Menjadi
peserta terasa lebih ringan sebab aku hanya bertanggung jawab kepada diriku
sendiri. Aku tidak perlu terlalu memikirkan apa yang harus kuberikan kepada
orang lain. Berbeda saat menjadi panitia, tanggung jawabku adalah kepada diriku
sendiri dan kepada orang lain. Mungkin ini juga yang kurasakan sebagai seorang
guru. Sebagai seorang guru, tanggung jawabku yang paling utama adalah kepada
siswa. Artinya, aku harus menyiapkan yang terbaik untuk mereka. Ini mungkin
yang membuat seperti ada beban mental yang mengendap di pundakku. Baik,
sepertinya ini sudah melenceng terlalu jauh. Mari kita kembali lagi ke latsar
CPNS.
Kamu berangkat dari rumah sore hari dengan menggunakan jasa travel. Kamu
berangkat bersama dua orang teman yaitu Dicky dan Ani. Mereka bekerja di KUA. Dicky
Sebagai penghulu sedangkan Ani sebagai penyuluh agama.
Mobil hitam parkir di samping masjid baiturrohmah. Istri, anak, dan ibu
mertua mengantarku ke pinggir jalan. Aku membawa sebuah koper jinjing dan
sebuah tas punggung serta sekeresek jajan. Kukira aku akan muak dengan bau bagian
dalam mobil. Tapi, nyatanya tidak. Saat sopir membuka pintu dan aku masuk ke
dalam, udaranya segar tanpa bau mobil khas yang seringkali membuatku mual. Aku
tidak tahu bagaimana mendeskripsikan bau ini. Apakah orang lain juga menganggap
bau khas ini sebagai bau yang membuat mual? Aku benar-benar tak menyukai bau
khas ini.Untunglah mobil yang kupakai ini tidak mengeluarkan bau khas ini.
Kamu masih ingat, bahwa kamu berjanji pada dirimu sendiri untuk tampil tak
seperti dirimu yang biasanya. Kamu ingin lebih aktif mengajak orang lain
berbicara. Kamu ingin lebih aktif menikmati momen pembicaraan. Kamu ingin
mengobrol.
Mobil melaju kencang. Pengalaman tak bisa bohong. Sopir travel yang membawamu
mengendarai mobil dengan cepat dengan kesiagaan tinggi. Dicky mengawali obrolan;
menanyakan berbagai hal yang dulu selalu kamu anggap hanya basa-basi semata. Khas
percakapan yang akan hilang begitu pertemuan selesai dan perpisahan datang.
Namun, kamu menanggapi dengan antusias sebab kamu sudah berjanji untuk menjadi
dirimu yang lain. Dan, ternyata kamu menikmatinya.
Banjarnegara, Wonosobo, Kertek. Mobil melaju dengan kencang. Kamu teringat
sebuah cerpen karya Seno Gumira Adjidarma “Khayalan dari Dalam Bis yang
Meluncur”. Kalau tidak salah, begitu judulnya. Mobil lewat jalan alternatif
yang biasa kamu lalui jika bepergian ke Semarang, membawamu bernostalgia.
Semakin malam semakin dingin. Kamu mamakai jaket coklat dan masker sekali pakai;
kedinginan di dalam mobil. Kalian berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan
salat maghrib.
Rute yang selalu terkenang dalam ingatan adalah puncak Sumowono yang
berkabut. Rasanya seperti sedang menembus alam lain saat kamu melewatinya.
Mobil melaju pelan menembus kabut. Suara gesekan roda dan permukaan aspal
begitu merdu.
Kamu tak bisa tertidur di dalam mobil meski sudah mencoba sekuat tenaga. Sampai
di BDK, kamu tetap tak bisa tidur. Parkiran BDK ternyata sangat luas. Jika kamu
membawa motor sendiri, niscaya itu aman-aman saja. Namun, rasanya kamu sudah
tak nyaman berkendara jauh sendirian. Untunglah ada teman yang menawarkan
berangkat bareng.
Hari pertama di BDK semarang adalah pemaparan jadwal kegiatan dan
penyampaian tata tertib. Beberapa peserta yang tidak mematuhi aturan, seperti
rambut yang masih panjang dipanggil ke depan. Rasanya seperti masa-masa SMA.
