Sabtu, 19 September 2026, aku mengikuti kegiatan Jumbara PMR di SMA N 1 Wanadadi. Rombongan PMR dari MTs N 2 Banjarnegara berangkat naik angkot. Angkotnya penuh sesak dengan barang bawaan peserta dan tentunya pesertanya. Aku mengikuti angkot itu karena ada beberapa tas yang diletakkan di atas angkot. Aku mengikutinya kalau-kalau ada tas yang jatuh dan aku bisa mengambilnya. Angkot itu sempat salah belok di pasar wanadadi.
Sampai di SMA N Wanadadi, rasanya tubuhku pegal-pegal. Sepertinya, aku kurang tidur tadi malam. Kakiku sangat pegal dan rasanya aku ingin tidur. Di sini udaranya cenderung panas. Aku banyak berkeringat dan kehilangan banyak cairan tubuh. Home stay kami di dekat perempatan tapen. Jaraknya sekitar 200 meter dari SMA N 1 Wanadadi.
Aku membimbing tiga anak dalam cabang uji wawasan kepalangmerahan. Ketiganya siswa yang cerdas. Mereka relatif mudah menyerap penjelasan yang kuberikan maupun materi dari buku. Kami bersiap di depan ruang lomba. Peserta lainnya mulai berdatangan dan bagian depan ruang lomba mulai penuh sesak orang-orang. Kami mengantri untuk mengisi daftar hadir lomba. Setelah itu, kami masuk dan mencari tempat duduk kami yang entah di mana. Puluhan peserta lain sama saja dengan kami. Mereka juga mencari tempat duduk masing-masing.
Aku duduk di lantai dua sambil menyaksikan para PMR Madya berlatih menyanyikan mars PMR. SMA N 1 ini lumayan luas ternyata. Bangunannya khas sekolah negeri. Ada satu lapangan terbuka yang menjadi pusat kegiatan kali ini. Di pinggiran lapangan ada banyak pohon buah yang cukup tinggi. Ada pohon palem, kelapa, durian, sampai pohon yang mirip duku. Ada pula pohon cemara yang telah ditebang setengahnya. Pohon kelengkeng mungkin pohon yang paling banyak ditanam di sini. Beberapa bahkan sedang berbunga dan tampak akan berbuah.
Di bawahku, anak-anak sedang berlatih menyanyi mars PMI. Tiba-tiba salah satu peserta latihan pingsan yang segera ditandu menuju ruang perawatan. Dari atas sini semuanya terlihat jelas. Aku bisa melihat komandan upacara dengan langkah tegapnya. Pembawa teks Pancasila berdiri tegak. Gerombolan siswa memakai rompi PMR dan topi berwarna cerah berjalan kesana-kemari dengan kesibukan mereka masing-masing.
Angin bertiup cukup kencang di atas sini dan membuatku lumayan mengantuk. Ini sangat nyaman.
Aku sempat mampir ke masjid sekolah ini dan tidur di pojokan. Meski tidak bisa tidur nyenyak, tapi itu lumayan meringankan pegal-pegal di kakiku. Sebenarnya, aku sudah sangat ingin pulang, mandi air hangat, lalu tidur. Hari Sabtuku sudah terampas dan besok Mingguku yang akan terampas juga. Lalu akan tibalah Senin yang menanjak itu. Haha. Kenapa aku memikirkan ini?
Minggu, 20 September 2026
Aku berangkat dari rumah sangat pagi. Kupacu motorku di jalan raya yang masih dingin. Kondisi udaranya masih sejuk dan tidak terlalu banyak polusi. Aku memacu motorku sampai kecepatan 60 km/jam. Itu adalah batas kecepatan maksimal yang saya tetapkan untuk berkendara. Aku merasa kembali ke tahun 2019-an saat aku masih sering pulang pergi Banjarnegara-Semarang. Biasanya aku berangkat sangat pagi agar bisa bimbingan skripsi dengan Bu Nas Haryati. Itu pengalaman yang tak akan terlupakan. Suasana pagi hari yang dingin sambil menunggu kehangatan matahari muncul dari balik gunung.
Aku mengambil beberapa foto anak-anak yang sedang senam. Setelah itu, aku berjemur di pinggir lapangan sambil menonton anak-anak yang sedang berkegiatan. Namun, ini masih terlalu pagi sehingga mataharinya tak begitu terasa hangatnya di tubuhku.
Anak-anak menginap di rumah warga. Di samping rumah itu kulihat ada tempat penyemaian tanaman sirih. Tempat itu dibuat menggunakan plastik bening tepat di samping dinding. Embun-embun kecil menetes di plastik itu memberi kelembapan yang dibutuhkan tanaman sirih di sana.
Komentar
Posting Komentar