih aktif mengajak orang lain berbicara. Kamu ingin lebih aktif menikmati momen pembicaraan. Kamu ingin mengobrol.

Mobil melaju kencang. Pengalaman tak bisa bohong. Sopir travel yang membawamu mengendarai mobil dengan cepat dengan kesiagaan tinggi. Dicky mengawali obrolan; menanyakan berbagai hal yang dulu selalu kamu anggap hanya basa-basi semata. Khas percakapan yang akan hilang begitu pertemuan selesai dan perpisahan datang. Namun, kamu menanggapi dengan antusias sebab kamu sudah berjanji untuk menjadi dirimu yang lain. Dan, ternyata kamu menikmatinya.

Banjarnegara, Wonosobo, Kertek. Mobil melaju dengan kencang. Kamu teringat sebuah cerpen karya Seno Gumira Adjidarma “Khayalan dari Dalam Bis yang Meluncur”. Kalau tidak salah, begitu judulnya. Mobil lewat jalan alternatif yang biasa kamu lalui jika bepergian ke Semarang, membawamu bernostalgia. Semakin malam semakin dingin. Kamu mamakai jaket coklat dan masker sekali pakai; kedinginan di dalam mobil. Kalian berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan salat maghrib.

Rute yang selalu terkenang dalam ingatan adalah puncak Sumowono yang berkabut. Rasanya seperti sedang menembus alam lain saat kamu melewatinya. Mobil melaju pelan menembus kabut. Suara gesekan roda dan permukaan aspal begitu merdu.

Kamu tak bisa tertidur di dalam mobil meski sudah mencoba sekuat tenaga. Sampai di BDK, kamu tetap tak bisa tidur. Parkiran BDK ternyata sangat luas. Jika kamu membawa motor sendiri, niscaya itu aman-aman saja. Namun, rasanya kamu sudah tak nyaman berkendara jauh sendirian. Untunglah ada teman yang menawarkan berangkat bareng.

Hari pertama di BDK semarang adalah pemaparan jadwal kegiatan dan penyampaian tata tertib. Beberapa peserta yang tidak mematuhi aturan, seperti rambut yang masih panjang dipanggil ke depan. Rasanya seperti masa-masa SMA. Mereka diminta memotong rambut mereka saat itu juga dengan ukuran 1 cm. Aturan makan bersama disampaikan. Kami terkoneksi di acara makan ini. Wanita hamil didahlukan. Disusul kemudian para wanita. Baru laki-laki yang relatif makan lebih banyak dari para wanita.

Saat kedatanganmu ke asrama, kamu membawa koper dengan menjinjingnya, alih-alih menyeretnya. Kamu berjalan dengan ragu. Para peserta yang telah datang lebih dulu sedang mengobrol di depan kamar masing-masing. Kelompok 1 yang merupakan kelompokku ternyata tengah berkompul tepat di depan kamar asramaku. Kamu segera mengenali Arif dan Artado. Mereka ternyata amat berbeda dengan apa yang ada dalam bayanganku. Mungkin karena aku hanya pernah bertemu mereka via aplikasi zoom.

Kamu akan berusaha mengingat mereka

Artado

Ahmad Insanu Khilmi

Arif Hidayatulloh

Faisal Rifai

Faiz Uridunnaja

Kamu sendiri

Ertin Aini Farhatin

Ayu Ambar sari

Diah Prima Wijayanti

Eko Ferdian

Kami mengobrol sampai malam menjelang. Jajan yang kamu bawa dari rumah kamu keluarkan dari kamar. Kamu hanya menyisakan jeruk dan kripik tempe. Kamu tidak menyangka, meski baru kali pertama bertemu dengan mereka, kalian bisa langsung akrab dan saling bercanda. Ada satu orang yang memungkinkan ini terjadi. Dialah Faiz. Dia seperti Eko teman MAN mu atau Rohis rekan kerja dan sekaligus gurumu di MAN.

Kalian akrab karena telah sering bertemu muka di zoom. Mereka menganggap tampilan di zoom sangat berbeda dengan tampilan asli. Dan, memang benar.

Hari kedua adalah hari presentasi laporan. Kami angkatan XX khusus laki-laki tanpa terkecuali mendapat hukuman setengah jongkok sebab terlambat masuk lapangan apel. Lutut gemetar menahan beban berat badan. Tapi ini asik. Ini seperti membayangkan diriku adalah siswa dan beginilah rasanya menjadi siswa.

Seminar tak berjalan lancar pada awalnya, penguji datang terlambat, listrik mati, tak hafal doa kunut, kolong pengesahan yang ditulis manual, teman kamar yang tak percaya diri. Semuanya benar-benar sangat terasa dan berkesan.

Teman sekamar? Mengapa dia bisa jadi guru? Bagaimana dia berbicara di depan siswa-siswanya? Dia benar-benar pemalu dan tak percaya diri. Entahlah. Dia meminta saran-saran tentang jodoh kepadamu. Ya, seperti apa dia sekarang? Apakah dia sukses dengan jalan cintanya?