Mereka diminta memotong rambut mereka saat itu juga dengan ukuran 1 cm. Aturan
makan bersama disampaikan. Kami terkoneksi di acara makan ini. Wanita hamil
didahlukan. Disusul kemudian para wanita. Baru laki-laki yang relatif makan
lebih banyak dari para wanita.
Saat kedatanganmu ke asrama, kamu membawa koper dengan menjinjingnya,
alih-alih menyeretnya. Kamu berjalan dengan ragu. Para peserta yang telah
datang lebih dulu sedang mengobrol di depan kamar masing-masing. Kelompok 1
yang merupakan kelompokku ternyata tengah berkompul tepat di depan kamar
asramaku. Kamu segera mengenali Arif dan Artado. Mereka ternyata amat berbeda
dengan apa yang ada dalam bayanganku. Mungkin karena aku hanya pernah bertemu
mereka via aplikasi zoom.
Kamu akan berusaha mengingat mereka
Artado
Ahmad Insanu Khilmi
Arif Hidayatulloh
Faisal Rifai
Faiz Uridunnaja
Kamu sendiri
Ertin Aini Farhatin
Ayu Ambar sari
Diah Prima Wijayanti
Eko Ferdian
Kami mengobrol sampai malam menjelang. Jajan yang kamu bawa dari rumah kamu
keluarkan dari kamar. Kamu hanya menyisakan jeruk dan kripik tempe. Kamu tidak
menyangka, meski baru kali pertama bertemu dengan mereka, kalian bisa langsung
akrab dan saling bercanda. Ada satu orang yang memungkinkan ini terjadi. Dialah
Faiz. Dia seperti Eko teman MAN mu atau Rohis rekan kerja dan sekaligus gurumu
di MAN.
Kalian akrab karena telah sering bertemu muka di zoom. Mereka menganggap
tampilan di zoom sangat berbeda dengan tampilan asli. Dan, memang benar.
Hari kedua adalah hari presentasi laporan. Kami angkatan XX khusus
laki-laki tanpa terkecuali mendapat hukuman setengah jongkok sebab terlambat masuk
lapangan apel. Lutut gemetar menahan beban berat badan. Tapi ini asik. Ini
seperti membayangkan diriku adalah siswa dan beginilah rasanya menjadi siswa.
Seminar tak berjalan lancar pada awalnya, penguji datang terlambat, listrik
mati, tak hafal doa kunut, kolong pengesahan yang ditulis manual, teman kamar yang
tak percaya diri. Semuanya benar-benar sangat terasa dan berkesan.
Teman sekamar? Mengapa dia bisa jadi guru? Bagaimana dia berbicara di depan
siswa-siswanya? Dia benar-benar pemalu dan tak percaya diri. Entahlah. Dia
meminta saran-saran tentang jodoh kepadamu. Ya, seperti apa dia sekarang?
Apakah dia sukses dengan jalan cintanya?
Pembicara Pak Toha, meski sering menggunakan candaan-candaan yang berbau
seks, tapi dia pembicara yang hebat. Dia mempu mempertahankan perhatian penonton
selama hampir dua jam. Luar biasa. Apa yang bisa kamu pelajari darinnya. Entah.
Kamu tak mengambil apapun selain bahwa itu pasti membutuhkan waktu yang lama
untuk mengembangkannya.
Kamu juga seorang pembicara. Apa yang bisa kamu pelajari darinya? Apa? Semangat?
Tak cukup. Kamu harus punya humor yang segar. Jika tidak, matilah kamu.
Ayam utuh yang kamu bawa pulang ternyata basi. Kamu tak habis pikir,
mengapa panitia memberimu ayam goreng utuh tanpa nasi. Apa konsep yang hendak
mereka tawarkan?
Kamu pulang lewat jalan yang dulu pertama kali kamu lalui menggunakan motor
saat ke Semarang. Rasanya benar-benar sangat bernostalgia. Kamu masih ingat
sebagian besar jalannya. Mampir di toko oleh-oleh dan mampir makan di warteg
dengan masakan yang enak. Lewat temangung kota. Namun, kamu tak berhasil
menemukan jalan yang sama persis yang pernah kamu lewati.
Kamu duduk di tengah dalam perjalanan pulang. Penumpang bertambah satu
lagi. Seorang perempuan.
Kamu sampai menjelang sore. Capek. Namun kamu menikmatinya.

Komentar
Posting Komentar