Pembicara Pak Toha, meski sering menggunakan candaan-candaan yang berbau seks, tapi dia pembicara yang hebat. Dia mempu mempertahankan perhatian penonton selama hampir dua jam. Luar biasa. Apa yang bisa kamu pelajari darinnya. Entah. Kamu tak mengambil apapun selain bahwa itu pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkannya.

Kamu juga seorang pembicara. Apa yang bisa kamu pelajari darinya? Apa? Semangat? Tak cukup. Kamu harus punya humor yang segar. Jika tidak, matilah kamu.

Ayam utuh yang kamu bawa pulang ternyata basi. Kamu tak habis pikir, mengapa panitia memberimu ayam goreng utuh tanpa nasi. Apa konsep yang hendak mereka tawarkan?

Kamu pulang lewat jalan yang dulu pertama kali kamu lalui menggunakan motor saat ke Semarang. Rasanya benar-benar sangat bernostalgia. Kamu masih ingat sebagian besar jalannya. Mampir di toko oleh-oleh dan mampir makan di warteg dengan masakan yang enak. Lewat temangung kota. Namun, kamu tak berhasil menemukan jalan yang sama persis yang pernah kamu lewati.

Kamu duduk di tengah dalam perjalanan pulang. Penumpang bertambah satu lagi. Seorang perempuan.

Kamu sampai menjelang sore. Capek. Namun kamu menikmatinya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya, Kamu itu Tidak Penting, Maka Jangan Sok Penting!

Sabtu, 04 April 2026 Aku ingin kembali menulis tentang apa saja yang kualami. Hari ini, setelah kemarin libur Wafat Isa Aal Masih, aku kembali harus menjalankan tugasku sebagai seorang ASN. Seperti biasa, aku berangkat pagi. Kali ini rasanya lebih ringan dari hari-hari lain sebelumnya. Aku bahkan berangkat lebih pagi beberapa menit dari biasanya. Aku tidak memakai kacamata saat perjalanan ke madrasah. Aku sampai di madrasah dan presensi muka serta presensi di aplikasi pusaka. Acaraku hari ini adalah mengikuti istighosah di lapangan indoor untuk mendoakan siswa kelas IX yang akan mengikuti TKA. Acara dijadwalkan pukul 08.00. Ada waktu satu jam sambil menunggu acara dimulai. Biasanya, waktu tanggung seperti ini tidak akan aku manfaatkan untuk membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaanku. Biasanya, aku akan merasa sungkan dan takut dianggap sok rajin. Namun, aku teringat satu perkataan Ryu Hasan bahwa banyak orang sebenarnya merasa dirinya penting, meski sebenarnya tidak. Perkataan...

Obsesi Pada Kebersihan

Kamu punya laptop samsung dengan penyimpanan internal cukup besar, setidaknya bagimu. Ada dua bahkan. Namun, dua penyimpanan itu tak pernah terisi sampai penuh. Dari dulu kamu seperti itu, belum sampai setengah penuh saja kamu sudah gatal ingin menghapus file-file di dalamnya. Memilih dan memilah file-file yang berpotensi tak berguna lagi, kemudian menghapusnya agar ruang penyimpanan di laptopmu selalu longgar telah menjadi kebiasaanmu. Setiap kali akan mengerjakan tugas dan harus membuka laptop, kamu sering tergoda untuk membuang file-file di sana. Akibatnya kamu butuh waktu lebih lama mempersiapkan tugas-tugas yang akan kamu kerjakan. Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap ruang penyimpanan di HPmu. Foto-foto, video, dan filefile di sana sering sekali kamu buang. Kamu lebih sering melakukan penghapusan file di HP karena HP adalah perangkat yang lebih sering kamu bawa ke mana-mana. Waktu yang dihabiskan untuk membersihkan HPmu juga menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan lap...

Pengaruh Masa Kecil

Senin, 12 Januari 2026 Senin ini cukup panjang. Aku upacara bendera, mengajar di kelas 7G dan di kelas 7J. Aku pulang cepat hari ini. Tepatnya, pulang sesuai jam kerja. Aku mampir ke rumah ibuku di Rakitan untuk menabung. Di sana, aku makan bekal makan siangku. Ibu masak busil atau keladi dengan campuran daun so dengan santan kental yang pedas. Dulu aku tak suka masakan seperti ini. Tapi, entah mengapa sekarang aku suka sekali masakan-masakan yang bahan bakunya diambil ibuku dari kebun. Seperti masakan ini. Aku makan dengan lahap. Rasa lapar dan pedas masakan membuatku makan dengan nikmat. Ibuku sedang memetiki daun singkong yang muda-muda. Memisahkan daun dari tangkainya. Tangkai-tangkai itu nantinya dipotong kecil-kecil untuk pakan marmut atau kelinci sementara daunnya ia masak untuk keluarga. Aku sangat suka daun singkong yang dimasak pelas. Masak pelas ini adalah daun singkong yang dimasak dengan parutan kelapa dan ditambah kencur untuk memunculkan rasa segar. Semakin hari, aku sem...